A A

Jam sudah menunjukan pukul delapan malam ketika aku sampai ke rumah.

Selepas berbelanja beberapa pakaian yang semuanya milik ku, kami sekeluarga lebih dulu mampir ke restoran untuk take away makanan.

Sebenarnya aku ingin makan di tempat, namun Mama yang merengek karena ingin segera pulang membuat ku mengalah dan mengiyakan permintaan Mama.

Papa yang sudah melihat raut wajah kelelahan sang istri pun juga turut mengiyakan ajakan pulang Mama.

"Nih sayang belanjaan kamu, di simpan baik-baik dan jangan lupa di pakai ya" Mama menyerahkan satu kantong belanjaaan yang tadi di pegangnya.

"Makasih Mama. Nanti kapan-kapan aku pakai kok."

"Nggak usah kapan-kapan, setelah ini kamu mandi terus pakai salah satu baju yang tadi kita beli." Ucap Mama yang sontak membuat aku dan Papa membulatkan mata.

"Nggak ada penolakan. Mama maksa." Timpal Mama ketika melihat putrinya ingin mengeluarkan suara.

"Papa, bantu Ira buat bawa belanjaannya ke kamar. Abis itu kita semua makan malam, biar Mama siapkan makanannya dulu."

Setelah memberikan ultimatum, Mama segera meninggalkan suami dan anaknya dengan kikikan geli di wajah.

"Ayo sayang, Papa bantu ke atas." Papa mengambil alih empat kantong belanja yang sedang ku pegang. Membuatnya membawa keseluruhan kantong belanja yang isinya baju-baju tak senonoh.

"Emmm makasih Pa." Aku berucap setelah Papa meletakkan delapan kantong belanja milik ku di atas kasur.

Papa menatap mata anak gadisnya lalu tanpa bisa di rem, Papa dengan kurang ajar berkata, "Jangan lupa turutin perintah Mama tadi."

Aku bergidik mendengar suara Papa yang tiba-tiba memberat dan serak.

Lalu melirik ke wajah Papa yang sedang menatapnya dengan pandangan yang tak ku mengerti.

"Iya Papa."

Mendengar jawaban ku Papa tanpa suara langsung membalikan badan dan keluar dari kamarku.

Huftt, gila jantung gue.

Papa kenapa natep gue gitu banget si.

Aku bergumam pelan sambil mengelus dada sendiri.

Namun seketika wajah ku memerah ketika mendengar ucapan Papa tadi.

Apakah Papa ingin melihat aku pakai baju seksi pembelian Mama?

Kalo begitu ayo kita pilih-pilih dulu yang mana yang sekiranya cocok.

Setelah mengeluarkan semua hasil belanjaan ku hari ini, aku seketika membulatkan mata.

Astaga kenapa baju-baju ini benar-benar kurang bahan? Aku mengangga ketika tanganku memegang sebuah lingerie transparan yang dirasa hanya menutupi p3 ,, nt ,, 1l p4 ,, yud4 ,, r4 dan v4 ,, g1 ,, n4 depan ku saja.

Apa-apaan ini, perasaan aku tadi tidak memilih lingerie ini? Lalu kenapa ada di kantong belanja? Apa mama beli ini buatnya sendiri?

Aku mengigit bibir ketika tiba-tiba aku membayangkan keluar kamar menggunakan baju haram yang satu ini.

Badan ku seketika meremang memikirkan tubuh seksi ku akan terumbar di depan mata Papa.

No no no. Jangan pake yang ini. Nanti kesannya lo kaya jalang kurang belaian Ira.

Ira berucap dalam hati lalu dengan segera menghempaskan lingerie yang tadi di pegangnya.

Setelah mencocokan di depan cermin satu-persatu lingerie yang tadi aku beli, aku memutuskan untuk menggunakan lingerie berwarna merah menyala.

Karena menurut ku hanya ini satu-satunya lingerie yang terlihat lebih sopan dari pada yang lain.

Walaupun tetap saja, nanti paha dan juga dadanya akan terumbar dilihat Mama dan Papa.

Setelah selesai mandi dan memakai baju kurang bahan itu aku berdiri di depan cermin rias, meneliti penampilan ku dari atas sampai bawah.

Menuruti perkataan Mama yang tidak memperbolehkan ku pakai bra ketika mau tidur, jadilah aku hanya menggunakan lingerie tipis ini dipadu dengan celana dalam yang juga berwarna merah.

Aku menggigit bibir sendiri melihat penampilan seksi ku di cermin.

Sedikit tidak menyangka bahwa aku terlihat sangat menggoda dan mengg4 ,, 1r4 ,, hkan jika menggunakan pakaian seperti ini.

Walaupun aku sedikit malu dan gugup karena ini pertama kalinya menggunakan baju haram seperti ini.

Apalagi nanti tubuhku akan dilihat oleh Papa yang akhir-akhir sukses membuat ku berg4 ,, 1r4 ,, h.

Ughhh, aku berdesis lirih lalu dengan cepat mengaplikasikan skincare malam di wajahku lalu turun ke meja makan.

Setelah kaki ku memasuki area ruang makan, aku sudah melihat Mama dan Papa yang sudah duduk di meja makan.

Dengan canggung aku berjalan mendekati kedua orang tua ku.

"Oh my god sayangnya Mama kamu cantik dan seksi banget pake baju ini sayang. Warna merah cocok banget sama kulit putih kamu."

Puji Mama melihat penampilan putrinya yang sangat menggiurkan.

Mama yakin seratus persen kalau Papa akan ter4ng ,, s4ng melihat tubuh sang anak.

Dan benar saja, Mama melirik Papa yang sedang terkejut menatap penampilan putri kandungnya.

Walaupun berwajah datar, tapi Mama sempat melihat kilatan nafsu di mata Papa.

Aku yang mendapat pujian dari Mama sontak merasakan pipiku merona. "Emmm t-tapi aku nggak pede Ma."

Mama berdecak, "Ngapain malu, orang yang liat cuma Mama sama Papa. Ya kan Pa?"

Mama menyenggol lengan sang suami yang sedang membuang muka.

"Ekhemm iya." Papa berdeham canggung dengan pertanyaan Mama yang tiba-tiba.

"Nah sekarang sini sayang, Mama mau kamu makan sambil dipangku Papa ya" Ucap Mama menatapku dengan wajah yang ceria.

"Sayang!" "Mahh"

Aku dan Papa berucap berbarengan. Sama-sama menampilkan raut kaget atas permintaan Mama.

Mama yang mendengar suara keras dari sang anak dan suaminya pun sontak memelaskan mimik wajahnya.

"Hikss kok kalian bentak Mama hikss kan Mama cuma pengen liat Ira makan sambil dipangku Papa, karena ngeliat Ira yang semakin gede, Mama mendadak kangen sama Ira yang dulu sering manja sama Papa" Dengan cepat Mama berucap lirih, lalu menatap memelas ke arah anak dan suaminya dengan mata berkaca-kaca.

Menatap mata Mama yang sudah meneteskan air mata di pipinya, aku sontak melirik pada Papa yang sedang mengetatkan rahangnya.

"No, Papa nggak mau." Tegas Papa menolak permintaan aneh Mama.

Dalam hati Papa menyumpah serapah.

Bisa gila ia jika sang anak duduk di pangkuannya menggunakan baju kurang bahan seperti itu.

"Hikssss Papa jahat, Mama nggak mau liat Papa lagi." Ucap Mama dengan air mata yang semakin deras membasahi Pipi.

Aku yang melihatnya langsung mengusap pelan pundak Mama yang sedang menangis.

Karena tidak tega melihat Mama menangis sampai seperti itu, aku pun sontak menegur Papa, "Pahhh"

Melihat anaknya bersuara dan menatapnya dengan anggukan kepala, Papa hanya bisa menghela nafas pasrah.

Ditambah dengan tangisan sang istri yang tersedu-sedu, Papa memejamkan mata sejenak lali berucap, "Iya-iya Mama, Papa akan pangku Ira. Tapi, Mama berhenti dulu nangis nya ya."

Papa beranjak dari bangku nya lalu mencium pucuk kepala Mama sayang.

Mama yang mendengar ucapan Papa pun sontak tersenyum girang, "Yaudah sana sayang, duduk sama Papa." Mama mendorong tubuh Ira.

Melihat anaknya yang sedikit gemetar, Papa sontak mengulurkan tangan dan menuntun Ira untuk duduk di pangkuannya.

"Sini sayang sama Papa."

Sialan lo Kenzo, kaya om-om mesum lo ngomong kaya gitu. Papa berucap dalam hati.

Aku tersentak mendengar ucapan Papa, lalu dengan kaku aku mulai mendudukan diri di pangkuan Papa.

Papa mendesis lirih ketika bokong sang anak sudah duduk tepat di atas pahanya.

Ia mengabsen nama-nama binatang ketika merasakan tubuhnya sendiri menegang.

Papa mer3m ,, 4s kedua jarinya pelan ketika merasakan sang anak yang bergerak-gerak untuk mencari posisi nyamannya.

Sungguh, kepala Papa pening menikmati gesekan pantat Ira di pahanya.

Entah ini sebuah kesialan atau keuntungan, Papa kali ini sedang menggunakan celana boxer tipis tanpa celana dalam.

Salahnya juga tadi buru-buru karena kepalang nafsu.

Karena niat awalnya tadi tidak memakai celana dalam karena ingin menjenguk calon anaknya di perut sang istri setelah makan malam selesai.

Nghh.  Papa menggeram tertahan.

"Jangan gerak-gerak sayang." Ucap Papa serak dengan suara yang hanya bisa didengar oleh sang anak.

Shhh...

"Jangan gerak Ira."

Papa kembali berucap lirih ke telinga sang anak yang semakin tak nyaman duduk di pangkuannya.

Papa mengumpat lirih, saat merasakan k3j4n ,, t4n4nnya yang lambat laun mengeras.

Pantas saja anaknya itu bergerak tak nyaman.

"Ahhh Pahh, aku ngerasa ada yang ngeganjel dipantatku." Aku berucap lirih dengan sedikit menengokan kepala ku pada Papa.

Aku tak mau ucapan ku tadi terdengar oleh Mama yang sedang mengambilkan lauk untuk ku dan Papa.

"Ini sayang, habiskan ya biar kamu sehat." Ucap Mama pada Ira.

Melihat wajah putri kandungnya yang sedang mengernyitkan dahi, Mama terkekeh dalam hati.

‘Sepertinya kegiatan panas antara Papa dan Ira akan segera terjadi.’

Karena posisi meja makan yang persegi panjang dan Papa yang duduk di ujung meja, membuat Mama yang duduk di sebelah kanan serong Papa tidak bisa melihat aktifitas sang suami dan anaknya.

Walaupun tanpa melihat langsung, Mama yakin bahwa ada kegiatan gesek-menggesek antara Ira dan Papa.

Karena Mama bisa menerka dari raut wajah datar Papa yang sedikit mengetatkan rahang dan juga anak gadisnya yang sedari tadi ia perhatikan bergerak maju mundur walau perlahan.

Walaupun Ira dan Papa tetap berekspresi biasa dan dengan tenang melahap makan malam, tapi insting seorang perempuan apalagi itu ibu tidak bisa di anggap remeh.

Mama terkekeh pelan, anak dan suaminya itu sangat lucu sekali.

Lalu Mama dengan sengaja meninggalkan ruang makan dan pergi ke sapur untuk memberikan ruang bagi anak gadis dan suaminya itu berbuat tak senonoh.

"Mama ke dapur dulu ya, mau buat susu buat diminum nanti." Alibi Mama pada sang anak dan suaminya.

"Hhhh, Mama mau minum susu? Aku aja yang bikin Ma shhhh"

Aku memaksa raut wajah ku untuk tetap datar, kala tangan Papa di bawah sana sedang mengelus paha mulusku.

Karena baju haram yang kupakai ini hanya menutupi setengah paha, ketika aku duduk di pangkuan Papa maka baju haram yang ku pakai ini semakin tersingkap ke atas.

Sehingga mata telanjang Papa yang sedang duduk di belakang ku bisa dengan jelas melihat paha putih mulus ku.

"Nggak usah sayang, kamu duduk aja disitu temenin Papa" Ucap Mama lalu melenggang meninggalkan meja makan.

Sebenarnya jarak dapur dan ruang makan tidak terlalu jauh.

Sehingga Mama masih bisa mengintip aksi anak dan suaminya itu.

Karena posisi Ira dan Papa yang membelakangi dapur, Mama jadi leluasa menonton adegan tak senonoh anak gadis dan papa kandungnya.

Mama terkekeh, lalu mengusap celana dalamnya yang semakin basah karena melihat aktifitas cabul yang sedang dilakukan kedua orang tersayangnya.

Ugh... Mama bergerak-gerak gelisah sambil memainkan p4 ,, yud4 ,, r4nya ketika melihat putri kandungnya yang sedang bergerak maju mundur di atas pangkuan sang suami.

Ahhh..

Sesaat setelah Mama meningggalkan dapur, aku meloloskan desahan lirih yang sejak tadi aku tahan.

Merasakan tangan Papa yang sedang bergerilya di paha ku serta tiupan hangat di leher belakang ku, aku dengan segera menolehkan kepala melirik Papa sekilas.

"Pahh ahh tangannya" Ucap ku lirih sambil mencoba mengusir tangan Papa yang semakin masuk ke dalam lingerie yang ku pakai.

"Nghh kenapa sayang?"

Papa berbisik lirih di telinga ku, lalu dengan sengaja ia gerakan jari-jemarinya semakin masuk ke lingerie seksi sang anak.

"Ouhhh Papaaah ahh ngapain"

Aku bergerak-gerak tak nyaman ketika tangan cabul Papa mer3m ,, 4s paha bagian dalam ku, lalu membuat pola-pola abstrak di sana.

Karena gerakan tak nyaman ku atas perlakukan tangan Papa, lingerie kurang bahan yang kupakai ini semakin naik ke pinggang.

Bahkan sekarang tubuh bagian bawahku sudah tidak tertutup kain sehingga menampilkan v4 ,, g1 ,, n4 ku yang terbalut celana dalam.

"Ughhh sayangg jangan gerak-gerak"

Papa berbisik lirih dengan kedua tangan yang menahan pinggangku supaya diam.

Setelah tubuh sang anak diam, Papa dengan sengaja menekan semakin rapat tubuh seksi putrinya dengan tubuhnya sendiri.

Menunjukan dengan jelas bukti g4 ,, 1r4 ,, hnya yang semakin tegak berdiri.

"Ohhh Papahh ada yang nusuk-nusukk." Ucapku lirih ketika merasakan ada benda yang menusuk pantat ku.

Walaupun sedari awal aku sadar bahwa aku menduduki senjata Papa, tapi sejak beberapa waktu lalu aku semakin jelas merasakan bahwa lama kelamaan senjata Papanya itu semakin tegang.

"Nghhh Papahh tegang yaa? Ucap ku frontal yang ditanggapi Papa dengan geraman lirih.

Lalu tanpa aba-aba, Papa mengangkat sedikit bokong sang anak untuk memperbaiki posisi duduknya sekaligus mengangkat lingerie yang digunakan anak gadisnya sampai ke batas pinggang.

Membuat k3j4n ,, t4n4n Papa bersentuhan langsung dengan bokong dan v4 ,, g1 ,, n4 sang anak yang tertutup selembar kain berbentuk segitiga.