A A

 Aku yang dari tadi melihat interkasi dan permintaan Mama pun hanya diam saja.

Lagi pula apa salahnya bukan jika Papa membantu memilih bra yang cocok untuk ku.

"Yaudah kalo gitu Papa sama Ira disini aja ya berdua, Mama mau cari-cari yang lain dulu." Mama berucap lalu meninggalkan ku dan Papa penuh kecanggungan.

Papa yang melihat sang anak sedang menatapnya pun berdeham canggung, "Kamu suka warna apa Ira?"

"Haaah?" Ira melongo bingung dengan ucapan Papa.

"Bra. Kamu suka bra mu warna apa?" Ucap Papa masih dengan wajah datar.

Mendengar ucapan Papa yang menurut ku sedikit dingin, aku dengan cepat berucap, "Papa kalau nggak mau milihin bra buat ku nggak papa. Nanti aku milih sendiri aja."

Papa sontak menajamkan mata mendengar kalimat anak gadisnya, "Kamu lupa kalau ini permintaan Mama?"

Mendengar ucapan Papa yang semakin terdengar datar, aku dengan gugup membasahi bibir lalu menautkan jari-jemari ku.

"Me—merah, aku suka warna merah." Cicit ku pelan.

"Hm?"

"Aku suka warna merah Papa." Ucap ku lebih jelas sambil memandang wajah tampan Papa.

"Oke kalo gitu." Papa menganggukan kepala lalu melirik tag ukuran di bra yang tadi Mama berikan padanya.

Tanpa sadar Papa menjilat bibirnya sendiri ketika netranya melihat tag ukuran bra yang sedang dipegangnya.

Wow. Putri kandung ku ternyata punya ukuran p4 ,, yud4 ,, r4 yang lebih besar dari Mama.

Seksi.

Papa lalu dengan sengaja memindai tubuh anak gadisnya yang sedang memakai sweater oversized dipadukan dengan leging hitam yang membungkus kedua kaki jenjang anaknya.

Papa sedikit tidak menyangka bahwa anak gadisnya itu menyembunyikan kemolekan tubuhnya di balik baju-baju kedodoran yang sering dipakai.

"Ukuran kamu berapa?" Tanya Papa tiba-tiba pada ku yang sedang mengekor di belakang punggung Papa.

"Hah...?"

"Ckk, ukuran bra kamu berapa sayang?" Tanya Papa lebih frontal.

Aku mengerjapkan mata menatap Papa yang sedang menatapku juga, "Emmm tadi bukannya Mama udah kasih Pa?"

Papa menaikan kedua alisnya, jadi benar ukuran p4 ,, yud4 ,, r4 Ira lebih besar dari milik Mama.

Sebenarnya tadi Papa hanya memastikan saja.

Takutnya istrinya tadi hanya dengan asal memberikan contoh bra padanya.

"Emmm i—itu ukuran bra ku yang baru Pa" Cicit ku pelan pada Papa yang masih menatapku dalam diam.

Mendengar cicitan pelan sang anak, Papa mendadak membayangkan tubuh bugil Ira.

Anaknya itu pasti sangat seksi jika t3l4n ,, j4ng bulat.

V4 ,, g1 ,, n4 pink bersih dengan ukuran p4 ,, yud4 ,, r4 yang besar.

Sungguh kombinasi yang sempurna.

"Pa aku kesana duluan ya mau lihat-lihat."

Mendengar ucapan sang anak, Papa segera mengenyahkan pikiran kotor tentang putrinya.

Goblok.

Bisa-bisanya lo mikir kaya gitu Ken. Umpat Papa dalam hati.

Melihat sang anak yang sedikit menjauh dari tempatnya, Papa dengan kurang ajar meneliti Ira dari atas sampai bawah.

Menatapnya seakan mata Papa bisa menembus ke balik baju yang Ira pakai.

Kemana saja ia selama ini? Tanpa tahu bahwa anak gadisnya sudah tumbuh jadi perempuan luar biasa?

Papa mendesah lirih sepertinya ia perlu memforsir pekerjaannya yang sibuk supaya bisa memantau tumbuh kembang sang anak lebih baik lagi.

Tak lama kemudian, Papa melihat Mama menghampiri sang anak.

Lalu ia pun turut melangkahkan kakinya.

"Ini Maa, Papa sudah pilihkan buat Ira. Mama seneng kan?"

Mama yang melihat sepuluh model bra yang dipilih Papa pun sontak menyeringai penuh makna.

Mama nggak nyangka kalau Papa bakal pilih bra dengan model seperti itu.

Walaupun modelnya tidak yang aneh-aneh seperti hanya menutup p3 ,, nt ,, 1l saja, tapi tetap saja model bra yang Papa pilih cukup mengundang n4f ,, su jika nanti Ira yang pakai.

"Makasi Papa sayang" Ucap Mama menatap Papa penuh sayang.

"Yaudah ayo kita langsung bayar aja, Mama juga udah bantu pilihin Ira celana dalam dan bra yang lain."

Aku yang mendengar ucapan Mama sontak mengangkat kedua alis, "Ngapain beli celana dalam Ma? Kan punya ku masih muat?"

Mama terkekeh mendengar ucapan sang anak, "Ya nggak papa dong sayang, mumpung lagi disini biar sekalian. Toh bra kamu ini kayanya banyak yang modelnya sepasang."

Mendengar penjelasan sang Mama aku pun mengangguk-angguk saja.

"Yaudah ayo Ma bayar."

"Kamu sama Papa aja yang bayar. Mama mau ke sana sebentar." Ucap Mama sambil menunjuk sebuah toko yang menjual baju-baju haram.

Tanpa mendengar jawaban sang anak dan suami, Mama langsung melenggang meninggalkan Ira dan Papa dalam diam.

"Ayo Pa" Aku mengajak Papa untuk membayar ke kasir, karena aku tidak mungkin sanggup membayar semua belanjaan ini.

Melihat berapa banyak bra dan celana dalam yang Mama belikan untuk ku dan mengingat brand toko ini, kepala ku mendadak pening jika memikirkan berapa jumlah yang nanti perlu Papa bayar.

Karena itu sebelum aku dan Papa ke kasir, aku dengan sengaja meletakan kembali beberapa pasang underwear yang sekiranya kurang aku minati.

"Kenapa kamu taruh lagi?" Papa mengerutkan kening melihat tingkah sang anak.

"Ahh... hmm nggak papa Pa, aku ngerasa ini kebanyakan aja."

Papa mendengus lalu tanpa kata Papa membawa semua underwear yang aku taruh tadi dan membawanya langsung ke kasir.

Belum lagi Papa juga mengambil alih seluruh underwear yang sedang ku pegang.

Papa sebenarnya sedikit tersinggung dengan ucapan sang anak tadi.

Dikira ia tidak mampu apa membayar belanjaan sebanyak ini? Huh... Papa mendengus kasar.

"Total belanjaan istrinya Rp 33.580.000.00 ya Pak." Ucap seorang kasir yang sukses membuat mata ku melotot.

Gila? 38 juta? Dan apa itu istri?

Papa yang mendengar ucapan sang kasir pun mengangguk datar, "Pakai ini Mbak."

Papa memberikan sebuah debit card yang langsung diterima oleh kasir.

"Baik. Terima kasih telah berbelanja di toko kami. Semoga bapak dan ibu bisa kembali kesini lain waktu." Ucap sang kasir menatap ku dan Papa dengan pandangan tersenyum.

Aku hanya meringis canggung dengan Papa yang menganggukan kepala. "Baik, Terima kasih."

Setelahnya, Papa langsung mengambil 3 kantong belanjaan milik ku lalu menghampiri Mama di toko sebrang.

Aku celingak-celinguk mencari Mama di toko baju haram yang sedang sepi ini.

Aku mengatakan baju haram karena saat ini aku berada di tengah-tengah toko yang menjual berbagai model lingerie dan piyama seksi.

Jujur ini pertama kalinya aku menginjakan kaki ke toko seperti ini.

"Itu Mama, ayo kesana sayang." Aku sedikit tersentak ketika Papa menggenggam tangan ku.

Rasanya seperti ada listrik yang menyengat badan ku sehingga membuat tubuh ku kaku.

"Maa, buat apa Mama beli baju itu? Punya Mama kan banyak yang masih bagus." Ucap Papa dengan kernyitan di dahi.

"Bukan buat Mama, ini buat Ira." Jawab Mama santai. Papa yang mendengarnya pun langsung melotot.

"No no no. Apa-apaan Kamu Mah. Taruh lagi baju kurang bahan itu di tempat semula." Sentak Papa dengan cukup keras.

Aku berjingkat kaget, lalu tanpa sadar mengelus pelan lengan berotot Papa, "Pa jangan teriak. Kasian Mama."

Papa mengetatkan rahangnya, menahan gejolak emosi dalam dirinya.

Mana mungkin ia sudi memamerkan kemolekan tubuh putri kandungnya ke orang lain.

Walaupun Papa tidak tahu se mengg4 ,, ir4 ,, hkan apa nanti putrinya jika memakai baju kurang bahan itu, tapi tetap saja Papa tak suka.

Terlebih ia baru saja tahu ukuran p4 ,, yud4 ,, r4 anak gadisnya.

Ditambah dengan baju haram yang istrinya itu pegang, entah akan sepanas apa nanti tubuh sang anak.

Membayangkannya saja sudah membuat kepala atas dan bawah Papa pening.

Mama menatap mata Papa dengan pandangan berkaca-kaca, "Ira udah besar loh Pa. Udah remaja dan juga udah punya pacar. Mama cuma pengen ngajarin Ira supaya bisa ngerawat tubuhnya biar semakin terjaga dan seksi." Ucap Mama.

"Ini juga cuma buat di rumah aja Papa. Mama juga nggak rela tubuh seksi Ira diumbar ke banyak orang." Tambah Mama cepat ketika melihat sang suami membuka mulutnya.

Hehe... memang tidak sudi, namun Mama sangat sudi jika Ira berpenampilan seksi di depan Papa. Ucap Mama sambil terkikik dalam hati.

Mama bahkan sudah bisa membayangkan putri kandungnya memakai pakaian sexy setiap di rumah yang mana pasti bisa dilihat oleh sang suami.

Mama berharap nantinya Papa akan semakin ter4ng ,, s4ng dan berg4 ,, ir4 ,, h melihat kemolekan Ira dan bern4f ,, su untuk mencabuli tubuh anak kandungnya.

Aku yang dari tadi menjadi objek pembicaraan Mama Papa pun hanya bisa terdiam tanpa suara.

Tanpa memperdulikan wajah ku yang sudah kaku, Mama berucap padaku, "Sayaaang, kamu mau kan pakai baju yang Mama belikan disini?"

Wajahku memerah membayangkan sehari-hari aku memakai lingerie dan pakaian seksi yang Mama belikan.

"Sayaaang, kamu itu cantik banget loh. Kamu juga udah punya pacar dan semakin dewasa. Kamu harus bisa belajar untuk mempercantik diri. Karena itu, kamu mau yahh pakai baju yang Mama pilihin ini setiap di rumah?" Ucap Mama dengan unsur pemaksaan.

Melihat wajah memelas dan puppy eyes Mama sukses membuat hati ku bergetar.

Aku sebenarnya merasa aneh karena Mama membelikan anak gadisnya baju-baju seksi yang sebenarnya lebih cocok jika Mama yang pakai, di depan suaminya pula.

Aku menghela nafas pasrah ketika mengingat perkataan dokter.

"Iya Mama nanti Ira pakai."

Mama tersenyum girang lalu dengan semangat menggandeng tangan ku untuk berkeliling.

"Inget Ma, Ira boleh pakai baju haram itu asal di rumah. Papa nggak akan izinin Ira pakai baju kurang bahan itu di luar." Ujar Papa sambil menatap mata sang anak dan istri dengan tajam.

"Iya Papa tenang aja." Jawab Mama santai.

"Sekarang, Papa tunggu di luar aja. Mama mau girls time sama Ira." Usir Mama lalu segera menarik tanganku untuk kembali diajaknya berkeliling.

Melihat kedua orang paling berharga dalam hidupnya dengan semangat berkeliling toko, Papa dengan cepat menghembuskan nafasnya yang entah sejak kapan ia tahan.

Memikirkan kelakuan sang istri sukses membuat kepalanya semakin pening.

Setelahnya, Papa membalikan tubuh dan memilih untuk menunggu di kursi tunggu yang telah disediakan.

"Sebagai seorang perempuan, kamu harus pintar untuk merawat tubuh kamu sayang. Karena zaman sekarang, banyak laki-laki mata keranjang yang sedikit-sedikit melirik perempuan lain yang dirasa lebih seksi." Ucap Mama pada anak gadisnya yang sedang memilih-milih lingerie.

"Iya Mama."

"Kamu nggak mau kan nanti semisal punya suami atau gampangnya Kevin ninggalin kamu demi cewek lain karena ngerasa kamu udah nggak cantik?"

Aku sontak menggeleng cepat mendengar ucapan Mama, bisa gila aku jika Kevin benar-benar meninggalkan ku demi perempuan lain.

Aku tidak rela dan tidak sudi.

Aku dan Kevin sudah berpacaran lama dan bahkan kita belum ngapa-ngapain.

Melihat gelengan kepala anak gadisnya, Mama diam-diam menyeringai penuh makna, "Makanya kamu mulai belajar dari sekarang, kalau misal nanti Mama ada nyuruh kamu ngelakuin sesuatu kamu bisa turuti ya sayang"

Mendengar ucapan lembut Mama sontak aku mengangguk.

Aku sedikit gelisah ketika memikirkan kemungkinan Kevin akan meninggalkan ku demi perempuan lain.

Oleh karena itu, mulai hari ini aku bertekad akan terus merawat tubuh ku yang seksi dan cantik ini.

Melihat Mama yang masih terlihat seksi di umurnya yang sekarang, membuat ku yakin bahwa mengikuti ucapan Mama adalah jalan terbaik.

Oleh karena itu ia akan mulai menuruti semua perkataan Mama.

Melihat anak gadisnya mengangguk dengan menatap ke arahnya sungguh-sungguh, Mama terkekeh dalam hati.

Akan Mama buat anaknya itu selalu memamerkan tubuh seksinya ke Papa nanti.

Hanya dengan memikirkannya saja membuat Mama gerah.

Mama akan buat anak gadisnya itu bisa menggoda Papa yang kaku itu.

Mama juga akan buat Papa bisa melihat kemolekan tubuh sang anak dan membuatnya memiliki pemikiran bern4f ,, su untuk menggagahi putri kandungnya sendiri.

Mama menyeringai, satu persatu fantasi liarnya akan terealisasi. Ia jadi semakin tak sabar.