A A

Bulan berganti dan kini waktunya Mama melakukan check up ke dokter kandungan.

Karena ini weekend aku jadi bisa menemani Mama dan Papa untuk mengecek adik kicik yang semakin bertumbuh dalam rahim Mama.

Mama sebenernya sedikit frustasi karena akhir-akhir ini fantasi gilanya tak terealisasi.

Papa yang cuek dan cenderung kaku selalu disibukkan dengan pekerjaan.

Lalu Ira anaknya yang polos dan tidak ada bakat untuk menggoda.

Oleh karena itu, di kesempatan yang berharga kali ini Mama akan melancarkan aksi supaya g4 ,, ir4 ,, h liarnya bisa tersalurkan.

Mama berencana untuk menyuap sang dokter kehamilan untuk mengatakan sesuatu tentang kehamilannya.

Supaya ke depannya, permintaan gila yang keluar dari mulutnya akan selalu dituruti oleh sang suami dan putrinya.

"Pa, kayanya handphone ku ketinggalan di mobil deh, tolong ambilin dong." Ucap Mama ketika sudah di depan pintu ruang check up.

Papa mengangguk, "Iraaa jagain Mama disini ya Papa ke mobil dulu."

Melihat sang suami yang sudah melangkahkan kakinya menjauhi ruang cehck up, Mama diam-diam menyeringai penuh arti.

"Astaga Ira Mama lupa."

Mendengar ucapan kaget Mama, aku langsung menengok ke arah Mama yang sedang menepuk jidat.

"Kenapa Mama?"

Mama meringis kecil, "Ini Mama lupa kunci mobil Papa ternyata ada di tas Mama."

Aku manggut-manggut saja tanpa curiga, "Yaudah sini biar aku yang samperin Papa. Mama nunggu disini aja ya, kayanya sebentar lagi Mama bakal di panggil."

Mama menahan senyum, lalu mengangguk menyerahkan kunci mobil Papa yang tadi sempat ia curi diam-diam dari sang suami.

"Mama hati-hati ya, jangan kemana-mana loh" Aku menatap Mama dengan pandangan mewanti-wanti.

Mama berdecak, "Iya-iya sayang, udah kamu sana ke parkiran biar nggak bolak-balik nanti Papa kasian itu loh udah tua."

Aku terkekeh singkat lalu tanpa beban melangkahkan kaki ke arah parkiran, tanpa tahu bahwa ini adalah awal mula kehidupan berg4 ,, ir4 ,, hnya dimulai.

Mama terkekeh melihat punggung sang anak gadis yang semakin menjauh.

Lalu dengan cepat ia masuk ke ruang dokter dan mulai melancarkan aksinya sebelum kedua orang tersayangnya itu kembali.

Bertepatan dengan Mama yang berhasil menyogok sang dokter untuk membicarakan sesuatu tentang kehamilamnya, Papa dan Ira masuk ke dalam ruangsan.

"Handphone mu ngga ada di mobil sayang." Ucap Papa melihat Mama.

Mama yang mendengar hal itu pun sontak meringis pelan, "Hehe sorry Papa ternyata HP Mama keselip di tas."

"Kamu ini ada-ada aja." Papa hanya menggelengkan kepala lalu duduk di samping sang istri.

Aku yang juga duduk di samping Mama lalu menanyakan keadaan Mama dan calon adik ku pada dokter.

"Gimana dok kandungan Mama saya?"

"Kandungan Ibu Sari baik-baik saja. Bayinya sehat dan ukurannya juga normal. Nggak ada kekurangan zat cairan atau gizi untuk janinnya sendiri. Cuma mungkin lebih diperhatikan lagi ya tentang ngidamnya Bu Sari ke depannya. Karena semakin bertambah umur sang janin, kondisi fisik dan mental sang Ibu perlu diperhatikan dengan baik." Ucap dokter yang langsung aku dan Papa angguki.

"Nah, untuk ngejaga kondisi fisik, Ibu Sari bisa mulai berolahraga yang dikhususkan untuk ibu hamil serta makan-makanan yang sehat bergizi. Kalau untuk kondisi mentalnya itu tolong sekali pihak keluarga untuk selalu menuruti apa keingginan dari Ibu Lana. Dengan begitu, mood bahagia yang sedang dirasakan oleh sang ibu bisa turut dirasakan juga oleh sang janin yang sedang di kandung."

"Sampai sini paham Bu, Pak? Ucap dokter sambil menatap bergantian ke arah ku dan Papa.

Mama yang mendengar ucapan dokter pun menyeringai tertahan. Gotcha… Rencanaku sukses maju selangkah.

"Seaneh atau seengga memungkinan keinginan Ibu Sari nanti, dimohon untuk pihak keluarga jika masih bisa di sanggupi tolong di lakukan dan dituruti saja."

"Baik dok." Papa berucap sambil mengelus lembut perut Mama yang sudah membuncit.

Walaupun permintaan Mama akhir-akhir memang aneh dan nggak masuk akal, tapi itu sukses mematik rasa penasaran ku karena fantasi gila Kevin tentang aku dan Papa.

Aku memang tidak berusaha untuk menggoda Papa supaya bisa berciuman, namun apa salahnya kan jika ada kesempatan?

Apalagi rasa bersalah ku akan sedikit berkurang jika nantinya Mama yang justru meminta ku mencium Papa.

Ya walaupun secara teknis aku dan Papa sudah berciuman saat kejadian mobil dulu. Namun, tetap saja itu adalah kejadian di luar rencana.

"Oh iya satu lagi, saya mau mencoba mengingatkan Pak Kenzo dan Bu Sari, karena Ibu Sari hamil di umurnya saat ini yang bisa dibilang masuk ke dalam umur yang tidak cocok untuk hamil, saya sarankan untuk Bapa dan Ibu mencoba mencari Ibu susu untuk sang anak nanti."

"Kenapa dok? Kok gitu? Tanya Papa cepat. Apa maksudnya mencari ibu susu untuk anaknya?

"Gini Pak Kenzo, karena faktor umur Bu Sari yang sudah tak lagi muda dan bugar seperti dulu, tidak menutup kemungkinan bahwa selesai melahirkan nanti, asi yang keluar dari p4 ,, yud4 ,, r4 istri Bapak hanya sedikit." Ucap sang dokter dengan perlahan.

Mama yang mendengar ucapan dokter pun sedikit sedih.

Namun muncul setitik harapan terkait rencananya nanti.

Mama menggigit bibir untuk menahan senyum karena hal ini tak terpikirkan olehnya.

Untung saja dokter mengingatkan tentang pemberian asi untuk sang anaknya kelak.

Dengan ini, ia bisa meminta anak gadisnya untuk menyusui calon adiknya nanti.

Hehe... Mama menyeringai penuh n4f ,, su.

"Nah karena itu, sebagai bentuk persiapan, Pak Kenzo dan Bu Sari bisa mulai mencoba mencari ibu susu untuk anaknya kelak. Saya ini hanya menyarankan saja karena dulu Saya pernah mendapat pasien yang sedang hamil di umur Ibu Sari."

"Ibu susunya itu apakah harus yang sudah pernah melahirkan atau gimana ya? Karena Saya pernah denger kalau tanpa melahirkan pun perempuan bisa mengeluarkan asi dan menyusui, Apa itu benar dok?" Tanya Mama dengan sungguh-sungguh pada dokter.

Aku dan Papa yang mendengar pertanyaan Mama pun kompak menatap aneh pada Mama.

Aku bingung. Kenapa Mama malah nanya hal itu?

Dokter menatap mata Mama yang berkedip sejenak, lalu dengan tegas menganggukan kepala.

"Iya benar bu. Memang kehamilan dan menyusui adalah proses natural yang otomatis akan dialami seorang ibu setelah melahirkan. Namun, dalam perkembangannya ada perempuan yang tidak hamil tapi bisa menghasilkan asi."

Mama mengangguk dengan senyum tertahan, "Terus itu gimana caranya dok?"

Aku diam-diam menunggu jawaban sang dokter.

Karena aku mendadak menjadi penasaran apakah benar jika belum hamil dan melahirkan namun p4 ,, yud4 ,, r4 bisa mengeluarkan asi?

"Jadi gini Bu, di dunia menyusui sendiri ada yang disebut induksi laktasi atau istilah resmi untuk cara mengeluarkan asi tanpa seorang perempuan harus hamil dan melahirkan."

"Nah untuk lebih lanjutnya lagi, nanti Bapak dan Ibu bisa kembali berkonsultasi dengan dokter yang lebih ahli dibidang ini. Jika misal tertarik dengan induksi laktasi, nanti Saya akan memberikan kontak dokter terpercaya yang sudah lebih berpengalaman di bidang ini."

Aku manggut-manggut mendengar penjelasan dokter.

Jadi tanpa hamil dan melahirkan, perempuan bisa mengeluarkan asi dan menyusui dengan melakukan induksi laktasi.

Tanpa sadar aku menyeringai, mungkin lucu nanti ya jika aku bisa mengeluarkan asi dari p4 ,, yud4 ,, r4 ku lalu menyusui calon adik ku nanti.

Aku membayangkan nantinya tubuhku menjadi semakin seksi karena setahuku jika perempuan mengeluarkan asi, p4 ,, yud4 ,, r4 mereka akan semakin bertambah besar karena asi tersebut.

"Jadi gimana, apakah penjelasan Saya tadi cukup jelas? Tanya dokter yang langsung aku angguki.

Melihat ketiga orang di hadapannya mengangguk, sang dokter pun tersenyum.

"Baik kalau gitu sesi check up kali ini sudah selesai ya, mohon untuk kembali melakukan check up sesuai dengan jadwal yang ditentukan."

"Baik dok, terimakasih banyak." Ucap Mama sambil menyalami tangan sang dokter.

Setelahnya, aku dan Mama Papa keluar dari ruangan dokter.

Lalu, kami sekeluarga pergi ke Mall sesuai dengan keinginan Mama.

Mengingat omongan dokter tadi, aku yang sebenarnya malas hanya mengangguk saja mengiyakan.

"Ira kita sekalian beli bra baru buat kamu ya, kasian p4 ,, yud4 ,, r4 mu kalo kelamaan pake bra yang sempit." Ucap Mama tanpa beban ketika kakinya sudah memasuki Mall yang ramai.

"Mahh... ihhh..." Wajahku seketika memanas mendengar Mama berucap frontal di depan Papa.

Ekhemm...

Papa melirik Mama dan aku canggung, "Yaudah Papa tunggu sini ya, Mama sama Ira beli berdua aja."

Mama melotot, menepuk pelan tangan Papa.

"Nggak, Papa harus ikut pokoknya. Kalau Papa nggak ikut siapa yang mau bawain belanjaan Mama nanti."

Aku melirik canggung ke arah Papa ketika kami sudah tiba di depan toko pakaian dalam yang terkenal.

"Kita berdua aja Ma, nanti biar Ira yang bawa belanjaannya."

"No no no. Nggak mau tahu ya, Papa harus nemenin Mama sama Ira ke dalem." Ucap Mama tegas lalu langsung masuk ke dalam toko.

Aku yang masih di luar bersama Papa pun sontak saling melirik, "Ayo Pa, kita perlu inget kata dokter tadi."

Mengangguk pasrah, Papa dan aku beriringan menuju Mama yang sedang asik memilih bra.

"Nih Ira Mama sudah pilihkan beberapa model untuk kamu. Ukurannya sudah Mama naikan satu tingkat dari ukuran dada mu sebelumnya." Mama berucap sambil menyodorkan sebuah bra merah menyala kepada sang anak.

"Mahh... ihhh... jangan keras-keras dongg ngomongnya." Aku meringis malu ketika mendengar suara Mama yang sedikit keras.

"Kenapa sih kamu, orang tokonya juga lagi sepi gini." Mama melengos malas mendengar ucapan sang anak.

Sejujurnya aku benar-benar malu karena ada Papa yang berdiri di samping ku.

Bukan apa-apa ini pertama kalinya aku belanja pakaian dalam di temani oleh Papa.

"Paaa, menurut kamu bagusan mana warnanya? Warna hitam atau yang biru?" Mama bertanya pada sang suami yang sedari diam.

"Hahh? Terserah Mama sama Ira aja yang mana." Ucap Papa sedikit linglung, tidak menyangka istrinya akan menanyakan pendapatnya.

Mama berdecak, "Kamu ini loh Pa, buat anaknya sendiri aja nggak mau bantu kasih rekomendasi. Nih nggak mau tahu Papa harus pilih sepuluh model bra buat Ira."

Mama menatap tajam sang suami sambil mengangsurkan dua buah bra kepada tangan Papa.

"Maaa, kok jadi Papa yang harus milih?" Tanya Papa bingung. Sedikit ragu juga karena masa ia memilihkan model bra untuk putri kandungnya?

"Nggak mau tahu, sepuluh menit dari sekarang Papa harus bawa sepuluh bra buat Ira. Ini juga permintaan dari adek loh Paaaa" Rayu Mama dengan tangan yang bergelanjut manja di lengan sang suami.

Papa yang mendengar ucapan Mama pun sontak mengehela nafas. "Iya-iya deh Ma, Papa bantu pilih."

"Yeayy" Mama berseru dengan senang lalu dengan sengaja mengecup pipi Papa cepat.