A A

 Tok... tok... tok...

"Iraaa, ayo bangun sayang"

Mama membuka pintu kamar anak gadisnya, melihat Ira yang tertidur pulas namun dengam dahi yang mengerut.

"Sayang ayo bangun kamu mau sekolah atau izin hari ini? Tanya Mama sambil memijat pelan perut putrinya.

Mama rasa nyeri di perut anaknya itu kali ini sangat sakit karena sedang tidur pun wajah sang anak anak mengerut tidak nyaman.

Eunghhh

Merasakan pijatan lembut diperutku, aku melenguh keenakan sambil mengerjabkan mata dan melihat Mama yang duduk di sampingku.

"Morning Ma, Morning adik kicikk" Ira mengelus perut Mama yang sudah sedikit membuncit.

Dengan perlahan, Ira bangkit dan menyenderkan tubuhnya ke kepala ranjang.

Melihat anak gadisnya yang lemas, Mama dengan sayang mengucap, "Kamu mau izin nggak sekolah?"

Aku menggeleng lemah, "Nggak usah Ma aku hari ini ada presentasi kelompok, ngga enak sama temen ku yang lain.

Mama mengangguk, "Yaudah kamu sekarang mandi terus turun ke bawah ya buat sarapan.

Dengan mata sayu, aku mengangguk pada Mama.

"Kamu mau sendiri atau mau Mama mandiin?" Tanya Mama tiba-tiba.

Aku mengernyitkan dahi, tumben sekali Mama menawari ku tentang ini.

Karena biasanya hanya ketika manja ku sedang akut saja aku minta tolong Mama untuk memandikan ku Heheee

Aku melihat Mama yang sedang berdiri tepat di pintu kamar, "Aku kan lagi mens Ma, nanti Mama jijik liat darah ku."

Mama terkekeh pelan, "Ngapain juga jijik, kamu kan anak Mama sayaaang lagian kan kamu bisa cuci bersih pembalut mu di closet, Mama nanti tungggu di bath up."

Shhhh

Aku meringis merasakan perutku seperti digiling-giling, lalu menatap Mama yang menatapku penuh arti.

Menganut prinsip rezeki tidak boleh di tolak, aku mengangguk saja pada Mama.

Lumayan aku tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga.

"Kamu ke closet terus cuci bersih dulu aja bekas menstruasi mu, Mama nunggu di bath up sambil ngisi air panas ya"

Aku mengangguk saja, lalu mulai membuka pakaian ku satu persatu tanpa malu di depan Mama.

Mama yang melihat anak gadisnya sudah telanjang walau masih menggunakan celana dalam menyeringai penuh makna.

Anak gadisnya benar-benar luar biasa.

Bagaimana bisa ada remaja 18 tahun dengan tubuh montok seperti anaknya?

Perpaduan antara dirinya dengan sang suami benar-benar menghasilkan ciptaan Tuhan yang mempesona sekaligus menggoda.

"Ahhh... Mahh... jangan dicubit..." Aku mendesah lirih saat Mama memainkan put1ng p4yud4r4 ku.

Karena sedang datang bulan, seluruh tubuhku termasuk put1ng dada ku jadi lebih sensitif sehingga dipegang sedikit ia bisa menegang hebat.

Kini aku sedang menyandar di bath up kamar mandi dengan Mama yang duduk di samping ku menggunakan kursi kecil.

"P4yud4r4 kamu kayanya makin gede ya sayang?" Tanya Mama saat tanggannya menangkup dan memijat kedua p4yud4r4 ku bergantian.

Aku memejamkam mata, menikmati pijatan tangan Mama di kedua p4yud4r4 dan juga perutku.

Ditambah dengan sensasi air panas dengan wewangian mawar kesukaan ku sukses membuat tubuh ku sangat rileks.

"Ahh... masa sih Ma?" Tanya ku pada Mama.

"Maaahh... ahhh jangan ditarik-tarik p3nt1l ku. Lagi sakit banget"  Rengekku pada Mama yang  sedang meremas kedua p4yud4r4 cukup kencang lalu menarik put1ngnya.

"Iya sayang, kan Mama setiap bulan bantu mijetin p4yud4r4 kamu jadi Mama bisa ngerasain kalo sekarang punya mu jadi lebih gede sama lebih kenyel kaya squishy jadinya"

"Ahh masa sihh Ma? Kalo kata Mama dada ku makin gede ya pantes aja belakangan ini aku ngerasa sesek banget tiap pake bra, aahhh"

"Oh yaaa? Berati udah nggak muat itu ukuran bra mu yang sekarang Ra, nanti Mama belikan yang baru ya" Ucap Mama dengan seringai tipis di bibir, lalu dengan sengaja ia meremas sedikit kencang p4yud4r4 sang anak.

Kebetulan sekali. Sambil menyelam minum air. Mama bisa sekalian membelikan baju-baju tidur seksi buat Ira pakai supaya Papa bisa melihat kemolekan putri kandungnya.

Aku mengangguk, untung Mama ngerasa kalau ukuran p4yud4r4 ku sedikit membesar.

Karena kalau Mama tidak bilang, aku bakal ngira itu karena efek mau datang bulan saja.

"Sama beliin piyama ya Mahh, pas waktu aku ke Mall sama Wulan aku nggak sengaja liat piyama lucu banget."

"Dimana sayang? Kok kamu nggak langsung beli aja."

"Nggak ada uang Ma aku pas itu, ssshhhh" Ucapku sambil meringis lirih karena Mama yang sedang menyabuni p3nt1l dada ku.

"Kamu tuh ya, kan bisa minta transfer" Mama hanya geleng-geleng kepala saja melihat anaknya.

Padahal ia dan suami tidak pernah membatasi pengeluaran sang anak.

Ira bebas meminta apa saja jika ia dan sang suami masih menyanggupi.

Bahkan Mama mau menyanggupi permintaan sang putri jika ia meminta di sodok Papa kandungnya.

Walaupun terkadang Mama merasa bersalah kepada suami dan anaknya karena memiliki fantasi tak senonoh seperti itu, tapi yang namanya rasa nafsu dan gairah itu sedikit sulit untuk di lawan.

Apalagi kini ia sedang mengandung, sehingga hormon ibu hamilnya menambah gairahnya ketika ia membayangkan sang suami dan anak yang sedang bersetubuh dengan panas.

"Makasih Ma" Ucap ku ketika tubuh ku sudah tertutup bathrobe mandi.

Mama hanya mengangguk lalu berjalan ke arah lemari untuk mengambil seragam sang anak gadis.

Melihat anak gadisnya sudah rapih menggunakan seragam sekolahnya, Mama langsung mengajak Ira untuk turun ke meja makan.

"Ayo sayang kita turun ke bawah, Papa kayanya udah nunggu di meja makan."

Setelah sampai di bawah, aku bisa melihat punggung lebar Papa yang sedang duduk di meja makan.

Melihat tubuh tegap Papa yang dibalut kemeja putih dan juga jas hitam, membuat ku mendadak mengingat kejadian semalam.

Kejadian dimana Papa yang membantuku di kamar mandi lalu tanpa sengaja aku suguhi pemandangan v4g1n4 telanjangku.

Mendadak pipiku memanas.

Belum lagi semalam aku menyaksikan secara langsung percintaan panas sang Papa dan Mama di kamar mereka.

Bukan hanya gesek-gesek seperti yang dulu, tapi aku semalam benar-benar melihat Papa yang menyodok beringas Mama.

Mendadak aku kembali merinding ketika mengingat betapa panas Papa dan Mamanya saling berbagi kenikmatakan.

Apalagi aku belum bisa mengenyahkan bayang-bayang p3n1s berurat dan besar milik sang Papa.

Flashback

Setelah kejadian di mana Papa yang membantuku memakaikan celana dalam, tak lama aku keluar dari kamar dan berniat untuk membuat coklat panas.

Namun, saat langkahku perlahan memasuki dapur aku mendengar suara-suara desahan dari arah kamar kedua orang tua ku.

Ya semenjak Mama hamil, Papa menginginkan kamarnya dan sang Mama untuk berpindah ke lantai bawah.

Karena penasaran dengan suara desahan itu, aku berjalan perlahan menuju kamar kedua orang tua ku.

Aku penasaran karena seingatku setiap kamar di rumah ini sudah kedap suara kecuali jika pintu kamar tidak tertutup rapat.

Selain itu, aku juga penasaran dengan persetubuhan antara Papa dan Mama.

Apakah mereka akan lebih hot dari video b0k3p yang pernah ku tonton?

Aku juga penasaran, apakah bercinta itu memang senikmat seperti yang dikatakan ketiga teman ku yang selalu membagikan kehidupan s3ksu4lnya sehingga membuatku ter4ngs4ng?

Semakin dekat dengan kamar kedua orang tua ku, suara desahan yang masuk ke telingaku menjadi semakin keras.

Dan aku jadi semakin yakin jika itu suara Mama.

Dalam hati aku berpikir apakah Mama dan Papa sedang bercinta? Tapi kenapa tidak menutup pintu?

"Ahhh ahhh Pahhh Ouhhhh"

"Ahhhh ahhh oughhh enakkkhhj ahhh"

Aku bergidik mendengar desahan Mama yang luar biasa keras namun juga terdengar seksi.

Aku berjalan perlahan, mengintip dari celah pintu kamar Mama Papa yang sedikit terbuka.

Mataku melotot melihat pemandangan di depan mataku.

Dengan jelas aku bisa melihat tubuh kedua orang tuaku yang sangat indah dan s3xy.

Mama dengan p4yud4r4nya yang sekal, walaupun ukurannya tidak sebesar milik ku.

Lalu Papa yang sejujurnya aku tidak menyangka kalo Papa bisa se s3xy itu ketika telanjang.

Aku tahu dibalik kemeja dan jas kantor yang setiap hari Papa pakai tersembunyi otot-otot gagah yang menopang tubuh Papa.

Namun aku tidak menyangka akan se menggairahkan ini.

Papa yang tanpa busana membuat ku bisa dengan jelas melihat otot-ototnya yang menonjol, dada bidangnya yang seksi, serta pundaknya yang lebar.

Belum lagi garis-garis otot di perut Papa yang sukses buat aku ngiler.

Seingat ku Papa sudah kepala empat, tapi kenapa otot perutnya bisa seperti itu? Aku bahkan menebak bahwa perut Papa sebentar lagi akan timbul roti sobek.

Aku menggigit jari ketika melihat posisi Mama yang sedang menungging dengan mata yang merem melek karena sedang disodok oleh Papa dari belakang.

"Nghhh ahhh" Mama mengerang karena Papa dengan beringas meremas kedua p4yud4r4nya dari belakang dengan tetap menyodok keras p3n1snya di dalam lubang Mama.

"Ah ahhh ahhh ouhhh Paah dalemmhh banggetthh.."

"Ahhhh ahhhhh  "

Mendengar desahan kenikmatan Mama, aku tanpa sadar menggesekan kedua pahaku.

Karena menstruasi, hormon ku sedang meningkat tinggi dan membuat ku sangat ter4ngs4ng melihat persetubuhan Mama dan Papa.

Aku menelan ludah saat melihat Papa mendengakan kepala sambil mendorong p3n1snya masuk lebih dalam ke v4g1n4 Mama.

"Nghhh"

Aku bergidik mendengar geraman seksi Papa.

Walaupun pelan namun karena suasana yang sepi jadi aku bisa mendengar itu.

Tanpa aku sadari, Mama yang sedang lemas karena bukti gairahnya telah keluar melirik sekilas ke arah pintu kamar dan menemukan sang anak gadis yang sedang mengintip.

Mama yang melihat putrinya sedang mengintip pun menyeringai penuh nafsu.

Karena ini sesuai dengan rencananya.

Ya, Mama dengan sengaja mengajak Papa bercinta lalu tak menutup pintu dengan rapat.

Karena Mama tahu kebiasaan Ira ketika menstruasi itu suka meminum coklat tengah malam.

Gairahnya yang tadi juga sempat padam karena rasa capek kini kembali tersulut.

Apalagi Mama yakin bahwa p3n1s Papa masih tegak berdiri menantang maut.

Grrrrrr

Mama bergidik ketika membayangkan p3n1s besar dan berutat Papa menyodok v4g1n4 putri kandungnya yang seksi.

Aku menggigit bibir sedikit menyembunyikan tubuh ku saat melihat Mama merubah posisi tubuhnya.

Mama yang tadinya menungging menghadap pintu kamar, kini merebahkan tubuhnya dengan memutar 90 derajat.

Sehingga, Ira yang sedang mengintip bisa dengan jelas melihat persetubuhan kedua orang tuanya.