A A

 Saat ini aku dan Kevin sedang duduk bersisian di sofa ruang tamu rumahku.

Kevin diminta tolong oleh kedua orang tuaku yang sedang kondangan untuk menemani anak gadisnya di rumah.

Sekarang jam 8 malam dan Mama Papa sudah pergi kondangan sejam jam 5 sore, namun sampai sekarang tak kunjung pulang.

Aku mendengus malas memnaca chat WA Mama yang mengabarkan bahwa ia sedang pacaran dulu dengan Papa baru pulang ke rumah.

Huh...

Merasa bosan, aku melirik Kevin yang sedang asik bermain game di ponselnya.

Entah setan darimana, aku seketika punya ide untuk menggoda Kevin kembali dan mengajaknya berciuman.

Mumpung di rumah masih sepi dan Mama Papa belum pulang. Hehe.

"Byy aku mau cium kamu." Ucapku sambil bergelayut manja di lengan Kevin.

Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, Kevin adalah pacar pertama ku dari sejak SMP sampai sekarang aku sudah kelas 12 SMA.

Dulu aku kira cintaku ke Kevin cuma sebatas cinta monyet anak SMP saja.

Tapi lambat laun setelah masuk SMA dan aku bertemu banyak jenis laki-laki, rasa cintaku pada Kevin tidak berkurang justru bertambah.

Kevin adalah tetangga komplek rumahku dan teman satu SMP, namun saat masuk SMA ini Kevin tidak bersekolah di tempat yang sama denganku.

Mendengar aku yang minta cium, Kevin sontak saja langsung menyodorkan pipinya ke arah ku untuk dicium.

Karena memang selama lima tahun pacaran, aku dan Kevin hanya sebatas pelukan, pegangan tangan, dan cium pipi kening saja.

Tidak ada cium-cium bibir apalagi adegan gr3p3-gr3p3 manja.

"Ish kamu mah" Aku berdecak melihat Kevin yang tidak peka.

Bahkan ia saja tidak mengalihkan pandangannya dari ponsel yang di pegang.

Kevin yang mendengar aku berdecak pun sontak mengangkat kepalanya dan melihat sang pacar yang sedang cemberut.

"Adudu sayangku jangan cemberut gitu donggg" Ucapp Kevin sambil menarik ku ke dalam dekapannya.

"Tau ah males, ngga peka kamu mah." Sebal ku sambil membuang muka.

"Nggak peka kenapa si sayang? kan kamu tadi minta cium, udah aku kasih pipi kamu malah melengos gitu."

"Ih iyaa aku emang minta cium tapi bukan di pipi byyyyy" Rengekku manja sambil menduselkan wajahku ke dada bidang Kevin.

"Terus kalau bukan di pipi dimana sayang?" Tanya Kevin sambil menatapku bingung.

"Bibir" Balasku cepat.

Kevin sontak membulatkan matanya, "Kamu ngomong apa sih yang? Nggak usah aneh-aneh."

"Kamu jahat. Kamu nggak cinta sama aku" Kevin menghela nafas kasar mendengar ucapanku.

"Nggak usah ngomong aneh-aneh Ira. Siapa yang bilang kalau aku nggak cinta sama kamu."

"Temen-temen ku."

Kevin menatapku bingung, "Maksudnya gimana?"

"Temen-temenku bilang kalau kamu bisa aja nggak cinta sama aku, karena kita udah pacaran lima tahun tapi belum pernah ngapa-ngapain."

"Siapa yang bilang gitu? Kita selalu jalan bareng kok dibilang nggak ngapa-ngapain sih yang"

Aku semakin berdecak dengan wajah sedih, "Bukan itu maksudku yang..."

"Terus apa sayang?"

"Kata temenku kita udah pacaran lima tahun dan itu waktu yang lama. Tapi kita sama sekali nggak pernah ciuman bibir. Wulan yang bahkan baru pacaran setengah tahun aja udah dicoblos sama pacarnya." Ucapku sedikit emosional.

"Ira!" Sentak Kevin yang terkejut mendengar aku berbicara seperti itu.

"Tuh kamu nggak sayang aku, kamu bentak aku" Balasku sambil menatap Kevin dengan mata yang berkaca-kaca.

Kevin mengusap wajahnya lelah, "Kamu nggak usah dengerin ucapan mereka yang, aku itu sayang sama kamu. Aku mau ngejaga kamu bukan mau rusak kamu dengan hal aneh-aneh." Jelas Kevin.

Terbawasa rasa emosi, aku tiba-tiba berteriak dengan kencang, "Tapi aku pengen ciuman sama kamu!"

Aku menatap Kevin dengan pelupuk mata yang semakin basah, "Kamu bener ya nggak sayang aku?"

"No… no... sayang, aku cinta sama kamu. Justru karena aku cinta sama kamu, aku nggak mau ngelakuin hal-hal yang kaya kamu bilang."

"You lie! Kamu pasti lima tahun ini cuma mainin aku aja kan? Cuma mainin perasaan aku yang baru pertama kali pacaran sama kamu?" Sentak ku.

"Oh jangan-jangan kamu jijik ya sama aku? Jadi kamu nggak pernah mau ciuman sama aku?"

"Atau kamu udah main belakang di luar sana? Iya?!" Bentakku semakin terbawa suasana.

"Ira! Language!" Bentak Kevin saat merasa omongan pacarnya sudah semakin ngawur.

Dalam hati Kevin mengumpat sumpah serapag.

Merutuki teman-teman gadisnya yang telah menodai pikiran polos Ira.

"Aku nggak jijik sama kamu sayang dan aku juga nggak ada main belakang kaya yang kamu bilang." Jelas Kevin dengan perlahan.

"Terus kenapa Kevin?!" Aku sedikit teriak sambil menghempaskan tangannya yang hendak merangkulku.

"Kamu nggak tertarik sama aku?" Tanyaku melihat Kevin yang menatapku dengan pandangan tak terbaca.

Aku tidak melihat adanya raut emosi disana.

Hanya sekilas tatapan mata ragu dan bimbang.

"Kevin! Jawab pertanyaan ku tadi! Kamu beneran nggak tertarik sama aku secara seksual?" Tanya ku mendesak Kevin untuk menjawab.

"Bukan begitu Ira sayang, aku sayang sama kamu. Aku cuma nggak mau merusak kamu." Jawab Kevin dengan kalimat yang sama.

"Aku cuma pengen ciuman sama kamu, Vin. Bukan minta diperawanin!"

Kevin menggeram tertahan, menatap mataku dengan sorot mata yang lagi-lagi tak bisa ku artikan.

"A.... akuu..." Kevin menjawab ragu.

Aku jadi semakin bingung menatapkan ketika mendengar kalimat terbata-bata dari Kevin.

"A...ak...u, aku nggak bisa Ra." Jawab Kevin dengan sorot mata yang menajam namun dapat kulihat bahwa pacarku itu sedang menahan emosi namun juga sedang ragu dan gelisah.

Melihat pacarku yang terkihat sedih itu, sontak aku kembali mendekatkan diri pada Kevin.

"Hei sayang, kamu kenapa? Nggak mungkin alasannya cuma karena kamu nggak mau ngerusak aku." Tanya ku sambil mengangkat dagu Kevin supaya matanya bertubrukan dengan mataku.

"Hei... heii... sayang calm down. Its okay... its okay..." Ucapku cepat saat melihat tatapan mata Kevin yang begerak kesana kemari tak fokus, serta kedua tangannya yang ku genggam berkeringat dingin.

Tak lupa badannya sedikit bergetar.

"Kevin kamu kenapaa? Hei hei sayang" Aku panik saat melihat Kevin seperti orang takut akan sesuatu.

Apa benar kata temanku kalau ada alasan tertentu yang membuat dia nggak mau ciuman?

Melihat Kevin yang melepas tanganku tiba-tiba sambil memundurkan badannya membuat ku semakin panik setengah mati.

Melihat Kevin yang seperti orang sakau, aku sontak saja langsung memeluk erat tubuhnya walau Kevin sempat memberontak dengan keras.

Entah datang darimana tiba-tiba aku punya kekuatan untuk menahan tubuhnya supaya tetap dipelukanku.

Tik... tik... tik...

Aku dan Kevin diam hanya detikan jarum jam yang berdentang yang bisa ku dengar.

Aku mengelus lembut punggungnya sambil menunggu Kevin supaya merasa lebih baik.

"M--maaf kamu liat aku begini." Cicit Kevin pelan.

Kevin melepaskan pelukanku tak lama kemudian, menatap mataku dengan sorot mata yang sudah lebih tenang.

Aku yang merasa bersalah dengan kondisi Kevin tadi pun sontak menglus pelan kedua telapak tangannya sambik menatapnya penuh sayang.

"A—ak—ku takut, aku bukannya nggak mau cium kamu, Ra. T—tapi"

"Tapi kenapa hm?" Tanyaku lembut sambil menatap wajah Kevin.

"Kamu mau denger alasanku?" Tanya Kevin menatapku ragu.

Aku sontak saja mengangguk cepat.

"Iya aku mau."

"Tapi aku takut kamu nggak mau deket sama aku lagi setelah aku bilang ke kamu alasan sebenarnya, Ra." Ucap Kevin sambil meremas kedua tangan ku pelan.

Nafasku tercekat.

Ada apa sebenarnya dengan Kevin? Apakah ia benar-benar trauma dengan hal berbau ciuman?"

Menatap mataku yang sarat akan permohonan, Kevin menggigit bibirnya ragu lalu menyugar rambutnya frustasi.

"Aku punya kelainan s3x, sayang." Jawab Kevin pelan sambil menggenggam kedua tanganku lalu dibawanya ke bibirnya untuk di ciumi.

Aku tiba-tiba kaku, mengerutkan dahi sambil berpikir, Kevin beneran homo?

"Kamu homo?" Tanyaku sambil melepas kedua tanganku cepat.

"Ra! Jangan sembarang ngomong. Pikiran dari mana itu." Kevin melotot kaget mendengar tuduhanku.

"Ya ya kan tadi kata kamu kelainan s3x yang, kata temenku juga kamu itu homo karena keliatan nggak tertarik sama badan seksi ku." Ucapku menatap wajahnya bingung.

Kevin yang mendengar ucapanku pun sontak terkekeh pelan, "Kelainan s3x belum tentu homo sayang. Lagian aku nggak suka main pedang-pedangan."

Aku semakin mengeryitkan dahi bingung, semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran Kevin.

"Terus kenapa dong sayang?" Tanyaku semakin penasaran.

Kevin kembali mengusap wajahnya, lalu menatapku dengan sorot mata pasti.

"Kamu janji dulu samaku nggak akan pergi dan mutusin aku setelah aku kasih tahu ya."

Kevin mengacungkan jari kelingkingnya ke hadapanku.

Aku yang sudah keburu penasaran pun dengan cepat mengaitkan kelingking ku padanya dan berucap, "Iya aku janji sayang."

"Kamu juga jangan jijik sama aku ya setelah aku bilang nanti?" Cetus Kevin menatap mataku dengan sungguh-sungguh.

"Iya aku nggak akan pergi dari kamu, aku nggak akan jijik sama kamu. Sekarang kamu kasih tau aku alasannya apa?"

"Kenapa kamu nggak mau ciuman sama ku?" Tanyaku pada Kevin dengan wajah tanda tanya.

"Sebelumnya aku mau minta maaf, aku nggak ada maksud untuk ngotorin pikiran kamu sama hal-hal aneh ini." Ucap Kevin yang langsung saja ku angguki.

"Aku bukannya nggak mau cium kamu, sayang. Aku pengen, pengen banget cium kamu. Pegang-pegang kamu yang seksi banget ini. Apalagi aku akhir-akhir ini nggak kuat sama kamu yang mendadak sering goda-goda aku. Aku pengen ngelakuin semua yang temen-temen kamu bilang sama kamu. Kamu jangan lihat wajahku yang datar ini tiap kali kamu pake baju seksi di hadapanku, karena sebenernya aku sangat ter4ngs4ng sama kamu. Aku pengen merasakan tubuh kamu di dalamku yang... tapi aku nggak bisa, aku nggak bisa." Jelas Kevin padaku diakhiri dengan gelengan pelan saat kalimatnya sudah diujung.

Aku salah fokus, mendengar ucapan Kevin yang mengatakan bahwa ia terangsang melihat aku pakai baju seksi dan menggodanya akhir-akhir ini membuat wajahku memeran dan memanas.

"K—kenapa kamu nggak bisa?" Tanyaku sedikit gugup tak lama kemudian.

"Emmm a—aku nggak tahu sejak kapan pastinya aku sadar kalau aku punya kelainan s3x, sayang. Tapi, setiap aku m4stub4s1, aku selalu pakai kamu untuk jadi bahan objek fantasiku. Tapi bukan cuma kamu sendiri, tapi juga sama Om Kenzo. Aku sering ngebayangin fantasi aneh tentang kamu yang disentuh oleh papa kandungmu sendiri. Dan pikiran kaya gitu bener-bener buat aku bergairah banget."

Setelah mengucapkan kalimat ittu, Kevin memejamkan matanya, menatapku yang terkejut dengan bola mata membesar.

"Aku pengen sebelum aku nyentuh kamu, aku ngeliat kamu yang disentuh Om Kenzo. Ngeliat Om Kenzo yang gagah dengan sifat dingin dan cueknya sama kamu yang seksi dengan sifat manja dan polos selalu sukses buat aku tegang, Ra."

Lagi, aku terkejut mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut Kevin.

Benar-benar tidak terpikirkan bahwa pacarku memiliki fantasi seperti itu terhadapku.

Aku bingung.

Aku nggak tahu harus bereaksi kaya gimana.

Jadi yang bisa kulakukan hanya menatap Kevin tanpa suara.

"Maaf, maaf banget sayang aku mikirin hal aneh tentang kamu dan Papa kaya tadi. Tapi setiap memikirkan itu rasanya aku merasa gila namun juga bergairah. Aku terserah sehabis ini kamu mau kaya gimana sama aku. Karena kamu emang berhak marah karena fantasi gilaku tadi. Maaf sekali lagi sayang. " Ucap Kevin sambil mengelus pelan rambutku.

Melihat aku yang masih bergeming, Kevin berdiri dari tempat duduknya, "Aku pulang ya sayang dan maaf sekali lagi atas apa yang udah aku ucapin. Kamu bisa lupain aja semua omongan ku dan nganggep kalo itu cuma omong kosong belaka."

Aku hanya diam, menatap punggung Kevin yang lama-lama menjauh dari pandanganku.