Pagi menyapa.
Kini aku sedang berjemur di
pinggir kolam renang dengan Aksa yang menyusu pada ku.
Hari ini tanggal merah, sehingga membuatku
jam 9 pagi masih asyik menyusui Aksa dengan
tubuh setengah t3l4n j4ng.
Awalnya aku
menggunakan oversize navy dengan underwear putih.
Tapi
karena cuaca yang menurut ku sangat panas, jadilah aku menyusui Aksa dengan membuka oversize ku.
Membuat tubuh bagian atasku t3l4n
j4ng dan hanya terbalut celana dalam.
"Papa kenapa liatin aku gitu
banget?"
Dalam duduk
bersandar di kursi pantai, aku melirik Papa yang tanpa kedip menatapku.
Menatap ke arah p4yu
d4 r4ku yang sedang dihisap Aksa lebih tepatnya.
"Enak sayang?"
Aku mengangkat
alis, bingung dengan pertanyaan Papa
"Enak gimana
Pah?"
Papa berkedip,
"T 3 t 3 kamu diisep Aksa gitu enak nggak? Rasanya kaya gimana?"
"Ih Papa kok
jadi absurd gini sih" Aku terkekeh mendengar jawaban Papa.
"Nyusuin
itu enak kok, Pa. Rasanya geli-geli gitu. Sama kaya kalau Papa
nyusu ke aku. Cuma bedanya, kalau nyusuin Aksa itu dia nggak bringas suka
gigit-gigit pu t! n g kaya Papa." Namun tak ayal aku menjawab rasa
penasaran Papa. Sengaja memberikan perbandingan yang jelas.
Aku tidak
bercanda kok. Rasanya menyusui itu enak. Geli-geli kadang juga cenut-cenut.
Tapi t 3 t 3p lebih enak kalo di emut pake mulut
Papa.
Soalnya pake nafsu. Jadi makin enak.
"Papa kok udah
pulang? Mama mana?" Tanyaku.
Karena tadi kedua
orang tuaku bilangnya mau pergi ke supermarket sejak pagi.
"Mama ketemu
temennya tadi di supermarket. Biasa ibu-ibu arisan itu sayang, jadi Papa disuruh pulang aja sama
Mama mu itu" Jawab Papa sambil melepas kancing atas baju polo yang
digunakannya.
Mendadak Papa
sangat merasa gerah.
Cuaca panas ditambah tubuh molek anaknya yang
t3l4n j4ng adalah perpaduan neraka juga surga dunia.
Aku melirik penuh
minat pada dada bidang Papa yang sedikit tercetak di baju yang digunakannya.
Dada bidang yang akhir-akhir
ini sering aku jadikan sebagai bantalan tidur.
Sejujurnya aku sedikit heran.
Papa itu sudah
kepala empat tapi kenapa otot-otot tubuhnya seperti laki-laki pertengahan dua puluh yang
sedang dimasa jayanya.
Dulu, aku skeptis
sama kalimat yang bilang kalau cowok itu makin tua makin ganteng.
Tapi, setelah
beberapa bulan terakhir ini melihat seluruh tubuh Papa tanpa inci, aku jadi
percaya akan kalimat itu.
"Shhhh ahh Aksa
enghh" Aku meringis.
Sedikit ngilu ketika Aksa tiba-tiba
menyedot asinya dengan kencang.
Membuat pu t! n g
dadaku kaget akibat tempo hisapan yang berubah.
"Ahhh
sayangnya kakak haus yaaa hmm" Aku mengelus punggung Aksa yang sedang
tengkurap di dadaku. Asik menyusu pada p4yu d4 r4 kiriku.
Aku melirik
Papa.
Mendadak tubuhku merasakan g4
!r4 h ingin dipuaskan akibat r4 ng s4ngan Aksa yang tidak sengaja.
Aku akui bahwa
akhir-akhir ini tubuhku seperti jalang kurang belaian.
Apalagi saat
sudah merasakan nikmatnya bersetubuh.
Sedikit dikasih
r4 ng s4ngan saja g4 !r4 h ku langsung terpatik.
"Ouhh Aksaaa sayang
enghh pelan- pelan adekk"
Seakan bisa mendengar pikiran terdalam ku,
Aksa semakin rakus melahap asi dari p4yu d4 r4 ku.
Membuat suara decapan bibir
mungil Aksa terdengar di telingaku dan mungkin Papa.
Aku mengerang.
Sengaja
mengeluarkan d3 s 4 han seksi untuk menggoda Papa.
Lalu ku benarkan
posisi duduk ku dan membuka kedua kaki ku lebar.
Mempertontonkan v4g1
n 4 ku yang menyembul malu-malu di sela celana dalam yang ku pakai.
Gleg.
Papa yang dalam diam terus menatap kedua
anaknya itu menelan ludah susah payah.
Pertahanannya
selalu runtuh tiap kali anaknya itu mend3 s 4 h karena hisapan Aksa.
Sama seperti
bagaimana Ira yang seperti jalang kurang belaian.
Papa juga
bertingkah seakan pria hidung belang yang otaknya cuma selangkangan.
Pikirannya setiap
hari pengen ng3n t 0 tin m 3 m 3 k anak binalnya itu.
"Pah tolong
ambilin aku es krim dong di kulkas, kemarin dibeliin Kevin belum aku
makan." Pinta ku dengan manja pada Papa.
"Kamu mau es
krim sayang?"
Aku mengangguk
lalu menatap wajah tampan Papa yang sudah berkilat menahan g4 !r4 h.
Aku sudah hafal
setiap gerak tubuh Papa.
Selalu
berhubungan badan beberapa waktu ini, aku seakan sudah hafal luar dalam
bahasa tubuh Papa.
Terkhusus jika Papa kandungnya itu sedang
bernafsu padanya.
Setelah perawanku
dijebol Papa, tiada hari tanpa aku disetubuhi.
Setiap ada kesempatan
Papa selalu mencabuliku.
Aku yang memang
juga nikmat atas perlakuan Papa hanya bisa menerima saja.
Walaupun tubuhku
akan selalu remuk esok harinya.
Tak berselang
lama, Papa sudah duduk di tempatnya semula.
Kursi pantai yang
dulu pernah diduduki Mama menonton kegiatan cabul ku dan Papa di pinggir kolam.
"Kok Papa shirtless? Mau berenang?" Tanya
ku melihat Papa yang bert3l4n j4ng dada dan hanya
pakai boxer tipis.
Membuat aku bisa
samar-samar melihat senjata Papa dibaliknya.
"Nggak. Papa mau ng3n
t 0 tin kamu."
Papa menyeringai,
menatap anak gadisnya dengan mata berkilat nafsu.
Sengaja ia jilat
bibirnya dengan mata memindai tubuh seksi anaknya yang sedang duduk
bersandar.
Aku yang mendengar
ucapan Papa sontak bersemu.
Wajahku memerah
dan bisa kurasakan v4g1 n 4 ku berdenyut.
Seakan turut
merespon kalimat kotor Papa tadi.
"Kan semalem
udah Pa" Balasku dengan memalingkan wajah.
Tak mampu
bersitatap dengan wajah tampan Papa yang selalu sukses membuat aku luluh.
Membetulkan
posisi Aksa yang sudah terlelap di pelukanku, aku membuka bungkus es krim
cone kesukaanku.
"Kok Papa keluarin semua es krimnya? Nanti
cair Pah" Ujar ku baru sadar bahwa Papa mengeluarkan dua es krim cone dan
satu cup es krim yang Kevin belikan.
Aku mulai memakan
es krim favoritku.
Menjilatinya
dengan gerakan slow motion. Sengaja menggoda Papa yang sudah menyumpah serapah
dalam hati.
"Papa
mau?" Aku menjulurkan cone es krim ku pada Papa.
Menampilkan wajah
pura- pura polos seakan tak berdosa.
Papa yang melihat
anaknya itu menjulurkan es krim yang tersisa sedikit itu pun menyeringai.
Lalu Papa bangkit
dari duduknya dan…
Cup.
Papa mencium
bibir seksi anaknya setelah melahap es krim milik Ira.
Enghhh…
Aku mengerang.
Tak kaget dengan gerakan
Papa yang tiba-tiba menciumku. Karena aku sudah
terbiasa.
Cup cup cup slurppppppp
"Ughh manis enakkk sayang"
Papa berujar disela-sela hisapan bibirnya
pada bibirku.
Rasa dingin
akibat es krim yang Papa masukan lewat bibirnya menambah kenikmatan
tersendiri.
Benar kata Papa.
Jadi lebih manis. Dan aku suka.
Bibir ku dan Papa
masih saling melumat.
Saling berperang
lidah dan bertukar ludah.
Membuat mulutku
basah oleh air liur kami.
"Enhhh Pahhh"
Ku tepuk pundak Papa berulang ketika nafasku habis.
Papanya itu suka
sekali membuatnya kehabisan nafas.
Menciumnya penuh
nafsu seakan itu adalah ciuman terakhirnya pada bibirku.
"Enghh Papah
mau ngapain jangan dibuka hhhh."
Bertolak belakang
dengan ucapanku yang melarang Papa membuka cd.
Tubuhku justru
bergerak dengan sendirinya.
Spontan menekuk
lutut dan membukanya lebar.
Seakan menyajikan
hidangan paling nikmat yang sudah siap disantap.
"Belum Papa
apa-apin loh sayang udah becek aja kamu hm. Nggak puas emang semaleman Papa k-n
t 0 lin m 3 m 3 knya?" Papa menyeringai, menjilat bibirnya penuh nafsu
melihat v4g1 n 4 anaknya yang sudah mengkilat karena cairan cintanya keluar.
Mendengar ucapan Papa, wajahku perlahan
memerah.
Sedikit malu juga
jengah karena Papa tanpa kedip menatap v4g1 n 4ku.
Seakan sedang
menatap mahakarya paling indah di dunia.
Dah memang benar.
Papa selalu
menganggap bahwa v4g1 n 4 anaknya itu adalah mahakarya yang
patut dikagumi.
Dimatanya, v4g1 n
4 Ira setara dengan kecantikan Menara Eiffel di malam hari.
Tanpa cela.
"Pelan-pelan
Pa, Aksa tidur." Ucapku ketika Papa menarik pelan kedua kaki ku.
Membuat tubuhku
sedikit merosot dari senderan.
Sedikit tak
nyaman, namun posisi ini membuat Papa semakin mudah bermain di v4g1 n 4nya.
Jika Papa nyaman,
aku juga pasti akan merasakan imbasnya.
Karena pastinya Papa
akan memberikan aku kenikmatan tiada tara.
Dengan perlahan,
Papa yang sudah berjongkok di depan v4g1 n 4ku pun mulai menjulurkan lidah dan
menggerakkan bibir.
Mulai menciumi
kaki putih ku yang jenjang.
Dari lutut hingga pangkal paha,
Papa kecupi setiap inci tubuh Ira.
Membuat anaknya
itu kelojotan karena merinding di sekujur tubuh.
Engh…
Aku mengerang
lirih, merasa geli ketika mengecup lalu menyesap paha dalam ku kencang.
Membuat v4g1 n 4
ku semakin berdenyut karena merasakan r4 ng s4ngan yang Papa berikan.
"Ahhh Pahhh
Enghh geli" Ku tekuk jari jemariku ke bawah karena menahan gelenyar aneh
akibat r4 ng s4ngan Papa.
Cup. Cup.
"Bersih.
Wangi. Seksi. Papa selalu suka sama m 3 m 3 k kamu sayang" Ujar Papa tepat
di depan bibir v4g1 n 4 ku yang sudah becek.
Wajahku semakin
memerah dengan nafas yang memburu.
Tidak sia-sia aku
selalu menjaga kebersihan tubuhku.
Berkat Mama
juga yang selalu mengajariku untuk merawat tubuh
dengan baik.
Karena bagi
wanita, selain wajah, tubuh adalah aset utama.
"Ahhh Papahhh"
Aku mend3 s 4 h
lirih ketika Papa mencolek v4g1 n 4 ku menggunakan telunjuknya.
Melihat v4g1 n 4
anaknya yang becek penuh lendir, Papa semakin bernafsu ingin segera menyodok p3n
! snya yang sudah menegang hebat.
Namun, Papa
dengan sekuat tenaga menahan nafsunya.
Papa ingin lebih
dulu memuaskan sang anak yang sudah meliuk- liukan tubuhnya akibat jarinya yang
sudah keluar masuk dilubang surga Ira.
Masih dengan jari
telunjuk di lubang sang anak, Papa mendekatkan wajahnya.
Lalu mulai
menjilat dan menghisap v4g1 n 4 anaknya.
"OUHH PAHHHH"
Tubuhku tersentak
seakan tersengat listrik kala Papa dengan ganas menghisap v4g1 n 4nya.
"Ahh ahhh
Pahh ouhh pelannnn nantii ahhh Aksaaaa bangun" Aku melenguh. Menahan tubuh
Aksa yang sedang tertidur di dadaku.
Tubuhku meliuk.
Kaki ku bergerak tak nyaman ketika hisapan lidah Papa dan kocokan jarinya
semakin cepat.
"Ahhh Pahhh ouhhh enakkkk enghhhh"
Aku
menggelinjang. Mend3 s 4 h kencang tanpa peduli bahwa kami sedang di luar
rumah.
Walaupun kolam
renang juga merupakan bagian belakang rumah yang aku tempati, tapi tetap saja
rasanya seperti melakukan public s 3 x di tempat umum.
Walaupun sekarang
tidak ada yang melihat perbuatan bejat ku dan Papa.
Cup. Cup slurppppppp
"Emhhh
enyakkk" Papa bergumam tak jelas.
Semakin lahap
menghisap dan menjilat v4g1 n 4 anaknya.
"Hmmm jangan
gerak-gerak sayang itu adikmu kasian nanti kebangun" Papa berucap sambil
menahan paha Ira yang
bergerak-gerak tak nyaman karena ulahnya.
"Ahhh Pahhh ouhhhh akuuu mau mun
c r4tt ahhh geliii"
Aku memejamkan
mata.
Menggigit bibir
menahan d3 s 4 han ku yang ingin aku teriakan.
Jika tidak
mengingat Aksa yang sedang tertidur di dadaku, aku akan mend3 s 4 h dengan
kencang.
Meneriakan nama
Papa atas perlakuan nikmatnya pada bagian intimku.
"Ahh ahhh
Pahhh ahh fasterrr ouhhhhh iyaaaa gituuu enghhh"
Lidah dan jari
Papa bergerak seirama.
Bekerja sama
menghabisi v4g1 n 4 anaknya yang becek.
Membuat putri
kandungnya itu memohon ampun saking nikmatnya.
D3 s 4 han juga
erangan anaknya itu sukses membuat libidonya semakin naik tinggi ke puncak.
Dalam berhubungan
badan Papa cenderung lebih suka s 3 x yang berisik.
Karena itu, Papa
senang sekali saat tahu bahwa anaknya itu tipe yang berisik tiap kali
dicabuli.
Menurun dari
istrinya yang juga tak berhenti mend3 s 4 h setiap kali disetubuhi.
Melihat anaknya yang selama ini ia kira polos
berubah menjadi binal, memberikan kepuasan tersendiri bagi Papa.
Papa bahkan
semakin tertantang ingin membuat anaknya itu berlagak seperti jalang.
Akan ia buat Ira
tidak bisa hidup tanpa ng3n t 0 t.
Akan Papa buat
anak kandungnya itu tak pernah puas dengan sodokan p3n ! snya.
Biarlah dikata
bejat atau tak tahu malu.
Karena bagi Papa
yang penting anaknya itu mau tiap kali ia gagahi.
"Ahhh ahh
Pahh ouhh iyaa gituuu enghh sodok yang kerass Pahhhh AHHHHH" Aku
m 3 m 3 kik tak tahan ketika Papa menambah jarinya didalam sana.
Membuat v4g1 n 4
ku penuh sesak karena empat jari Papa menyodok lubangku.
Belum lagi lidah Papa yang juga menjilat
kl! tur!snya.
Menggigit kecil lalu
menghisapnya rakus.
"AHHH AHHH
PAHHH AKUUU MAU MUN C R4TTTT OUHHHHHH"
D3 s 4 hanku
menggema. Lalu kutepuk-tepuk bokong Aksa yang tidurnya sudah terusik akibar
suara d3 s 4 hanku.
"Nghh ouh Pahh
ahhh ahh ak-akuuu huhh huhh"
Papa semakin
cepat mengocok v4g1 n 4 anaknya ketika melihat Ira semakin kelojotan.
Clok clok clok
Papa semakin cepat
menggerakan tangannya.
Membuat suara
sodokan tangan dan cairan cinta yang anaknya keluarkan itu beradu.
Menghasilkan
suara 3r 0t ! s di pagi yang panas ini.
"AHHH AHH PAHHH OUHHHH CEPETTT
BANGETTT ENGGG AKUU NGGAK KUATTT AHHHH"
"Ahhh ahhh Pahhhhh ahh enakkk ouhh"
Aku mend3 s 4 h
tanpa henti.
Mengerang kencang
kala Papa menemukan titip G-spot milikku.
Membuat tubuhku semakin kelojotan
tak bisa diam.
Saking nikmatnya,
aku bisa merasakan ada setitik air mata menetes di pelupuk mataku.
"AHHH AHHH PAHHH
OUHHHH AKUU MUN C R4TTT AHHH"
C R 0 T C R 0 T C
R 0 T
CURRRRRR
Bersamaan dengan sodokan terakhir Papa, cairan putih keluar dari v4g1 n 4 ku
dengan deras.
Aku squirt. Lagi dan lagi mengeluarkan hujan
air mani dari v4g1 n 4ku.
Membuat
Papa yang melihatnya semakin menyeringai penuh nafsu.
Cur
currr cur
Tubuhku bergetar.
Walaupun tak sederas sebelumnya, v4g1 n 4ku masih berkedut dan mengeluarkan
cairan cinta.
Hah hah hahh
Aku menghembuskan
nafas. Dadaku naik turun setelah puas orgasme.
Kembali
terkencing-kencing di hadapan Papa yang sedang membuka bungkusan es krim cone
yang sudah sedikit mencair.
Papa menyeringai.
Menatap Ira dengan
nafsu ketika satu buah es krim cone sudah di
tangan.
Seperti yang Papa
inginkan. Akan ia buat anaknya itu jadi jalang binal.
Karena itu,
langkah pertama yang akan Papa lakukan adalah mengenalkan berbagai jenis gaya
bercinta pada Ira.
Termasuk yang
satu ini. Makan eskrim di m 3 m 3 k Ira.
"Ouhh Papah
ngapain" Aku bergidik. Sedikit mengangkat kepalaku untuk melihat Papa.
Sensasi dingin yang ku rasa di v4g1
n 4 ku tadi membuat mataku melek.
Melihat mata
anaknya yang melotot, Papa justru terkekeh.
Lalu ia oleskan es krim coklat
itu ke v4g1 n 4 Ira yang becek.
Papa melumuri seluruh permukaan v4g1
n 4 hingga pe paha Ira menggunakan es krim.
Membuat aku
merasakan sensasi baru dalam bercinta
Rasa dinggin dari
es krim yang melumuri v4g1 n 4 dan pahaku semakin membuat v4g1 n 4 ku
berdenyut.
Nafasku kembali
memburu dengan suara desisan kecil.
"Ahhh Pahhh m
3 m 3 k ku dinginnn"
"Ouhh udahh Pahh ahhh jangann
lagii enghh"
Aku mendesis
ketika Papa membuka belahan v4g1 n 4 ku.
Lalu mengoleskan
banyak es krim disana.
Papa yang melihat
seluruh v4g1 n 4 Ira tertutup es krim coklat pun menyeringai penuh g4 !r4 h.
Slurppp slurppppp
Setelahnya Papa langsung
mendaratkan bibirnya di paha putih bersih Ira, menjilatnya
habis lalu beralih ke v4g1 n 4 tembem Ira.
Menyesap habis
seluruh es krim favorit beserta m 3 m 3 k favoritnya.
Rasa manis es
krim bercampur asin dari cairan berlendir Ira membuat lidah Papa merasakan
nikmat tiada tara.
"Ahhhh Pahhhhh ouhhh"
Aku
menggelinjang. Tubuhku kembali meremang ketika Papa menyesap v4g1
n 4ku.
Lalu menggigit kl!
tur!sku yang sudah membengkak karena ulah Papa.
"PAHHH OUHHHHHHH"
Aku m 3 m 3 kik
kala merasakan benda tajam menusuk lubang v4g1 n 4 ku.
Karena penasaran,
aku menumpukkan tubuhku menggunakan satu tangan.
Dengan tangan
lain menyangga tubuh Aksa yang sudah terbangun dan sedang menyusu.