A A

Tubuhku seakan dibelah dua ketika selaput daraku dirobek.

Membuat aku bisa dengan jelas merasakan seluruh p 3n ! $ Papa masuk ke dalam liang senggamaku.

Aku bahkan meneteskan air mata karena sakit yang kurasa berkali-kali lipat dari sebelumnya.

Cup.

Papa mencium bibir Ira.

Berusaha membuat tubuh anak gadisnya itu rileks dan berhenti bergetar.

Cup. Cup

Papa menciumi keseluruhan wajah Ira.

Memberikan kehangatan pada putri kandungnya yang sedang kesakitan.

"Enghh Pahh sakithh"

"Kamu diem dulu Pah  biarin m3 m 3k Ira terbiasa sama k0 nt 0 l kamu" Mama nyeletuk.

Menonton adegan dimana suaminya memperawani anak gadisnya membuat ia mendesah lirih.

Bahkan hanya dengan menonton adegan tak senonoh itu dan rangsangan pada pu t! n gnya yang sedang dikenyot, Mama juga sudah mencapai klimaksnya.

"Pahhh enghh penuh banget m3 m 3k ku enghh sakit"

Papa mengangguk, lalu mengusap air mata yang tadi menitik di wajah sang anak.

"Papa gerak ya? Sakitnya cuma sebentar aja kok, kalau digerakin nanti jadi enakk enghh."

Melihat mata berkabut Papa, dengan kaku aku menganggukan kepala.

Walaupun bagian bawahnya masih perih, tapi ia juga sedikit tak tahan dengan sensasi gatal dan penuh di v 4 g1 n 4nya.

"Enghhh Pahh" Aku mengerang ketika Papa memundurkan p 3n ! $nya.

Gila? Kenapa rasanya sakit tapi juga enak?

Aku mengepalkan tangan.

Excited dengan apa yang akan aku rasakan beberapa saat lagi.

Walau sakit, tak menampik bahwa aku juga merasakan nikmat.

"Erghhh sayang m3 m 3k kamu sempit bangethhh enhh" Papa memejamkan mata.

Menyumpah serapah merasakan jepitan lubang putri kandungnya yang peret.

Membuat akses maju mundurnya sedikit sulit karena ini pertama kalinya bagi Ira.

"Ahh ahh ahh Pahhh ahhh" Aku memejamkan.

Sesekali ku gigiti bibir menikmati rasa asing yang melingkupi tubuhku.

Rasa perih juga nikmat menjadi perpaduan apik yang pertama kali ku rasakan.

Merasakan p 3n ! $ Papa yang sebelumnya hanya aku oral dan ku manjakan pakai tangan kini melesak masuk ke dalam lubang sensitifku, membuat birahiku semakin membumbung tinggi.

Perih yang tadi dominan ku rasakan kini sudah berganti dengan kenikmatan tak terkira kala tubuhnya sudah semakin rileks.

"Ahhh ahh Pahhh ouhhh ahhh enakkk ahhhh" Tak bisa ditahan. Desah keenakan ku akhirnya keluar dari bibir seksiku.

Membuat dopamin sendiri bagi Papa yang masih menggerakan pinggulnya dengan tempo sedang.

Membiasakan lebih dulu v 4 g1 n 4 anaknya dengan p 3n ! $nya yang besar.

"Ahhh ahhh Pahhhh ouhhh"

Papa yang makin lama mendengar desahan nikmat sang anak sontak menyeringai.

Papa bisa rasakan bahwa v 4 g1 n 4 Ira lama kelamaan menerima p 3n ! $nya.

Karena itu, Papa lalu mencengkram pinggang anaknya kuat-kuat setelah frekuensi genjotannya ia turunkan semakin pelan.

"Enghh ahhh kok berhenti Pahh" Aku mendesah frustasi ketika kenikmatan yang tadi kurasa lama kelamaan hilang.

"AHHHH PAHHHH OUHHH"

Namun tak lama aku justru menjerit ketika Papa dengan sengaja menghentak p 3n ! $nya brutal. 

"Enghhh Pahhh ahhh dalemmm bangettt ughhh"

Aku menggelengkan kepala, mencengkram bokong seksi Papa ketika merasakan p 3n ! $ Papa yang tadi menghentak kuat sampai seluruhnya masuk ke dalam v 4 g1 n 4ku.

Aku meraba perut bawahku. Merasakan tonjolan disana akibat p 3n ! $ Papa yang masuk sangat dalam di v 4 g1 n 4ku.

"Ahhh Pahhh"

Tubuhku terhentak-hentak ketika Papa melakukan hal itu berulang-ulang.

Rasanya sakit namun juga nikmat. Aku jadi bisa merasakan seberapa besar p 3n ! $ Papa di liang senggama ku.

"Enghhh Pahh ahhh jangan digituin teruss ahhh sodok m3 m 3k aku enghh gatelll" Pintaku merengek pada Papa.

Papa bersikap abai. Ia malah mendorong p 3n ! $nya sekali lagi.

Menghentak dengan semangat lubang senggama putri kandungnya.

Melihat bagaimana lubang sempit Ira menelan habis p 3n ! $ besarnya sukses membuat mata Papa semakin berkilat penuh nafsu.

"Ahhh ahhhh Pahhh ouhhh pelannnnn ahhhanjing ahhh"

Desahanku menggila ketika Papa tanpa ampun menghujam p 3n ! $nya.

Menyodok v 4 g1 n 4 ku dengan cepat dan penuh tenaga.

Aku tak peduli lagi dengan bahasa kotor juga umpatan sumpah serapah yang bibirku keluarkan.

Kepalaku kini hanya ada k0 nt 0 l, k0 nt 0 l dan k0 nt 0 l Papa.

Sama sepertiku.

Papa yang sedang asik menyodok v 4 g1 n 4 anaknya penuh tenaga itupun kewarasannya  sudah  hilang  setengah  kala merasakan pijatan lembut dan sempit v 4 g1 n 4 Ira pada p 3n ! $nya.

Membuat Papa seakan mau muncrat saat itu juga.

"Enghh ahh ahh ahhh Pahh ouhh pelannn ahhh kencenghh bangettt ughhh"

Tak menghiraukan racauan Ira yang meminta ia memelankan tempo Papa justru semakin cepat menggerakan pinggulnya maju mundur.

Menghujam secara brutal v 4 g1 n 4 anaknya yang sudah semakin becek karena cairan cinta yang keluar.

Membuat gerakan maju mundurnya terasa lebih mudah untuk dilakukan.

Plok. Plok. Plok. Plok. Plok.

"Ahhh ahhh Pahhh ouhhh enakkk bangett ahhh" Aku menggigit bibir, mengangkangkan kakiku semakin lebar ketika hujaman Papa semakin tak beraturan.

Membuat aku yang baru pertama kali merasakan nikmatnya bercinta kelabakan akan sensasi gairah serta gelombang kenikmatan yang melanda.

Anjing. Ternyata bener kata orang. Ngent0t itu enak banget bangsat.

Aku mendesah. Mengumpat dalam hati. Fuck.

Kenapa nggak dari dulu aja gue minta ngent0t sama Papa kalau rasanya enak banget gini anjing.

"Ahhh ahh Pahhh ouhhhh k0 nt 0 l Papa gede bangettt ahhh penuhhh"

"Ernghhh kamu sukaa sayang m3 m 3knya Papa k0 nt 0 lin gini hem" Tanya Papa disela-sela sodokan p 3n ! $nya.

"Ahhh ahhh ahhhh..."

"Ah fuck m3 m 3k kamu sempit banget sayang enghh enak bangetttt" Papa berucap. Mengatakan sejujurnya apa yang ia rasakan.

"Hadiah enghh k0 nt 0 l Papa hadiah buat ulang tahun kamu"

"Ahhh iyaaa Pahh ahhh"

"Kamu suka nggak? Sama hadiah k0 nt 0 l dari Papa? Delapan belas tahun dan kamu dapet hadiah terbaik dari Papa erghhh"

"OUHHHH PAHHH ahhh enakk ahhh enakkk akuu sukaa enghh k0 nt 0 l Papa"

Plok. Plok. Plok.

Tumbukan p 3n ! $ juga v 4 g1 n 4ku berbunyi dengan nyaring di sela dirty talk yang sedang aku dan Papa lakukan.

Menambah kesan kotor dari setiap kalimat yang kami keluarkan.

"Ahhh ahh kalau tahu m3 m 3k kamu seenak ini, udah dari lama kamu Papa ent0t udah dari lama Papa nyodok m3 m 3k peret kamu ini"

"Ahhh ahhhh Pahhh ouhhhh enakk bangettt ahhhh"

Aku memeluk tubuh kekar Papa.

Melingkarkan kakiku ke pinggang Papa yang masih bergerak maju mundur.

Mendengar penuturan frontal Papa selalu berhasil mematik gairahku semakin tinggi.

"Ahhh ahhh Pahhh ouhhh enakk bangett ahhhh k0 nt 0 l Papa nyodok dalem bangettt"

Aku meremas rambut Papa ketika laki-laki pertama yang menggagahi ku itu sedang bermain di pucuk p4y ud4r4ku.

"Ahh iyaa Pahh gituu enghh enakkk bangetttt ahhh"

"Ahh Pahh iyaa enghh enakkkk ahhh"

Bersamaan dengan Papa yang menggerakan pinggulnya memutar, Papa menyambar bibir Ira tuk ia ajak berperang lidah.

Saling membelit dan menghisap satu sama lain.

"Enghh enghh" Aku sedikit kewalahan mengimbangi ciuman Papa yang sangat menuntut dan juga kasar.

Baru pertama kali Papa menciumku dengan beringas seperti ini.

Seakan ingin memakan seluruh bibirku sampai habis.

"Enghh Pahh" Aku terengah-engah, menghirup oksigen dengan rakus ketika tautan bibirku dan Papa lepas.

Namun, kegiatan ku menghirup oksigen tak bisa berselang lama karena Papa yang kembali brutal menyodok v 4 g1 n 4 ku.

"Ahhhh ahhhhh Pahh ouhh aku mau pipiss ahhh mauuu pipissss"

Tubuhku menggelinjang.

Papa justru asik memelintir dan menarik-narik pu t! n g p4y ud4r4ku.

Sesekali meremasnya kencang sampai asi ku tumpah-tumpah. Membasahi tubuhku yang sudah basah oleh keringat

Plok plok plok

"Ahhh ahh Pahhh."

Bunyi penyatuan v 4 g1 n 4ku dan p 3n ! $ Papa memenuhi kamar.

Semakin menambah suasana 3r 0t !$ yang melingkupi kami.

"Ahh ahhh Pahh ouhh aku mau muncratt ohh mau muncratt Pahh"

"AHHHH PAHHH OUHHHHHH.. "

CR0T CR0T CR0T

CURRRRR

Aku muncrat. Orgasme ku datang. Dan yang lebih mengejutkannya lagi aku kembali squ! r t.

Cairan berlendir keluar dengan deras dari v 4 g1 n 4 ku yang sudah tak disumpal p 3n ! $ besar Papa.

Keluar seperti air kencing yang biasa aku keluarkan.

Papa yang melihat anaknya itu squ! r t memang sengaja mencabut p 3n ! $nya, ingin melihat bagaimana v 4 g1 n 4 merekah anaknya itu terkencing-kencing karena sodokannya tadi.

"What a naughty girl, squ! r t berkali kali" Papa terkekeh. Menyeringai senang ketika anaknya kembali squ! r t karena ulahnya.

Tak membiarkan anak kandungnya itu menikmati klimaksnya, Papa menarik pinggang Ira mendekat, lalu ia melesakkan p 3n ! $nya yang semakin keras dengan sekali hentak.

"OUHHH PAHHHH" Tubuhku meliuk. Menjerit nikmat ketika Papa kembali mengobrak-abrik v 4 g1 n 4 ku yang masih mengeluarkan cairan cinta.

"Ahhh Pahhh ouhhhh ahh aku masih enghh lemesss ouhhh" Aku merengek.

Memohon pada Papa untuk berhenti menggenjotnya.

Membiarkannya menikmati pelepasan hebatnya dulu.

Namun sayang seribu sayang, Papa yang isi kepalanya sudah berkabut penuh nafsu tak mengindahkan rengekan sang anak.

Papa justru menabrak dinding rahim Ira penuh nafsu.

"Ouhh Pahhh dalemmm bangettt ahhh"

Papa semakin menggila ketika jepitan v 4 g1 n 4 Ira pada p 3n ! $nya semakin mengerat.

Membuat Papa dilanda gelombang kenikmatan tiada tara.

"Ahh ahhh makan nih k0 nt 0 l Papa ahhh"

"Erghhh dasar m3 m 3k lacur ouhh m3 m 3k anjing perettt bangett"

Papa meracau gila.

Dengan kekuatan penuh dan dopamin nafsu ia kembali menyodok v 4 g1 n 4 Ira yang sudah semakin becek.

"Ahhh ahh Pahh ouhhhhhh"

Aku menggelengkan kepala dengan mata berair.

Merasakan kenikmatan sentuhan c4 b ul Papa pada tubuhku.

Sendi-sendiku sekaan lemas, membuat tubuhku seakan berubah menjadi jelly.

PLOK PLOK PLOK

Papa menghujam dengan keras.

Lalu ia tekuk satu kaki Ira. Membuat p 3n ! $nya melesak semakin jauh di dalam sana.

"OUHH PAHHH AHHH nooo ahh jangan digituin uhhh" Aku merem melek.

Menjerit kencang ketika jempol Papa mencubit kl! t0r !$ku pelan.

Tubuhku menggelinjang.

Tersentak kaget karena rangsangan pada kl! t0r !$ku.

Dengan masih menyodok kuat p 3n ! $nya pada v 4 g1 n 4 Ira, Papa juga menggerakan dengan pelan jempolnya di atas kl! t0r !$ anaknya.

Menekan-nekan benda sebesar biji kacang itu dengan gemas.

Membuat Ira semakin menjerit penuh nikmat.

"AHHH Pahhh ouhhh akuu engg mau muncrat lagii ahhh fuckkkkkkk" Aku menjerit.

Mengangsurkan tanganku tuk menjauhkan jari Papa dari kl! t0r !$ku.

Karena demi apapun tubuhku seakan tak kuat merasakan gelombang kenikmatan yang begitu tinggi.

Anjing. Baru pertama kali ngent0t aja Papa udah bikin gue kaya gini.

Gimana besok-besok bangsat.

"AHHH PAHHH OUHHH AKU MAU KELUAR AHHHH"

"Arghhhhh bareng sayanggg ouhhh"

Merasakan klimaksnya juga hampir sampai, Papa melepaskan jempolnya pada benjolan sebesar biji kacang Ira, lalu ia alihkan tangannya untuk mencengkram pinggang Ira erat.

Papa menyodok semakin keras.

Membuat suara desahan juga penyatuan kelamin ku semakin terdengar kencang.

Bahkan saking cepatnya sodokan Papa pada v 4 g1 n 4 Ira, suara derit ranjang lama-kelamaan bisa terdengar di telinga.

Tubuhku tersentak. Bergerak naik turun karena sodokan Papa yang penuh tenaga.

"Enghhh fuck" Papa mengumpat.

Tubuhnya yang gagah berotot semakin seksi ketika basah oleh keringat.

Walau sudah masuk kepala empat, tenaga dan semangatnya untuk menggenjot anak kandungnya tak kalah seperti dulu ia menggenjot sang istri untuk pertama kali.

Plok plok plok

"Pahh ouhhh lemes akuu enghh lemes mauu muncrat lagii ah"

Aku mengerang lirih.

Suaraku sampai serak karena tak berhenti mendesah nikmat.

Tubuhku seakan pasrah menerima segala perlakuan Papa.

"Ahh Pahhh ouhh mau muncratt lagii ahhhh"

"Arghhh barengan sayangg ouhh"

Cr0t. Cr0t. Cr0t.

Dengan tiga hentakan terakhir, Papa klimaks.

Menyemburkan lahar panasnya di dalam liang senggama sang anak.

Sengaja.

Papa ingin membuat anaknya itu merasakan cairan sp3 r m 4nya menyembur ke dalam rahimnya.

Papa ingin membuat Ira menikmati kehangatan sp3 r m 4nya yang juga menjadi asal muasal anaknya itu dilahirkan.

"Ouhh Pahh ahh enakkk enghhh"

Aku memejamkan mata.

Mengelus pelan rambut Papa yang sedang menumpukan kepala di leherku.

Merasakan cairan hangat memenuhi rahimku tadi, membuat pikiran ku yang sudah di awang-awang kembali sadar.

Anjing. Gue beneran ngent0t sama bokap!

"Enghh Pahhh" Aku menggeliat dengan desahan lirih ketika Papa memundurkan p 3n ! $nya yang masih tegak.

Walaupun sudah keluar, tapi tetap tidak bisa meluruhkan gairah Papa yang sudah sangat tinggi.

Tenaga Papa masih full.

Papa memang dengan sengaja memberi jeda untuk Ira mengambil oksigen dan mengumpulkan tenaga.

Karena sehabis ini, Papa akan kembali menggenjot anaknya tanpa ampun.

Papa bahkan sudah terpikirkan berbagai macam gaya untuk menyetubuhi tubuh molek Ira.

Membuat anak gadisnya itu tak akan pernah lupa pengalaman pertamanya ketika bercinta.

"Emm Pahhh kok masih tegang?" Cicitku pelan.

Papa yang sedang menelusupkan kepalanya di leher sang anak pun terkekeh lirih.

Cup. Slurpppp....

"Papa belum puas sayang pengen terus nyodok m3 m 3k kamu sampe besok pagi" Ujar Papa setelah memberikan kissmark di leher jenjang anaknya yang berkeringat.

"Kamu masih mau kan m3 m 3knya Papa sodok? Karena habis ini Papa bakal nyodok m3 m 3k kamu lagi sampe jerit-jerit keenakan kaya tadi"

Papa berucap dengan tubuh bagian bawah yang kembali bergerak perlahan.

Memberikan rangsangan tipis-tipis sebagai salam pembuka untuk v 4 g1 n 4 Ira yang kembali berdenyut.

Oekkk oekkk oekkkk

Dikala aku memejamkan mata, Aksa yang sedang digendongan Mama mendadak menangis.

Membuat aku dan Papa bersamaan melirik Mama.

"Kenapa Aksa Mah ouhh Pahhh berhenti duluu" Tanyaku diakhiri dengan desahan lirih.

"Kayanya Aksa masih haus deh Ra kamu susuin gih asi Mama udah sedikit keluarnya ini"

Mendengar penuturan Mama, aku sontak mengangguk paham.

"Pahhh ahhh lepas duluuu enghh aku mau nyusuin Aksa" Aku menggerakkan tubuhku.

Menggeliat tanda ingin Papa menghentikan segala aktifitas pada tubuhnya.

Papa menggeram tertahan.

Sedikit tak rela melepas p 3n ! $nya pada sangkar nikmat sang anak.

Tapi, Papa pun tak mau anak keduanya itu semakin menangis kencang karena haus.

"Ouhh haus banget ya adik kaka hemmmmm" Aku tersenyum.

Melihat betapa rakusnya Aksa menyedot asinya.

Padahal, adiknya itu sudah lama sekali menyusu pada Mama.

"Sayang kamu tiduran aja ngadep samping biar Papa bisa tetep nyodok m3 m 3k kamu dari belakang, kasian tuh muka Papamu udah mesem gitu" Mama terkikik.

Melihat wajah merengut suaminya sukses memberikan kesenangan tersendiri.

Aku yang sedang duduk di pinggir ranjang pun sontak menolehkan kepala, lalu menggigit bibir ketika melihat wajah Papa yang merenggut seperti anak tidak diberi permen.

Karena aku pun yang memang masih ingin dient0t oleh Papa, dengan cepat aku membaringkan tubuh menyamping dengan Aksa yang masih menyusu padanya.

"Enggghh ayo Pahh ahh sodok m3 m 3k ku lagi" Erangku binal.

Walaupun hisapan Aksa di pu t! n gnya tanpa ada rasa nafsu seperti yang biasa Papa lakukan, tapi tetap saja sensasi pu t! n gnya disedot-sedot sukses membuat gairahnya semakin tinggi.

"Ahhhhh" Desahanku keluar ketika Papa tanpa aba-aba kembali memasukan p 3n ! $nya memenuhi v 4 g1 n 4 ku yang masih becek.

"Ouhh Pahhh penuhh bangettt" Aku mencengkram lengan berotot Papa yang bertengger di pinggangku.

"Ahh pelan Pahhh enghh ada Aksa" Pinta ku saat Papa menggerakan p 3n ! $nya maju mundur.

Lalu mengangkat satu kaki ku dan ditahannya dengan tangan Papa.

"Ahhh mentok bangettt Pahhh uhhhh" V 4 g1 n 4 ku nyeri. Dengan posisi seperti ini aku bisa merasakan p 3n ! $ Papa semakin tenggelam di lubangku.

Papa yang memang masih kuat dan tidak tahan dengan kenikmatan pada p 3n ! $nya pun tanpa ampun menghujam v 4 g1 n 4 Ira dari belakang.

Memberikan kenikmatan duniawi bagi putri kandungnya yang sedang asik menyusui.

"Ahhh ahhh Pahhh ouhh pelaannn ouhh kasiann Aksaaa enghhh" Tangan ku menumpu di samping Aksa.

Menahan bobot tubuhku yang terhentak-hentak supaya tak menindih tubuh mungil Aksa.

Bayi kecil yang asik menyusu itupun lambat laun sedikit terusik kala kegiatannya sedikit terganggu.

"Enghhh Pahhh ouhhh Aksaaa ahh bangunnn ahhh" Ku tatap wajah menawan Aksa yang mungil.

Lalu tersenyum senang di sela desahan bibirku.

Melihat wajah polos Aksa yang sedang menatap ku dengan pu t! n g di bibir mungilnya entah mengapa menambah gairah tersendiri.

"Erghhh baguss ituu sayang enghhh biar Aksa bisa liatt ahhh kakaknya lagi disodok sama Papanya sendiri"

"Ahh Pahhh ouhh akuu mau keluar lagii enghhh"

"Uhhhh m3 m 3k kamu kenapa rapet bangett sayangg ahhhh k0 nt 0 l Papa rasanya nggak mau keluar dari m3 m 3k kamuu ouhhh"

Papa meracau.

Membuat erangannya juga desahanku menyatu menjadi perpaduan 3r 0t !$ yang mengalun indah di telinga.

Plok plok plok

Aku mengepalkan tangan.

Memejamkan mata menikmati hantaman p 3n ! $ Papa yang semakin beringas menggenjotku.

"Ouhh Pahhh" Aku m3 m 3kik kaget. Tubuhku terhentak ke depan membuat p4y ud4r4 ku sedikit menekan wajah Aksa.

Membuat pu t! n g dadaku semakin masuk ke dalam mulut mungil Aksa yang tak bergigi.

"Ahh Pahhh ouhhhh jangan dihentakin gituuu enghhh nanti Aksa ketindihhh ouhhh"

"AHHHHH Papah ngapainn"

Aku menjerit.

Reflek mengetatkan dinding v 4 g1 n 4 ku ketika merasakan ada benda lain yang mencoba masuk ke lu b4 ng p4n t4tku.

"Ouhh Pahh tangannya ouhh jangann dimasukin disituu engggh sakittt ahhhh" Rengek ku dengan air mata yang mengembun.

Bisa ku rasakan jempol Papa mencoba memasuki lu b4 ng p4n t4tku yang sempit.

Tidak pernah terjamah oleh Papa sekalipun.

"Pahhh noo ahhh sakittt enghhh" Tubuhku bergerak-gerak tak nyaman.

Membuat Aksa yang sedang menyusu sedikit tersentak lalu menangis kencang karena sumber kehidupannya lepas dari genggaman.

"Pahhh jangan duluuu main disituuu kasian itu dua anak mu Pahhh" Ujar Mama ketika melihat jari Papa sedang memberikan rangsangan pada lubang Ira yang lain.

"Sabar dulu Pahh, kamu ini loh nggak sabaran banget si"

Papa menggeram.

Lalu menjauhkan tangannya dari pantat Ira. Kini ia remas p4y ud4r4 anaknya yang menganggur.

Terbebas dari hisapan rakus sang putra.

Papa meremas kencang. Membuat asiku tumpah ruah membasahi tubuh juga baju Aksa.

"Enghh sayang kamuu seksi bangett arghhh nanti Papa bakal sodok lubang 4n 4 l mu itu"

Aku reflek mengangguk. Dengan mulut terbuka yang sesekali mendesah lirih.

Papa memang terbukti hebat.

Fokusnya tak terpecah walaupun dari tadi meracau kotor ditelingaku.

Genjotan p 3n ! $nya masih kuat.

Membuat aku hanya bisa pasrah dan menerima setiap kenikmatan yang Papa berikan.

Plok plok plokk Slurppp slurpppp

Bunyi penyatuan kelamin juga decapan bibir Papa pada leherku saling bersahutan.

Demi apapun. Aku bisa gila kala merasakan seluruh bagian sensitifku diberikan kenikmatan duniawi.

"Ouhh Pahhh ahhhh cepett ahhh cepettt akuu mau muncratt lagiii"

Plokk plokk plokkk

Papa menggeram. Dengan tubuh penuh keringat, Papa dengan kuat menghujam vaguna Ira tanpa ampun.

Memberikan kepuasan bagi putri kandung juga dirinya sendiri.

"Ahhh ahh m3 m 3k kamu enak banget sayang ouhh Papa mau ngecr0ttt lagii ughhh"

Papa kehilangan kendali diri. Merasakan klimaksnya sudah diujung, Papa semakin brutal menyodok v 4 g1 n 4 putri kandungnya.

Membuat Mama dengan cepat mengambil Aksa dari pelukan sang anak.

Mama hanya berdecak.

Menggelengkan kepala melihat gerakan suaminya yang menyodok semakin brutal.

Membuat putri semata wayangnya itu hanya bisa mengerang dan mendesah dengan keras.

"Ahhh Pahhh ouhhh kencenggg bangett ahhhhh"

Papa semakin cepat.

Bergerak maju mundur dengan keras.

Rasanya tak mau berhenti tuk menumbuk lubang surga sang anak.

"Ahhh barengg sayanggg ughhhh"

CR0T CR0T CR0T

SYURRRRRRR

Aku squ! r t! Bersamaan dengan Papa yang juga menyemprotkan sp3 r m 4nya kembali di rahimku.

Membuat cairan cinta ku dan Papa bergabung menjadi satu.

Saking banyaknya, cairan ku dan Papa sampai tumpah dan meleleh keluar dari sela-sela kelamin yang masih menyatu.

Hahh hahhh hahhhh

Aku mengatur nafas.

Tubuhku ambruk dengan posisi telungkup dengan Papa dibelakangku.

Masih dengan p 3n ! $ yang menyumpal v 4 g1 n 4 ku.

Walaupun tak sebesar sebelumnya, namun aku bisa merasakan bahwa p 3n ! $ Papa belum sepenuhnya loyo.

Membuat aku sedikit was-was jikalau Papa kembali menyodok v 4 g1 n 4ku.

Tubuhku rasanya sudah tak ada tenaga.

Mulutku kering tak bisa mengeluarkan suara. Walau begitu, aku tetap senang dan bahagia atas apa yang aku dan Papa lakukan.

Keinginanku untuk bisa disodok Papa akhirnya terkabul di hari spesial ku ini.

Rasanya begitu luar biasa dan memabukkan.

Sensasi perih, sakit, nikmat, enak, penuh, geli bercampur menjadi satu.

Membuat tubuh seksiku seperti diterapi dengan hal paling enak di dunia.

"Enghh Pahhh"

Aku mengerang lirih ketika merasakan p 3n ! $ Papa yang kembali membesar di v 4 g1 n 4ku.

Cup.

Papa mengecup pundak sang anak. Lalu berbisik lirih, "Siap ronde selanjutnya sayang?"