Bahkan, Papa
merasakan bahwa v4g 1n 4 anaknya itu berkali-kali
lipat lebih sempit dan rapet dari pada istrinya.
Mungkin karena
anaknya itu masih perawan kali ya.
"Ahhh ahhh
Pahhh akuuu enghhh mau muncrattt ahhhhh" Aku meliukan tubuh.
V4g 1n 4 ku
semakin berkedut tanda mau pelepasan.
"Enghhh
tahannn sayang nhhh Papa juga mau keluar" Ujar Papa ditelingaku.
Lalu bisa ku
rasakan gerakan Papa di bawah sana semakin liar.
Papa menggerakan p3n
1snya maju mundur dengan cepat di belahan v4g 1n 4 sang anak.
Tak lagi
memasukan kepala p3n 1snya di lubang Ira karena takut ia kelepasan.
Karena jujur
saja.
Jika Papa mendiamkan p3n
1snya lebih lama didalam sana, nafsunya akan semakin liar dan ia tidak yakin
untuk tidak menggagahi dan memperawani anak kandungnya itu.
"Enghhhh
ahhh ahhhhh Papahhh ahhhhh"
Aku menggelengkan
kepala dengan mata memejam.
Menikmati sensasi
nikmat atas gesekan kelamin ku dan Papa.
"Ahhh ahhhh
Pahhh aku mau muncrattt ahhhhh. "
"Enghhhhhhhh. "
Cr0t. Cr0t. Cr0t.
Aku muncrat.
Cairan ku keluar membasahi v4g 1n 4 dan p3n 1s Papa.
Membuat gesekan
Papa pada inti ku semakin cepat dan licin.
Melihat anak
gadisnya sudah keluar, Papa dengan cepat mengangkat sebelah kaki Ira.
Membuat v4g 1n 4
anaknya itu terbuka lebar dan membuat gerakannya semakin mudah kala mengejar
pelepasan.
"Enghhh
sayang ahhh ahhhh Papa bakal sodok m3 m3 k kamu bentar lagiii. "
"Ahh ahh
Pahh iyaa ahhh sodok m3 m3 k ku Pahh ahhh"
Aku membalas
racauan frontal Papa.
Lagi-lagi aku
selalu merasa semakin bergairah jika bertukar ucapan kotor dengan Papa.
Membuat nafsuku
seakan bangkit semakin liar.
Fuck. Papa
menggeram tertahan.
Mendengar desahan
juga racauan erotis anaknya tadi membuat nafsunya semakin bangkit.
"Arghhhhh
sayanggg ahhhh Papa bakal sodok m3 m3 k kamu nanti Papa bakal ng3 nt 0tin m3 m3
k binal kamu sampe muncrat muncrat ahhh"
"Enghhhh
iyaa ahh Pahhh aku muncrat lagiii engg mau muncratttt"
Tubuhku lemas.
Kakiku mendadak berubah menjadi jelly.
Jika saja Papa
tidak menahan tubuh ku, bisa kupastikan kini aku sudah merosot ke lantai.
"Enghhh
Pahhh ahhh aku mau muncrat lagiii ahh kenceng bangett Pahhh"
Ku tumpukkan
kepala di pundak Papa.
Menggigit bibir
merasakan nikmatnya gesekan Papa yang semakin brutal.
"Arghhhh
barengg sayanggg ahhh Papa juga mau muncratt. "
"Ahhhhhh.. "
CR0T. CR0T. CR0T. CR0T.
Aku mengerang
puas.
Memejamkan mata
menikmati pelepasan kedua ku.
Bertepatan dengan
aku yang memuncratkan cairan ku, aku bisa merasakan Papa yang juga
menyemburkan spermanya ke permukaan v4g 1n 4 ku.
Membuat cairan ku
dan Papa saling bercampur menjadi satu.
"Nghhhh
sayanggghh. "
Ditengah
pelepasan yang aku dan Papa nikmati, Mama mendadak muncul dengan Aksa
digendongan.
"PAPA IRA! Apa yang kalian lakuin?!"
Mama menyentak
dengan keras.
Memelototkan mata
kala melihat tubuh telanjang dua orang tersayangnya di depan kaca.
Mendengar bentakkan
Mama, aku sontak bergidik.
Lalu segera
menjauhkan diri dari rengkuhan Papa.
Berbeda denganku,
Papa justru santai saja di posisinya kali ini.
Malah semakin
merapatkan tubuhnya pada tubuh sang anak.
Sedangkan Mama
yang tadi memelototkan mata, hanya mendengus malas kala
melihat suaminya itu justru memeluk erat tubuh anaknya.
"Kalian ini
loh! Lihat udah jam berapa sekarang hm? Udah Mama suruh siap-siap dari tadi kok
ya pas ditinggal malah ng3 nt 0t"
Mama berdecak,
menimang-nimang Aksa yang tidurnya sedikit terusik mendengar bentakannya tadi.
"Papa sama Ira
lupa kalau jam 3 kalian mau ke dokter? Lihat sekarang udah jam berapa?"
Aku lantas
melirikan mata.
Melihat jam yang
tergantung di dinding. Lalu membulatkan mata kala sadar bahwa kini
sudah jam 3 kurang 10 menit.
What the fuck?
Aku mengumpat dalam hati. Bukannya tadi baru aja jam satu?
Sungguh. Aku
tidak sadar bermain dengan Papa selama itu.
Bahkan aku merasa
bahwa tadi itu hanya berlalu beberapa menit saja.
"Sorry Mama"
Ucap ku pelan.
Mama mendengus.
Sebenarnya ia tak masalah dengan suami dan anaknya itu bermain di belakangnya.
Namun, yang jadi
masalahnya itu adalah jadwal terapi yang sudah ditentukan.
Pasalnya, dokter
yang akan menangani Ira nanti adalah salah satu dokter kandungan terbaik di
negeri ini.
Satu level dengan
dokter yang membantu persalinan Mama.
Karena itu,
sedikit sulit kala membuat janji konsultasi dengan dokter tersebut karena
jadwal yang padat.
"Hhh
sekarang kamu cepet ke kamar mandi. Bersihin badan kamu nggak pake lama."
Pinta Mama tegas.
"Ehh ehh
Papa diem aja disini. Nanti gantian ke kamar mandinya, Mama nggak yakin bakal selesai
lima menit kalau barengan." Ujar Mama dengan mata menajam.
Memelototi sang
suami yang sedang meringis. "Iya Mama..."
Tak lama, aku bergegas ke kamar mandi.
Menyiram tubuh berkeringat
ku di bawah shower.
Tak lupa
juga aku bersihkan cairan berlendir yang menempel
di v4g 1n 4 serta menetes di paha dalam ku.
"Mah, tadi
nipple padnya aku cari nggak ada" Ucap ku ketika sedang mengenakan celana
dalam.
Mama melirik
anaknya dengan raut berpikir.
"Masa sih
nggak ada sayang? Coba sini kamu gendong Aksa dulu biar Mama yang cari"
Dengan tubuh
terbalut celana dalam saja, aku menggendong Aksa yang sedang tertidur dengan
mulut terbuka.
Lalu dengan iseng aku mendekatkan
pu t1 n g ku ke mulut Aksa.
Shhhh...
Aku mendesis
lirih kala Aksa justru mengemut pu t1 n g ku.
Menyedotnya
seakan ada cairan yang keluar dari sana.
"Shhhh
sayangnyaa kakak" Aku menciumi kepala Aksa penuh sayang.
Walaupun sedikit
nyeri karena hisapan adiknya pada p4 yu d4 r4 ku.
Walaupun adiknya
itu tertidur, tapi mulut mungilnya itu tidak berhenti tuk menghisap pu t1
n g p4 yu d4 r4 ku.
"Tuh sayang belum
apa-apa aja Aksa udah suka sama t3 t3 kamu Ra, gimana kalau nanti kamu udah
punya asi." Lontar Mama ketika melihat anak keduanya sedang menyusu pada Ira.
Mama terkekeh,
lalu melirikan mata pada Papa yang menatap tajam kedua anaknya itu.
"Kayanya
bentar lagi Papa punya saingan nih"
Mendengar ucapan Mama,
aku mendongakan kepala.
Melirik Mama yang
sedang menatap Papa.
Papa yang merasa
disindir pun hanya mendengus saja. Lalu mengecup cepat bibir sang istri.
"Kan masih
ada kamu sayang"
Mama yang
mendengarnya pun hanya berdecak lalu memutar mata malas.
"Oh iya
sayang, Mama kayanya lupa deh nipple padnya nggak ke beli"
Aku membulatkan
mata, masih dengan posisi menyusui Aksa aku menatap mata Mama.
"Terus aku
gimana? Masa nggak pake bra?"
"Yaudah coba
kamu pake dulu bajunya sama branya, soalnya Mama tuh beliin baju kamu ini
ukurannya lebih kecil Ra, jadi nggak tahu bakal muat di dadamu apa engga"
Mama berucap sambil menyerahkan bra hitam pada ku.
Aku lalu
mengangguk, dengan perlahan aku lepaskan hisapan Aksa pada pu t1 n g ku lalu
menyerahkan pada Mama.
"Mah nggak
muat" Aku merengek kala tiga kancing teratas dress knit hitam yang kupakai
ini tidak bisa terkancing karena p4 yu d4 r4 ku.
Mama yang melihat
hal itu pun justru terkekeh, "Punya mu lagian gede banget Ra, yaudah kalo
gitu lepas aja toh kamu juga pergi sama Papa ini."
"Iya kamu nggak
usah pake bra aja sayang kan bajunya udah tebel nggak bakal keliatan kalau kamu
nggak pake bra." Papa yang dari diam saja menyahut.
Mama sontak
mengangguk menyetujui ucapan sang suami lalu melirik Papa yang diam-diam
menyeringai kecil.
Mendengar saran
dari Mama Papa aku lantas melepas kancing dress ku kembali.
Lalu mencopot bra
hitam yang aku gunakan.
Tanpa canggung
menunjukan p4 yu d4 r4 besar dan sekal ku di hadapan Mama dan Papa.
Toh orang tua ku
juga sudah sering melihat.
Jadi, buat apa
canggung.
"Nah kan
bagus sayang seksi banget kamu pake baju ini" Puji Mama melihat penampilan
Ira.
Lekukan tubuh
molek anaknya tercetak dengan jelas kala mengenakan dress knit yang press body.
Belum lagi p4 yu
d4 r4 anaknya itu menyembul karena dress yang tidak bisa dikancing bagian
atasnya.
Membuat mata
siapapun pasti akan menengok dua kali ketika melihat anaknya itu.
"Beneran bagus
Mah? Aku agak nggak pede" Aku menatap pantulan tubuhku di cermin.
Tubuh sexy yang
selama ini aku tutupi dengan baju kedodoran pun akhirnya terungkap sempurna
kala mengenakan baju pemberian Mama ini.
"Udah bagus
kok, dah sana kamu berangkat sama Papa"
"Loh Mama
nggak ikut?" Aku menatap Mama dengan keninf mengerut.
"Nggak
sayang Mama dirumah aja sama Aksa. Kasian adikmu kalau dibawa keluar di jam
tidurnya gini"
Aku membulatkan
bibir, lalu mengecup pipi Aksa dan Mama bergantian.
"Yaudah Ma
aku sama Papa berangkat ya"
"Kita
berangkat sayang kamu kalo ada apa-apa langsung telpon aja."
….
"Sebelumnya
Bapak sama Ibu udah tahu apa itu induksi laktasi?" Tanya dokter pada ku
dan Papa.
Aku sontak
mengangguk, "Sudah dok. Tapi itu cuma sebatas gambarannya aja gimana"
Sang dokter pun
mengangguk, "Baik kalo gitu saya jelaskan lebih rinci ya"
"Induksi
laktasi adalah proses merangsang produksi
ASI pada wanita yang ingin menyusui bayi tanpa
kehamilan. Pada dasarnya, tubuh bisa memproduksi ASI tanpa pernah hamil atau
melahirkan sebelumnya. Namun, seorang ibu tetap membutuhkan proses untuk merangsang
ASI agar bisa keluar dari p4 yu d4 r4."
Mendengar
penjelasan dokter aku pun sontak mengangguk.
"Terus
gimana caranya ngelakuin induksi laktasi dok?" Tanyaku.
"Memproduksi
ASI pada wanita yang tidak hamil sebelumnya dilakukan dengan mengosongkan p4 yu
d4 r4. Dalam hal ini ada tiga tahap, menyusui, memompa, atau memerah dengan
tangan." Jelas dokter menatap ku dan Papa.
"Jadi, saat
proses induksi laktasi ini, Bapak bisa membantu untuk sering memberikan
rangsangan terhadap p4 yu d4 r4 istri." Dokter tersenyum.
Menatap ku yang
membulatkan mata dan Papa yang tetap berwajah datar.
What the hell?
Istri?
"Nah, ketiga
teknik itu juga bisa dibarengi dengan penggunaan berbagai obat-obatan,
suplemen, atau jamu untuk meningkatkan produksi ASI nanti."
"Mengingat
tidak pernah hamil sebelumnya, seorang yang melakukan induksi laktasi perlu
mempersiapkan p4 yu d4 r4nya terlebih dahulu untuk menyusui karena tubuh
tidak memproduksi hormon kehamilan. Oleh karena itu, setelah ini Saya
akan memeriksa p4 yu d4 r4 Ibu untuk mempersiapkan proses induksi laktasi supaya
berjalan lancar." Jelas dokter panjang lebar.
Lalu setelahnya
memintaku tuk melepas pakaian ku dan telentang di atas brankar.
Dibantu oleh
seorang suster yang menyiapkan brankar tuk aku tempati, aku dengan canggung
membuka pakaian ku di ruang ganti yang tersedia di dalam ruangan dokter.
Lalu telentang di
atas brankar dengan hanya terbalut celana dalam dan selembar kain berwarna
biru.
"Paah aku
takut" Bisik ku pelan pada Papa yang berdiri disamping ku.
Papa yang melihat
raut gelisah sang anak pun dengan sayang mengelus pucuk kepala Ira.
Lalu mencium
dahinya penuh kasih.
"Romantis
banget ya kalian, pengantin baru ya?" Celetuk dokter tiba-tiba membuat aku
dengan kaku menatap ke arahnya.
Lalu ku lirikkan
mata pada Papa yang juga sempat terdiam kaku.
"Iya dok.
Tolong dimaklumi ya, istri saya ini sedikit penakut." Cetus
Papa membuat aku membulatkan mata.
Mendengar
celetukan Papa, Dokter Ira sontak terkekeh pelan. Lalu mengangguk-angguk tanda
mengerti.
"Oke jadi
kita lanjut ya Pak Kenzo dan Bu Ira. Seperti yang saya katakan tadi bahwa
ibu yang menyusui harus memiliki hormon kehamilan. Nah hormon kehamilan ini
fungsinya adalah untuk memproduksi hormon prolaktin atau hormon menyusui."
"Untuk itu
nanti saya akan meresepkan terapi hormon berupa penambah hormon. Nah buat
selanjutnya kita masuk ke sesi pemberian rangsangan ya Bu.
Sebelumnya mohon maaf kalau misal saya menyentuh p4 yu d4 r4
Ibu."
Aku mengangguk,
"Baik dok."
"Kalau gitu
saya buka ya bu kainnya" Ujar Dokter Zizah lalu segera menyingkap kain biru yang menutupi
tubuh atas ku.
Lalu
terpampanglah p4 yu d4 r4 bulat dan sekal milik ku.
Dokter Zizah yang
melihat p4 yu d4 r4 ku pun sontak mengangguk lalu menatapnya lama. "Wah p4
yu d4 r4 Bu Ira bagus sekali ya. Ukurannya besar
dan padat. Namun juga sangat kenyal."
"Saya bisa
katakan bahwa proses induksi laktasi nanti itu pasti akan berhasil dengan
presentase 90 persen." Ujar dokter dengan tangan yang sudah memijat p4 yu
d4 r4 ku.
"Nghhh shhhh"
Aku mendesis lirih kala dokter Ira merangsang pu t1 n g p4 yu d4 r4 ku.
"Maaf ya Bu,
tolong ditahan sebentar" Dokter Zizah berucap kala melihat
ku mendesah lirih.
"Buat Pak
Kenzo juga tolong diperhatikan ya cara saya merangsang dan memijat p4 yu d4 r4
Bu Ira.
Supaya nanti dirumah bisa sering-sering membantu
memijat p4 yu d4 r4 istrinya" Ujar dokter lalu menatap Papa yang
tatapannya sudah berkilat.
Melihat p4 yu d4
r4 sekal anaknya itu selalu sukses membangkitkan gairah Papa.
"Baik dok"
"Nah kalau
gitu coba sekarang Pak Kenzo lakukan seperti apa yang tadi saya
lakukan ya, dipijat-pijat lembut kedua p4 yu d4 r4 Bu Ira, lalu pu t1
n gnya sedikit di tarik-tarik dan diberikan rangsangan" Tutur Dokter Ira
lalu menatapku.
Papa yang
mendengar ucapan dokter pun dengan kaku semakin mendekat pada brangkar yang aku
tiduri, lalu dengan perlahan mendaratkan satu tangannya di p4 yu d4 r4 kiri ku.
Shhh....
"Gini dok?"
Tanya Papa menatap Dokter Zizah kala tangan besarnya sudah membantu memijat p4
yu d4 r4 Ira.
Aku yang
merasakan geli karena p4 yu d4 r4 ku sedang dimainkan oleh Papa pun
sontak mendesis lirih.
"Nghhh Pahhh
jangan digituin pu t1 n g ku, aku nggak tahann nghh." Bisikku lirih dan
hanya bisa didengar oleh Papa.
"Papa juga
nurutin kata dokter sayang" Jawab Papa tak kalah lirih di telingaku.
Lalu dengan
sengaja ia jilat cuping telinga Ira.
"Ahh Papahh
enghhh jangan diplintir hhhh aku nanti muncrat kalau gitu" Aku meremas
kedua tangan ku.
Menahan desahan
juga gairah akibat rangsangan Papa pada p4 yu d4 r4 ku.
Fuck. Kalau tidak
ingat jika ia sedang berada dimana, aku pasti sudah mendesah dengan keras.
"Okei udah
cukup ya Pak. Sekarang, saya akan suntikan hormon untuk membantu merangsang
produksi asi nantinya." Ucap dokter menghentikan aksi Papa memijat juga
memainkan p4 yu d4 r4 ku.
Membuat aku
merasakan kehilangan atas kenikmatan yang Papa berikan.
"Suntikan
hormon ini akan saya suntikan di pu t1 n g Bu Ira ya, istrinya ngomong-ngomong
nggak takut jarum suntik kan ya Pak?" Canda dokter menatap Papa.
Setelahnya, dokter
dengan lembut menyentuh p4 yu d4 r4 ku, lalu dengan perlahan mulai menyuntikan
cairan yang berada disuntikan tepat di atas pu t1 n g
dada ku yang sudah menegang.
Shhhh....
"Mungkin
setelah ini p4 yu d4 r4 Bu Ira bakal lebih sensitif ya dan bakal sering
nyeri juga. Karena itu bisa sering-sering ibu melakukan pijatan
lembut pada p4 yu d4 r4nya nanti." Jelas dokter setelah menyuntik kedua p4
yu d4 r4ku. Lalu setelahnya aku diminta untuk kembali mengenakan baju.
"Dok, tadi
itu dokter kasih istri saya suntikan apa ya?" Tanya Papa kala aku sudah
duduk disampingnya. Wajahku sedikit memerah kala mendengar Papa menyebutku
sebagai istri.
Dokter Zizah
tersenyum, "Tadi itu disebut terapi hormon berupa hormon estrogen dan
progesteron yang fungsi itu untuk meniru efek kehamilan."
"Selain itu,
saya juga nantinya akan memberikan galactagogue yang mampu meningkatkan
produksi ASI secara alami buat Ibu Ira nanti."
"Sampai sini
Pak Kenzo dan Bu Ira paham?" Tanya Dokter Ira setelah menjawab semua
pertanyaan ku dan Papa.
Aku sontak
menggeleng lalu menatap Papa. "Sudah dok mungkin itu aja."
Dokter Zizah
tersenyum, "Baik kalau gitu cukup sampai disini aja ya Pak. Untuk resep
terapi hormonnya nanti bisa ditebus sama suster dibawah ya
Pak, Bu"
"Baik terima
kasih banyak, Dokter Zizah."
Setelahnya aku dan Papa beranjak dari ruangan dokter lalu 15 menit kemudian kami sudah bergabung dengan puluhan kendaraan di jalan raya.