Seminggu
berselang, Mama sudah diperbolehkan pulang bersama adik laki-laki ku yang baru
lahir.
Mama dan Papa
menamainya Dyaksa, dipanggil Aksa.
Bertepatan dengan
jadwal Mama pulang, aku juga akan mengunjungi dokter untuk melakukan
induksi laktasi.
Seharusnya itu 4
hari yang lalu.
Namun, karena
Mama yang baru saja melahirkan, aku dan Papa sepakat untuk menunda terapi ku ke
dokter.
Walaupun hari ini
weekend, tapi untungnya dokter yang akan membantu ku nanti memiliki jadwal
kosong.
Sehingga aku
tidak perlu lagi menunda tuk melakukan induksi laktasi.
Berhubung Mama sudah
melahirkan.
Seperti dugaan
dokter.
Asi yang keluar
dari p4 yu d4 r4 Mama hanya sedikit dan itu kurang cukup untuk memenuhi
kebutuhan gizi Aksa yang baru saja lahir.
Sehingga aku
adalah harapan tuk adik ku bisa mendapatkan gizi yang cukup.
"Cilukk
baaaaa"
"Gemes
banget kamu si dek" Aku mengecup seluruh permukaan wajah Aksa.
Merasa gemas
dengan adik laki-laki tampan ku yang baru beberapa hari lahir ke dunia.
Aku sedang
menggendong Aksa di pangkuan.
Kini, aku dan
Mama sedang duduk di ruang keluarga sehabis menyelesaikan makan siang bersama.
Sedangkan Papa
sudah tenggelam dalam tumpukan kertas yang seminggu ini ia abaikan.
"Gimana
sayang? Kamu siap kan buat induksi laktasi nanti?" Tanya Mama pada ku yang
sedang asik bercanda dengan Aksa.
Aku sontak mengangguk
lalu meringis pelan.
"Sebenernya
aku sedikit takut Ma, nanti nggak sakit kan tapi?"
Mama terkekeh
pelan, lalu menatap anaknya.
"Nggak kok.
Induksi laktasi itu nggak sakit sayang. Kan cuma di terapi aja."
Aku lalu
mengangguk.
"Mah, nanti itu kalau punya
ku udah keluar asi, bakal tambah gede ya? Aku pernah baca gitu soalnya"
Tanya ku pada Mama yang langsung mengangguk.
"Iya sayang.
Dari pengalaman dulu pas kamu lahir, sama Aksa lahir ini punya Mama juga
makin gede. Nanti biar pasti kamu tanyain juga sama dokter ya."
"Sini Aksa
sama Mama, kamu sekarang ke atas aja siap-siap terus panggil Papa sekalian
di ruang kerja."
Aku mengangguk lalu
dengan perlahan ku serahkan Aksa yang sudah terlihat mengantuk pada Mama.
"Oh iya
sayang, kamu sebelum itu ambil paper bag yang di lemari Mama ya. Kamu pake baju
itu aja nanti pas ke dokter.
"Oke
Mama."
Aku lalu bangkit.
Melangkahkan kaki ku lebih dulu ke arah ruang kerja Papa lalu ke kamar ku di
atas.
20 menit berjibaku
di kamar mandi, kini tubuh ku sudah kembali segar.
Aku memang
sengaja mandi lagi karena cuaca hari ini yang lumayan panas dan gerah.
Oh iya ya. Lupa
belum ngambil baju ke kamar Mama. Aku bergumam dalam hati.
Lalu, masih
dengan handuk yang melilit tubuh ku aku langsung saja ke kamar Mama yang sudah
kembali di lantai dua.
Tidak jauh dari
letak kamar ku berada.
Tok... tok... ceklek...
Aku melongokkan kepala ke dalam kamar.
Ternyata ada Mama
dan Papa yang sedang asik berdiri di samping ranjang bayi Aksa.
"Kenapa
sayang?" Tanya Mama kala melihat anaknya mengintip di balik pintu.
Aku nyengir,
"Lupa ambil baju yang tadi Mama bilang."
Mama
geleng-geleng kepala melihat tingkah laku anaknya.
Sedangkan Papa
hanya diam saja menatap tajam sang anak yang hanya terbalut handuk putih yang
tidak menutup sempurna tubuh moleknya.
Bahkan dari
posisinya Papa saat ini, ia bisa melihat gundukan
sekal Ira yang menyembul.
Karena anaknya
itu menurunkan handuknya supaya lebih menutupi bagian bawahnya.
"Sini masuk"
Ajak Mama lalu berjalan menuju walk in closet di kamarnya.
Aku berdehem
lirih. Lalu ku betulkan handuk ku sedikit ke bawah supaya lebih menutupi v4g 1n
4 ku.
Biarlah p4 yu d4
r4 ku sedikit terlihat, karena masih bisa ku tutupi sebagian dengan tangan.
Diiringi dengan
tatapan menusuk Papa, aku masuk ke dalam kamar lalu mengekor di belakang
Mama yang sedang sibuk mencari baju yang sudah ia beli
khusus untuk Ira.
"Nih sayang
kamu pake baju ini" Mama berujar sambil mengangsurkan dress knit
berkancing depan pada ku.
Sekaligus sebuah
celana dalam berwarna cokelat.
"Bra nya
nggak ada Ma?" Tanya ku menatap Mama heran.
Tidak mungkin kan
aku ke dokter tidak mengenakan bra?
Mama mengerutkan
kening, lalu menatap ku dengan mendecakkan lidah.
"Nggak
usah pake bra sayang, paling nanti tuh kamu disana juga disuruh
buka baju"
Aku sontak
membulatkan baju, "Hah? Kok buka baju Ma?" Tanya ku dengan raut
bingung maksimal.
Mama yang melihat
reaksi anaknya pun terkekeh pelan.
"Kamu ini
loh Ra, kan kamu mau induksi laktasi, pasti p4 yu d4 r4 kamu nanti di cek dong
sayang"
Aku menggaruk
kepala ku pelan, "Emang gitu ya Mah?"
Mama mengangguk,
"Iya gitu sayang, makanya kamu Mama beliin baju yang gampang dibuka. Biar
makin gampang kamu gak usah pake bra. Pake aja
nipple pad buat pu t1 n g kamu."
Lalu aku
menganggukan kepala saja mendengar penjelasan Mama.
"Yaudah Ma
aku ke kamar dulu ya"
"Ehh nggak
usah, kamu disini aja gantinya. Biar nggak bolak-balik."
Mama mengedipkan
mata, mengode ku untuk mengiyakan permintaannya.
Lalu melirikan
mata pada Papa yang ternyata mendengar obrolan ku dan Mama.
Aku menggigit
bibir kala mengerti permintaan Mama. "Oke Ma."
Setelahnya,
dengan perlahan namun pasti aku membuka handuk ku.
Aku bergidik
tatkala merasakan punggungku seperti ditatap tajam oleh Papa.
Lalu ku lirikkan
mata pada kaca yang tepat berada di depan ku.
Memantulkan posisi Papa yang terlihat
di kaca sedang menatapku dengan tatapan tajam.
Gleg...
aku menelan ludah
kasar ketika melihat Papa menjilat bibirnya ketika tubuhku sudah bugil.
Oekkkk oekkkk
oekkkkk ....
Mendengar suara
tangisan bayi.
Aku dan Mama Papa
sontak menolehkan kepala.
Menatap ke arah
ranjang Aksa yang berada tak jauh dari posisi kami.
"Oh ya ampun
anak Mama" Mama m3 m3 kik lalu segera menghampiri Aksa.
"Ira kamu
coba cari di laci bawah. Disitu kayanya ada nipple pad yang tadi Mama
bilang." Setelahnya, Mama berteriak cukup nyaring kepada ku.
Dari posisi ku
ini, aku menatap Mama yang kini sedang menggendong Aksa.
Menenangkan
adiknya yang mendadak nangis.
Lalu ku lirikkan
mata pada Papa yang ternyata belum beranjak dari posisinya.
Aku menggigit
bibir. Otakku bekerja dengan keras.
Entah hasutan
setan dari mana, aku mendadak ingin menggoda Papa.
V4g 1n 4 ku
sedikit berkedut kala Papa menatapku tanpa kedip.
Mengingat
perintah Mama, aku diam-diam menyeringai dalam hati.
Aku melirik Papa
diam lewat kaca, memperhatikan bahwa Papa kandungnya itu masih menatapnya.
Lalu, aku membuka
lemari dan memindai isinya.
Ternyata laci
yang Mama bilang berada di bagian bawah.
Sehingga mau tak
mau membuat ku harus menunduk.
Sebenarnya bisa
aku mencarinya dengan posisi jongkok biar lebih mudah.
Namun, karena aku
sengaja menggoda Papa, aku justru menundukan tubuh ku ke bawah.
Membuat posisiku menungging
dengan bokong terangkat ke Papa.
Sehingga
menampilkan v4g 1n 4 pink ku pada Papa.
"Mahhh kok
nggak ada" Pekik ku nyaring kala tidak menemukan apa yang Mama bilang
tadi.
Aku terus mencari-cari
sampai laci terdalam.
Membuat posisi ku
semakin menungging di depan lemari.
Lalu tanpa ku
sadari, Papa yang sudah t3r4ng s 4ng melihat anaknya yang binal itu
berjalan mendekat sambil membuka kaos hitam yang dikenakannya.
Ahhh...
Aku m3 m3 kik
lirih kala merasakan bokong ku di remas.
Masih dengan
posisi semula, aku menolehkan kepala.
Ternyata Papa
sedang berdiri di belakang ku.
Menempelkan p3n
1snya yang terbalut boxer ke bokong sekal ku.
"Nghhh Papah
ngapainhhh" Lirih ku menahan desah.
Tanpa membalas
pertanyaan ku, Papa justru mendorong p3n 1snya.
Membuat tubuh ku terhuyung
ke depan.
"Ahhh
Pahhh..." Aku m3 m3 kik.
Lalu menahan
tubuhku untuk bertumpu pada lemari yang baru saja ditutup oleh Papa.
Membuat ku bisa
dengan jelas melihat posisi ku dan Papa lewat kaca.
Sangat erotis.
Aku dengan tubuh
telanjangku dan Papa dengan tubuh setengah telanjangnya.
Badan kami saling
bersentuhan.
Lalu kelamin kami
sesekali saling bergesekan ketika Papa memaju mundurkan p3n 1snya.
"Ahhh Pahhhh
ouhhhh" Erang ku lirih.
Lalu dengan
sengaja ku dorong bokong ku ke belakang.
Supaya menempel
erat pada p3n 1s Papa yang kini sudah terbebas dari sangkarnya.
Brukkkk.
"Ahh
Paapah..." Aku m3 m3 kik kaget karena tubuhku mendadak di dorong Papa.
Sehingga membuat
tubuhku terhimpit di antara kaca dan tubuh panas Papa.
"Ahhhhhhhhh"
Desahanku keluar lagi kala Papa menjilat leher jenjangnya.
"Nghh binal
kamu sayang, siapa yang ngajarin kamu kaya tadi hm?" Bisik Papa di telinga
ku. Lalu menjilat leherku lagi.
Papa lalu semakin
menekan tubuhnya pada tubuhku.
Membuat p4 yu d4
r4 besar ku menempel erotis di kaca. Belum lagi kaki ku yang tadi dilebarkan
oleh Papa.
Sehingga membuat v4g
1n 4 ku bersentuhan secara langsung dengan p3n 1s Papa yang berada di
selangkangan ku.
Tubuh ku
meremang. Rasanya begitu geli namun juga sedikit nyeri kala p4 yu d4 r4nya
tergencet di antara kaca dan tubuh Papa.
"Pahh ahh
mundurin badannya nghhh dadaku sesek" Aku menggeliat. Berusaha menjauhkan
tubuh Papa dari tubuhku.
Demi apapun.
Dadaku sangat sesak kala terhimpit tadi.
"Nghh sorry
baby" Papa berucap lirih.
Lalu mengecup
pundakku kala tubuhnya sudah tak lagi menghimpitku dengan keras.
Walaupun masih
dalam posisi berdempetan di depan kaca, namun aku sudah tidak merasa sesak lagi
seperti tadi.
Papa yang melihat
betapa erotisnya ia dan anaknya berdiri di depan kaca pun sontak membasahi
lidah.
Lalu dari
belakang, Papa mulai menjilat dan menciumi leher sampai pipi anaknya.
Setelah dirasa
puas, lidah dan bibir Papa bergerak menuju bibir Ira.
Memaksa sang anak untuk
memutar kepala supaya memudahkannya mencium bibir sexy anaknya
itu.
"Ahhh..."
Aku mendesah kecil di tengah kegiatan ku
berciuman dengan Papa.
Lalu dengan
berani aku memasukan lidahku ke dalam mulut Papa.
Papa yang melihat
inisiatif anaknya itu pun sontak menyeringai.
Lalu menghisap
dengan rakus lidah Ira menggunakan bibirnya.
Aku memejamkan
mata, menikmati sensasi pergulatan lidah ku dan Papa.
"Ahhhhh..."
Namun aku m3 m3 kik
kala Papa dengan ganas meremas p4 yu d4 r4 ku dari belakang.
Tangan besar
Papa menangkup seluruh p4 yu d4 r4 ku yang besar.
Papa terus
meremas kedua p4 yu d4 r4 ku, jempol dan telunjuknya ia arahkan
tuk memilin-milin pu t1 n g ku yang semakin menegang.
"Ahhh Papahhh ahhh..."
"Nghhh
Pahh... ahh."
Aku mengerang.
Dada ku semakin
membusung kala Papa menahan kedua tanganku ke belakang.
Membuat posisi
tubuh ku seperti huruf S jika dilihat secara seksama.
"Mhhhhh
mhhh" Aku mendesah tak jelas.
Kedua tangan papa
masih meremas p4 yu d4 r4 ku disela ciumannya.
Membuat aku
merasakan ngilu namun juga nikmat karena Papa meremasnya begitu kuat.
Belum
lagi rangsangan yang jari papa berikan pada pu t1
n g ku.
Ahhh aku selalu
puas tiap kali Papa mencabuli tubuhku.
Sudah tak ada
lagi rasa canggung ketika Papa menjelajahi seluruh tubuhku.
Membuat rasa
nikmat yang ku rasakan semakin enak kala tubuhku
semakin rileks.
"T3 t3 kamu
makin gede ya sayang nghh Papa suka banget. Seksiii..."
Papa melepaskan
bibirnya pada ku.
Lalu melontarkan
kalimat pujian pada anaknya yang wajahnya sudah memerah karena gairah.
"Ahhh ahh
masa sih Pa?" Tanya ku dengan kepala menengok ke belakang.
"Iya sayang.
makin kenceng. Makin gede. Terus makin kenyel" Papa berucap lalu
memelintir pu t1 n gku dengan keras.
Membuat aku kelojotan dan
m3 m3 kik kencang.
"Ahhh
Papahh sakitt nghhh jangan digituin" Aku merengek
manja.
Pu t1 n gku terasa
seperti mau lepas karena gerakan Papa tadi.
"Nghhh kamu
seksi banget sayang, p3 nt 1 l kamu lucu banget bikin Papa gemes"
Papa lalu memutar
tubuhku. Membuat punggung ku bersandar pada kaca.
"Ahhhhh ahhh
Pahhhh ouhhhh" Desahan ku keluar.
Semakin menggema
di tengah-tengah walk in closet milik Mama dan Papa.
Ku lirikkan mata
memindai seisi ruangan dan baru ku sadari bahwa Mama sudah tidak ada dikamar.
Sepertinya sedang
menenangkan Aksa yang tadi menangis.
Slupppp.
slurpppppppp
Mendengar desahan
sang anak, Papa justru semakin bersemangat menghisap pu t1 n g Ira.
Membuat pu t1 n g
anaknya itu basah dipenuhi liurnya.
Papa menghisap, menjilat, lalu
menarik-narik pu t1 n g Ira menggunakan lidahnya.
Membuat sang
anak semakin kelojotan tak nyaman di posisinya.
"Ahhh Pahhh
ahh iyaa gituuuu nghhh enakkkk ahhh."
Ku gelengkan
kepala. Lalu menekan kepala Papa semakin tenggelam di kedua p4 yu d4 r4 ku.
Merasakan hisapan
ganas Papa pada pu t1 n g kiri ku juga remasan tangannya
pada p4 yu d4 r4 kanan ku sukses membuat ku mabuk kepayang.
Aku sudah sangat t3r4ng
s 4ng.
Bergairah ingin
mencari kepuasan lebih.
Aku bisa
merasakan bahwa inti tubuhku sudah sangat becek dan berkedut.
Seakan melambai
bahwa ia juga ingin dipuaskan.
"Ahhh Pahhh
nghh m3 m3 k ku gatel ahhhh" Lontarku binal pada Papa.
Lalu dengan
sengaja aku menggenggam p3n 1s Papa menuju belahan v4g 1n 4ku yang
sudah kubuka lebar.
Menggeseknya
disana dengan pelan sampai membuat ku menggelinjang penuh nikmat.
Papa yang melihat
tingkah binal sang anak pun terkekeh.
"Binal kamu
sayang udah nggak sabar ya m3 m3 knya Papa k0 nt 0lin hm?"
Aku sontak
mengangguk.
Lalu mendongakan
kepala kala Papa menghisap leherku.
Membuat tanda
kepemilikan di leher putihku.
"Nghhh...
iyaa ahhh ak-akuu udah nggak sabar m3 m3 knya dik0 nt 0lin Papa nghhh udah
becekk banget Pah.... gatelll..."
Dengan tangan
masih menggenggam p3n 1s Papa, aku mengangkangkan kaki semakin lebar supaya
mempermudah gerakan ku yang ingin menyodokan p3n 1s berurat Papa
pada lubang v4g 1n 4 ku yang becek.
"Ouhhhh
Pahhh sakit. "
Aku mengerang
dengan wajah memerah kala Papa tadi dengan sengaja
mendorong pinggulnya maju.
Menekan p3n 1snya
yang tadi menyapa liang senggama anaknya.
Shhhh... Papa
berdesis lirih kala kepala p3n 1snya sudah masuk sedikit di lubang sang anak
yang sangat sempit.
"Pahhh ahhh
nooooo nghhh sakit" Aku menggelengkan kepala.
Menggigit bibir
menahan perih kala merasakan bahwa p3n 1s Papa sudah
semakin masuk di lubang ku.
Walaupun belum
sampai menembus selaput daraku.
Tapi demi apapun
tubuhku terasa seperti dibelah dua.
"Erghhhh tahann
babyyy nghhh Papa cuma masukin dikit nghhhh fuckkkkk"
Papa menggeram.
Mendongakan
kepala kala merasakan hisapan kuat pada p3n 1snya.
Merasakan betapa
peret lubang v4g 1n 4 sang anak.
"Ernghhh
sayang... ahh m3 m3 k kamuu nghh sempit bangett ouhhhhhh..." Papa mengerang.
Lalu dengan
perlahan memundurkan p3n 1snya lalu menyodok nya kembali ke lubang sang anak.
"AHHHH
PAPAHHHHHHHHH"
Aku m3 m3 kik
kala hentakan p3n 1s Papa di bawah sana.
Anjing.
Aku mengumpat dalam hati.
Walaupun
sangat nyeri di awal, namun ada setitik nikmat yang
muncul kala Papa mengulangi gerakannya secara berulang.
"Ahhh ahh
sayang nghh Papa makin nggak sabar nyodok m3 m3 k kamuuu ughhh
shitt. "
"Ahhh ahhh
iya Pahhh ahhh akuu jugaa pengen disodok m3 m3 knya pake k0 nt 0l Papa
ahhhh. "
Aku merem melek.
Merasakan gerakan
Papa yang berulang-ulang menstimulasi liang senggama ku.
"Ahh
shit k0 nt 0l Papa baru masuk ujungnya aja udah enak banget sayang enghhhh
gimana kalau semuanya masuk ahhhhhh."
Papa meracau.
Menumpukan kepala di pundak leher ku dan sesekali menghisapnya pelan.
Menikmati jepitan
v4g 1n 4 sang anak di kepala p3n 1snya.
Papa mengumpat dalam hati. Mengabsen nama-nama
binatang kala merasakan jepitan lubang sempit Ira yang memabukkan.
Walaupun baru
ujungnya saja dan itupun tidak ada seperempat dari panjang senjatanya, tapi
sukses membuat Papa menggeram keenakan.
Serta membuat p3n
1snya semakin keras mengacung.
Ah anjing. Peret banget m3 m3 k anak kandung gue. Racau Papa dalam hati.