A A

 Akhir pekan telah tiba.

Hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh Mama sejak beberapa hari yang lalu.

Karena hari ini, keluarganya akan melakukan foto p0 ,, r ,, n0 berdalih foto keluarga.

Namun sayangnya, Mama membatalkan untuk jasa fotografer yang telah disewa.

Karena, setelah dipikir-pikir lagi, hasilnya nanti akan lebih h ,, 0 ,, t dan 3r ,, 0t ,, 1s jika tidak ada orang ketiga yang melihat.

Cukup Mama saja yang nanti melihat Ira dan Papa berpose s3 ,, ksi.

Karena sejujurnya pun Mama juga sedikit tidak rela jika tubuh mengg4 ,, 1r4 ,, hkan anak dan suaminya itu dilihat oleh orang lain.

Serta, hal yang perlu diantisipasi lagi adalah Mama takut bahwa hasil foto-foto nanti tidak sengaja tersebar ke dunia maya.

Sekalipun nanti Mama menyiapkan kontrak perjanjian untuk melarang hasil foto diupload di media manapun.

Oleh karena itu, untuk sesi foto nanti Mama sendiri yang akan menjadi fotografernya.

"Pagi Mama, Pa" Sapa ku pada kedua orang tua ku yang sedang duduk di sofa ruang keluarga.

"Pagi sayang"

"Mah nanti foto keluarganya jam berapa?" Tanya ku di sela-sela kegiatan menonton acara kartun botak yang sedang di tayangkan di televisi.

Mama yang sedang asik nyemil apel dengan pandangan ke arah tv pun sontak menoleh ke arah ku, "Nanti agak siangan aja."

"Kok kamu kayaknya nggak ada ngasih info-info ke aku sama anakmu si sayang?" Tanya Papa menatap istrinya bingung.

Karena, selain pembicaraan saat malam ulang tahun Mama, istrinya itu sama sekali tidak membahas hal ini lagi.

Kecuali semalam. Itu pun hanya memberitahu jika besok waktunya foto keluarga.

"Nah bener kata Papa tuh, nanti kita foto emangnya nggak ada dresscode gitu Ma biar bagus?" Tanya ku bingung.

"Ngapain pake dresscode, kan fotonya nanti t3l4n ,, j4n9."

Uhukkk... uhukk...

Aku yang sedang meminum air putih pun sontak terbatuk-batuk mendengar jawaban Mama.

"Sayang. Kamu jangan bercanda dong, itu anakmu sampe keselek gitu" Ucap Papa sambil membantu menepuk-nepuk punggung ku.

Mama yang masih mengunyah apel dengan mulutnya itu pun sontak melirik pada anak dan suaminya.

"Mama nggak bercanda. Emang fotonya nanti t3l4n ,, j4n9."

Aku mengerutkan kening, "Maksudnya gimana Mah? Kan katanya foto keluarga?"

"Kamu jangan aneh-aneh Ma, sebentar lagi kamu lahiran"

Mama berdecak, lalu menatap anak dan suaminya itu lamat-lamat. "Kan kemarin Mama bilang, Mama nggak mau yang temanya itu biasa. Jadi, yaudah Mama maunya nanti kita fotonya t3l4n ,, j4n9, nggak usah pake baju."

"Papa sama Ira tenang aja, nanti kita foto sendiri kok. Jadi nggak ada orang lain yang ngeliat kalian t3l4n ,, j4n9."

Papa mengusap wajahnya lelah, istrinya ini semakin hari semakin aneh saja.

"Ya kamu yang bener aja dong Mah, kita mau foto keluarga loh katanya? Kok jadi nggak pake baju"

Aku spontan menganggukan kepala ketika Papa selesai bicara. Kan awalnya Mama itu pengen foto keluarga? Tapi kenapa jadi kaya mau foto p0 ,, r ,, n0 gini.

Aku bergumam dalam hati. Semakin bingung dengan jalan pikiran Mamanya itu.

Mama yang mendengar suaminya itu mengomel pun dengan malas memutar mata, lalu menyandarkan diri ke sandaran sofa.

"Ya kan yang penting cuma ada kita bertiga doang Pah, lagian Papa norak banget deh orang zaman sekarang tuh banyak yang ngelakuin maternity shoot gitu juga"

"Jadi udah nggak aneh Pa foto kaya gitu, Lagian kalian inget loh harus nurutin semua permintaan Mama hari ini." Timpal Mama menatap anak dan suaminya itu dengan mata memicing.

"Inget nggak ada penolakan ya!"

Aku spontan bertukar pandangan pada Papa, lalu menghelas nafas secara bersama.

"Kamu ini loh Ma, udah mau lahiran juga masih aja ngidam yang aneh-aneh."

"Loh kan yang ngehamilin Mama itu Papa, ya harusnya Papa dong yang Mama salahin." Ucap Mama sambil melirik sinis suaminya itu.

Mencium hawa-hawa tak sedap, aku dengan cepat menenangkan suasana.

"Udah-udah Ma, nanti Mama mau fotonya kapan?"

"Nanti agak siangan aja"

"Oh ya Pah... kamu beliin memori kamera dulu sana, Mama lupa kemarin beli kameranya aja" Pinta Mama pada Papa.

Papa mengerutkan kening, "Kapan kamu beli kamera Mah? Kok Papa nggak tahu?"

"Kapan-kapan. Udah ah sana Papa beliin dulu" Ucap Mama sedikit jengkel.

Suaminya itu kenapa jadi banyak bicara sekarang.

"Iya-iya Mama Papa ganti baju dulu kalo gitu."

Setelahnya Papa beranjak ke kamar tuk mengganti baju. Lalu pamit kepada anak dan istrinya itu.

Tinggalah kini aku dan Mama yang masih asik menonton tayangan kartun botak itu.

"Kamu udah mandi, Ra?" Tanya Mama tiba-tiba pada anaknya.

Masih dengan apel di mulut aku spontan menggelengkan kepala.

"Kalo gitu, nanti kamu Mama mandiin ya sayang"

Aku menaikan alis, tumben sekali Mama.

"Nggak usah Mah, Mama istirahat aja kasian nanti adek"

Mama menatap anaknya dengan pandangan memelas, "Kamu nggak mau Mama mandiin ya"

Melirik wajah Mama yang memelas, aku mend3$4 ,, h dalam hati, "Mama perlu inget loh bentar lagi mau lahiran, jadi Mama nggak usah cape-cape."

"Mama nggak usah mandiin aku, tapi nanti Mama lihatin aku mandi aja"

Aku kembali bersuara ketika melihat Mama yang ingin kembali membantah. Mama yang mendengarnya pun sontak tersenyum penuh binar.

"Yaudah yuk mandi sekarang aja. Biar pas Papa pulang udah tinggal foto."

Setelahnya, aku dan Mama beranjak ke kamar.

Aku yang langsung ke kamar mandi dan Mama yang menyiapkan baju ku.

Mama yang memang sudah menyiapkan pakaian-pakaian yang akan dikenakan anak seksinya itu pun sontak membuka lemari.

Memilah-milah paper bag baru yang belum dibuka sama sekali.

"Nih sayang, pake ini dulu" Ujar Mama sambil menyodorkan sepasang underwear hitam pada ku.

Aku yang masih terbalut handuk pun sontak mengangguk, lalu melepaskan handukku tanpa canggung di depan Mama.

Melihat anak gadisnya bu9 ,, 1l, mata Mama sontak menajam ketika melirik bagian dada sang anak yang sepertinya semakin padat.

"Sayang dadamu makin padat ya?" Mama berucap sambil tangannya mer3m ,, 4$ kedua buah dada anaknya yang belum terbalut bra.

Ahhhh

Aku mend3$4 ,, h lirih, sedikit terkejut karena gerakan Mama yang tiba-tiba.

"Ah masa sih Ma? Kayaknya masih sama aja" Timpal ku sambil menatap pantulan diri ku di cermin.

Mama manggut-manggut, "Emangnya bra kamu masih muat kamu pake?"

Aku sontak mengangguk, lalu ku tunjukan tubuh depan ku pada Mama. "Nih Ma, masih muat kok bra nya"

"Hmm walau kaya gitu, kamu kayaknya perlu beli bra baru buat beberapa bulan kedepan sayang"

Aku yang mau memakai dress merah berenda pilihan Mama pun sontak mengerutkan kening, "Buat apa Mama?"

Mama berdecak, "Punyamu kan akhir-akhir ini sering dimainin Papa sayang, pasti nanti ukurannya bisa bertambah."

Mendengar jawaban Mama aku sontak membulatkan mata dengan wajah memerah.

Entah kenapa aku menjadi gugup.

"Emmm Mama emangnya nggak Papa aku begituan sama Papa?" Cicit ku pelan masih dengan bra dan cd yang menutupi tubuhku.

Entah keberanian dari mana, aku menanyakan hal yang sudah sedari lama bersarang di kepala ku.

Tentang Mama yang sepertinya biasa saja melihat anak dan suaminya berbuat tak senonoh.

"Begituan gimana sayang?" Tanya Mama menatap anaknya dengan pandangan lucu.

Sesekali mengerjai anak gadisnya tidak masalah kan.

Aku membasahi bibir sebelum berucap, "Hmmm it-itu Mama emang nggak cemburu kalau lihat aku sama Papa ciuman gitu?"

"Mama nggak marah kalau liat aku sama Papa berbuat yang nggak semestinya?" Tanya ku.

Mama terkekeh, "Kalau Mama cemburu dan marah, kamu paling udah Mama usir sayang"

"Toh kamu juga suka kan tiap Papa nyentuh kamu?" Timpal Mama menatap putri kandungnya dengan pandangan menggoda.

Aku meringis namun dengan ragu mengangguk.

Bisa kurasakan wajahku memerah malu.

"T-tapii Mama bener kan nggak marah kalau liat aku sama Papa mesra-mesraan?" Tanya ku lagi.

Mama berdecak, "Iya sayang, Mama nggak marah. Asal kamu nggak ngerebut Papa aja dari Mama.."

Aku sontak membulatkan mata, "Nggak mungkin lah Ma. Aku kan udah punya Kevin."

Berbicara tentang Kevin, aku jadi kepikiran untuk menceritakan kelainannya pada Mama.

"Mah, emm sebenernya ada yang mau aku ceritain ke Mama" Aku mencicit pelan. Menghampiri Mama yang sedang duduk di pinggir ranjang.

"Kenapa sayang? Kamu ada masalah yang belum selesai?"

Aku menggeleng, lalu ku basahi bibir ku karena mendadak ragu.

"Ini tentang Kevin, Ma"

Mendengar kalimat sang anak, Mama sontak menaikan kedua alis.

Lalu terkekeh kecil ketika tahu apa yang anaknya itu akan bahas.

"Aku mau cerita, tapi Mama jangan marah dulu ya"

Melihat Mama menganggukan kepala, aku lalu menceritakan semuanya pada Mama.

Tentang kelainan s ,, 3 ,, x Kevin pada Mama.

Tentang pacar ku itu yang berg4 ,, 1r4 ,, h jika melihat aku di gagahi Papa.

Tentang Kevin yang berkeinginan untuk menyentuh ku setelah aku lebih dulu disentuh Papa.

Setelahnya aku memejamkan mata, sedikit takut melihat respon yang akan Mama berikan.

Setelah hening sedikit lama, aku memberanikan membuka mata.

Lalu menatap Mama yang kini menatapku dengan pandangan tak kumengerti.

"Mama nggak marah? Nggak mau nyuruh aku mutusin Kevin?" Tanya ku yang langsung dibalas gelengan kepala oleh Mama.

"Nggak sayang, kamu ini loh Mama kira Kevin itu kenapa sampai kamu grogi gitu ceritanya"

Aku meringis, sedikit tidak berekspektasi jika respon Mama akan biasa saja.

Awalnya aku mengira akan ada drama-drama dimana Mama meminta ku putus dengan Kevin.

"Mama beneran nggak masalah tentang kelainan s ,, 3 ,, x Kevin?" Tanya ku memastikan.

Sedikit takut jika Mama tadi tidak mendengar cerita ku dengan jelas.

"Mama nggak marah kalau misal aku ngegoda Papa buat p3r ,, k0 ,, s4 aku biar Kevin mau ngegrepein aku?" Tanya ku dengan frontal.

Toh biarlah saja. Sudah basah pula, kenapa tidak sekalian saja nyebur ke dalam kolam.

Mama yang mendengar ucapan frontal anaknya pun sontak terkekeh geli, "Mama justru seneng kalo kamu diperkosa Papa"

Aku membulatkan mata, apa-apaan ini. "Mm-maksud Mama?" Cicit ku.

"Udah pokoknya kamu tenang aja. Mama nggak akan marah kamu sama Papa ngelakuin hal-hal kelewat batas. Mama juga nggak akan suruh kamu buat putus sama Kevin."

Mendengar ucapan Mama, sontak mataku berbinar senang.

"Beneran loh yaaa Ma?" Tanya ku sambil memeluk Mama.

"Iya sayang, Mama malah bakal terus dukung kamu buat deketin Papa supaya Kevin mau ngegrepe kamu. Mama itu loh udah seneng banget sama Kevin buat jadi mantu."

Aku menggigit bibir tuh menahan senyum.

Entah kenapa aku merasa bahagia mendengar ucapan Mama.

"Nih makanya nanti kamu pas foto turutin kata Mama ya sayang, kan pas banget tuh nanti kita fotonya t3l4n ,, j4n9. Nanti Mama suruh Papa foto sama kamu." Ujar Mama menatap anaknya dengan pandangan menggoda.

Bisa kurasakan wajahku memerah dengan cepat.

Sedikit malu karena membayangkan hal yang diucapkan Mama.

"Emmmm tapi aku malu Ma" Cicit ku pelan.

"Ngapain kamu malu sayang, bukannya kamu udah pernah t3l4n ,, j4n9 depan Papa?" Tanya Mama dengan tatapan menggoda lagi.

Aku sendiri dengan spontan kembali mengingat perbuatan c4b ,, ul ku dan Papa di kamar mandi beberapa waktu lalu.

Sedikit tidak heran jika Mama tahu akan hal itu.

Karena pada saat itu aku dan Papa benar-benar tidak bisa mengontrol nafsu dengan baik.

Kami saling mend3$4 ,, h dan mencari kepuasaan.

"Udah biar nanti nggak canggung kamu sekarang nggak usah pakai baju, nanti pas Papa pulang kamu udah difoto t3l4n ,, j4n9 gitu" lontar Mama pada ku.

Aku yang masih memakai underwear pun sontak menganggukan kepala.

Lalu menatap Mama yang dari tadi bolak-balik di depan ku.

"Nih mending kamu bantu Mama, nanti kita langsung foto di sini aja" Ucap Mama sambil menyerahkan sebuah sprei kasur.

"Kamu ganti itu, terus nanti kita geser sofa sedikit ke tengah"

Dengan cepat aku mengganti sprei kasur lalu menggeser sofa yang ada di dekat jendela kamar.

"Biar aku aja Ma ini berat" Ucap ku lalu langsung mendorong sofa dengan perlahan.

Walau berat tapi tidak masalah.

Aku tidak mau Mama yang hamil besar itu melakukan pekerjaan berat.

Mama manggut-manggut, lalu mulai menyiapkan kamera yang akan ia gunakan nanti.

"Buka bra sama cd mu sayang terus duduk di atas kasur, Mama mau ngetes kamera dulu." Ucap Mama tanpa melirik ku.

Dengan kilat aku buka semua kain yang masih menutupi badan ku, lalu aku duduk di tengah kasur dengan kaku.

Sedikit bingung ingin berpose gimana.

Mama yang melihat anak gadisnya itu kikuk pun hanya terkekeh, "Coba kamu duduk nya numpu pake paha terus di buka lebar sayang"

"Nah iya gitu bagus." Mama berdecak kagum. Anak gadisnya itu luar biasa sekali.

Cekrek... cekrek...

Mendengar pujian Mama, aku perlahan mulai rileks.

Bahkan kini aku sudah bergaya dengan sendirinya.

Masih dengan posisi duduk semula, aku kemudian mengangkat bokong ku sedikit, lalu bergaya dengan pose tangan yang mengikat rambut.

Membuat dada sekal ku yang membusung semakin menonjol ke depan.

Karena pendingin ruangan yang cukup rendah, aku bisa merasakan put ,, !n ,, 9 p4 ,, yud4 ,,  r4 ku lama-lama menegang dengan sendirinya.

"Nah coba tangan kamu nutupin p4 ,, yud4 ,,  r4 mu"

Aku lalu mengangguk singkat dan menurunkan kedua tangan ku.

Dengan berani kugigit bibirku 3r ,, 0t ,, 1s lalu menatap kamera dengan pandangan sayu.

"Wow bagus banget Ra. Kamu seksi banget disini" Ujar Mama sambil menatap hasil tangkapan kameranya.

Padahal Mama memotret asal-asalan sambil posisi duduk di sofa.

Tapi hasilnya itu tetap luar biasa.

"Mana Mah coba liat" Aku langsung beranjak dari kasur lalu membungkukan badan di depan Mama untuk melihat hasil foto di kamera.

Membuat posisi ku ini sedikit menungging membelakangi pintu masuk.

Bertepatan dengan itu, Papa baru saja sampai di pintu kamar.

Fuck.

Papa mengumpat dalam hati ketika kakinya baru menginjak pintu kamar yang terbuka.

Salah apa dirinya tiba-tiba disuguhkan pemandangan tubuh molek anaknya yang bu9 ,, 1l.

Dengan kasar Papa menelan ludah kala netranya melihat anak gadisnya sedang bert3l4n ,, j4n9 bulat dengan posisi menunduk.

Membuat bokong mulusnya ke angkat dan p4 ,, yud4 ,,  r4 sekalnya bergelantungan.

Lalu dengan canggung Papa berjalan mendekat, "Ehem... Mah..."

Mendengar suara Papa, aku dengan reflek memutar kepala.

Lalu membulatkan mata melihat Papa yang menatapku.

Gila. Tenang Ra, santai aja.

Dengan wajah memerah karena Papa melihat tubuh bu9 ,, 1lku, aku dengan cepat membuang wajah lalu duduk di samping Mama.

"Papa dari mana aja sih? Lama banget, tuh kasian anakmu udah nungguin" Ujar Mama lalu menatap ku dengan seringai menggoda.

Menatap tajam tubuh molek sang anak, Papa lalu berucap, "Tadi Papa muter dulu Ma, agak macet juga."

"Sana sayang kamu ke kasur lagi. Kita foto ulang ya"

Aku mengangguk dengan canggung, lalu dengan berani ku lirikan mata pada Papa yang berkilat menatap ku.

Sungguh. Aku merinding ditatap intens oleh mata indah Papa.

Dengan perlahan aku naik ke atas kasur, lalu menatap Mama yang kini sedang menatap ku dengan anggukan kepala.

Keep calm Ira. Tenang. Rileks aja. Demi Kevin. Demi percintaan lo. Ayo kita buat Papa t3r4n9 ,, $4n9. Gumamku dalam hati.

"Ayo sayang kamu gaya, Mama nanti foto."

Dengan sorot mantap, aku mulai bergaya di depan kamera.

Pertama, ku posisikan tubuh ku seperti tadi, bertumpu pada paha, lalu dengan ragu ku tumpuhkan kedua tangan ku untuk menyangga tubuh depanku.

Sehingga membuat posisi bokong ku sedikit menungging.

Cekrek... cekrek...

Lalu aku berganti gaya, semakin berani tuk memposisikan tubuh lebih rendah, membuat posisi ku semakin menungging di atas kasur dengan kedua tangan lurus ke depan.

Ku buat juga posisi paha ku sedikit mengangkang.

Membuat posisiku sangat terlihat 3r ,, 0t ,, 1s di depan Mama dan Papa.

Aku menggigit bibir, menatap 3r ,, 0t ,, 1s Papa yang tanpa kedip sedang menatapku.