"Happy birthday Mama... happy birthday Mama"
"Happy
birthday, happy birthday Mama."
"Yeayyy
selamat ulang tahun Mamaa sayang" Aku memekik senang, lalu memeluk Mama penuh
sayang.
"Selamat
ulang tahun sayang, I love you." Setelahnya, Papa mengucapkan selamat kepada
istrinya yang telah bertambah umur.
Lalu
mengecup keseluruhan wajahnya.
"Tiup
lilin dan make a wish dulu dong Mama. "
Pinta
ku pada Mama setelah sesi c1 ,, u ,, m4n Papa selesai.
"Semoga
keluarga kita bisa selalu harmonis, penuh kesejahteraan, dijauhi dari hal buruk,
dan akan selalu penuh kehangatan."
Fyuh
"Yeayyyy...
sekali lagi selamat ulang tahun Mama. Semoga proses melahirkan nanti Mama diberi
kelancaran dan kemudahan. " Ucap ku mendoakan Mama.
Kini
jam sedang menunjukan pukul 12 malam lewat 10 menit, aku dan Papa memang sengaja
untuk memberikan mama surprise.
"Kamu
mau minta kado apa dari aku sayang hm?" Tanya Papa setelah kami bertiga bersisian
menyender di atas tempat tidur.
"Iyaa
Mama juga mau minta kado apaa dari Ira? Aku sengaja belum beliin Mama kado karena
biar Mama aja yang minta hehehe" Timpal ku lalu memeluk Mama penuh sayang.
Kini,
posisinya Mama duduk di tengah ku dan Papa.
Aku
di sebelah kanan dan Papa di sebelah kiri.
"Mama
nggak mau kado, Mama cuma pengen kalian nanti satu hari nurutin semua yang Mama
minta dan nggak boleh nolak"
Mendengar
permintaan Mama aku dan Papa sontak saling melirik.
Mau
minta apa lagi ini Mama?
"Mama
mau aku sama Papa ngapain emangnya?"
"Iyaa
sayang kamu mau apa? Jangan yang aneh-aneh loh kamu udah gede banget gini perutnya
Timpal Papa.
"Nghhh...
Ahhh Paa tangan mu itu loh"
Aku
yang melihat Papa dan Mama bermesraan di samping ku pun hanya bisa pasrah saja.
Ini
Nyokap Bokap nggak ngertiin anaknya banget yah. Aku mendengus dalam hati.
Walaupun
ada setitik rasa senang karena melihat hubungan Mama dan Papa yang semakin harmonis.
Sekalipun
aku dan Papa sudah melakukan hal-hal bejat di belakang maupun di depan Mama, aku
tidak ada niatan untuk merebut Papa dari Mama.
Tidak.
Sama sekali tidak.
Karena
yang aku inginkan hanyalah Kevin.
Aku
sangat mencintai pacar ku itu.
Sekalipun
Kevin memiliki kelainan seksual yang tabu, yang seharusnya sudah ku putuskan sejak
lama.
Tapi
melihat beberapa waktu lalu dimana Kevin yang mengkilat penuh n4f$ ,, u, aku jadi
semakin tertantang untuk menaklukan Kevin dan Papa.
Menaklukan
Papa agar Kevin benar-benar bisa berg4 ,, 1r4 ,, h melihat aku sebagai pacarnya,
juga menaklukan Kevin supaya hubungan romantis ku dengannya tidak kandas.
Setelah
aku pikir-pikir, Mama juga sepertinya tidak masalah jika melihat aku bermesraan
dengan Papa dalam konteks seksual yang lebih terbuka dan tidak wajar untuk seorang
anak dan orang tua.
Melihat
dari beberapa waktu lalu dimana aku yang mencium Papa di bibir dan di balas oleh
Papa, Mama tidak ada menegur atau memarahi ku karena berbuat seperti itu.
Justru
yang aku dapatkan hanyalah pandangan berbinar yang entah apa artinya.
Lalu,
tentang permintaan Mama yang menyuruh ku untuk merawat diri dan memberikan ku baju
seksi.
Aku
memang setuju untuk merawat diri karena tidak mau kehilangan Kevin, sedangkan untuk
menggunakan lingerie atau pakaian seksi lainnya jika di rumah itu aku lakukan demi
menuruti permintaan Mama yang sedang hamil.
Walaupun
sebetulnya, aku dulu juga sering berpakaian hotpants dan tanktop saja di depan Papa.
Ya,
memang tidak seterbuka sekarang, cuma tetap saja dua pakaian tersebut jika digunakan
oleh ku tetap bisa membuat tubuh seksi ku terekspos.
"Ck
Pahhh ihhh itu nggak malu diliatin anaknya nghhh" Mama berdecak. Mencoba menjauhkan
kepala sang suami dari lehernya.
"Hmmmm...
Ira kan juga udah gede Mama" Balas Papa cuek.
Tidak
mengindahkan permintaan Mama dan malah asik menj1l ,, 4t leher jenjang sang istri.
"Pahh...
nghhh kamu stopp hh atau tidur di luar hm?" Lontar Mama seketika.
Membuat
Papa yang berniat menjelajahkan tangannya ke tubuh sang istri pun membeku seketika.
Papa
meringis, lalu menatap Mama yang sedang menatap garang ke arahnya, "Iya Mama"
Mama
mendengus, menatap Papa malas.
Aku
yang pengertian dengan kedua orang tua ku pun sontak langsung kembali membicarakan
topik.
"Mama
jadinya mau hadiah apa dari aku sama Papa?"
Mendengar
ucapan sang anak, wajah Mama seketika kembali berbinar.
"Kaya
yang tadi Mama bilang, Mama pengen kamu sama Papa nurutin seluruh permintaan Mama
dalam satu hari."
Sambil
berucap lamat, Mama menatap wajah sang anak dan suami bergantian.
Meneliti
reaksi apa yang akan mereka berikan ketika mendengar permintaannya nanti.
"Dan
dalam satu hari itu Mama pengen kita sekeluarga buat foto bareng. Buat kenang-kenangan
sebelum Mama melahirkan."
Aku
menatap Papa yang juga sedang menatapku, lalu dalam diam kami saling menganggukan
kepala.
"Oh
Mama mau jadi foto keluarga gitu kita bertiga?" Tanya ku memastikan keinginan
Mama kembali.
Mama
mengangguk, "Iya foto keluarga. Tapi, karena ini foto keluarga pertama kita
setelah beberapa waktu, sekaligus foto keluarga buat kenang-kenangan tentang kehamilan
Mama yang terakhir, jadi buat fotonya nanti Mama pengen tema kita itu yang beda."
"Karena
itu, Mama nggak mau kita foto studio. Mama pengennya nyewa fotografi sendiri dan
kita foto di rumah." Tambah Mama panjang lebar.
Dalam
hati Mama menyeringai membayangkan rencananya nanti.
"Kalau
di rumah, Mama pengennya emang tema apa Mah? Bukannya lebih bagus kita sekeluarga
foto di studio aja?" Tanya ku sedikit bingung.
"Ck...
udah pokoknya nanti Mama yang bakal urus semua. Inget aja kata Mama, kamu sama Papa
nanti wajib nurutin apa yang Mama mau dan apa yang sudah Mama rencanakan."
Hehehe...
Mama sengaja tidak memberitahukan rencana foto keluarga ini lebih lanjut.
Karena,
yang Mama inginkan dan rencanakan itu adalah memang foto keluarga, namun dengan
tema yang dewasa.
Alias,
Mama pengen Ira dan Papa itu bergaya di depan kamera seperti model couple sexy yang
waktu itu sempat Mama lihat saat sedang ngedate di Mall bareng Papa.
Saat
itu, saat sedang menunggu Papa yang sedang ke toilet, Mama tidak sengaja melabuhkan
pandangannya pada sebuah foto yang di pajang di salah satu gerai penjual yang ada
di dalam Mall.
Dalam
foto tersebut, dua model berbeda jenis kelamin terlihat sangat modis dan juga 3r
,, 0t ,, 1$.
Oleh
karena itu, seketika Mama berfikir jika ia ingin melihat anak dan suaminya itu berpose
3r ,, 0t ,, 1$ di depan kamera.
The
power of money, tak lama kemudian Mama sudah dapat nomor kontak fotografer yang
sering memotret model-model untuk majalah dewasa.
Bahkan,
setelah diselidiki lebih lanjut fotografer yang Mama kontak itu juga merupakan seorang
fotografer porn star atau fotografer yang suka memotret artis-artis yang suka berlakon
p0 ,, r ,, n0.
Sehingga,
Mama yang sudah excited bertambah menjadi sangat excited setelah mengetahui hal
tersebut.
Bahkan
saking excitednya, Mama bertanya secara frontal pada fotografer tersebut tentang
kebenaran yang ia dapat.
Dan,
gotcha. Ternyata benar.
Makin
berbinarlah Mama sekarang.
Tidak
sabar untuk menanti weekend nanti, dimana tanggal yang sudah Mama siapkan jauh-jauh
hari untuk melakukan foto keluarga ini.
Ughh...
Mama sudah bisa membayangkan akan se 3r ,, 0t ,, 1$ apa foto Ira dan Papa nanti.
Ditambah,
Mama juga sudah membeli lingerie serta baju-baju seksi untuk anaknya itu kenakan.
Kalau
untuk Papa, Mama hanya membeli beberapa pasang celana pendek serta beberapa boxer
dengan model brief.
Lebih
gilanya lagi, Mama juga berencana untuk membuat Ira dan Papa foto dengan bugil alias
tanpa busana.
Ahhhh....
membayangkannya saja sudah bisa membuat bagian bawah Mama becek.
"Mahh....
Mamaa..." Aku menepukan tangan ku pada pundak Mama yang dari tadi sedang senyum-senyum
tidak jelas.
Mama
kenapa senyum-senyum sendiri seperti ini? Apakah Mama lagi-lagi sedang bermimpi
3r ,, 0t ,, 1$ seperti kejadian yang lalu?
Mama
berjengit saat merasakan tepukan di bahunya, "Eh ya kenapa sayang?"
"Mama
kenapa bengong sambil senyum gitu... ngerii aku liatnya karena takut Mama kesurupan..."
Canda ku yang langsung dihadiahi oleh sentilan pelan di hidung mancung ku.
"Kamu
ini loh ada-ada aja sayang, udah ah Mama mau tidur. Mama udah cape banget."
"Oh
iya sayang, kamu tidur disini aja sama Mama sama Papa ya. Kita udah lama banget
nggak tidur bareng soalnya" Pinta Mama tiba-tiba. Membuat ku secara reflek
melihat wajah Mama yang sudah lelah dan wajah Papa yang datar.
Setelah
hening sejenak, aku kemudian mengangguk, "Oke Mama..."
Mama
tersenyum senang lalu menyeletukan kalimat, "Kamu tidur di tengah ya sayang
biar Mama di pinggir. Mama akhir-akhir ini suka gerah dan udah susah buat gerak."
Setelahnya,
aku bertukar tempat dengan Mama.
Sehingga
membuat ku tidur di dempet oleh Papa di sebelah kiri dan Mama di sebelah kanan.
Entah
kenapa aku tiba-tiba merinding.
Apalagi
tadi aku sempat melihat mata Papa yang berkilat saat menatapku.
"Good
night sayang, good night Papa" Ucap Mama lalu setelahnya terjatuh dalam mimpi
"Good
night Ma, Pa" Balas ku lalu memperbaiki letak selimut yang kami pakai dan mencoba
memejamkan mata.
Karena
aku yang memang sudah mengantuk, jadi aku dengan cepat segera terlelap.
Namun
sayangnya, tak lama setelah aku tertidur, aku merasakan ada seseorang yang menciumi
leherku dan memelukku dari belakang.
Karena
kini posisi ku sedang tertidur miring menghadap Mama yang telentang.
"Nghhh"
Aku mengerjapkan mata, merasa terganggu karena kini badanku sedikit meremang.
Ku
tolehkan kepala ke belakang, dan melihat sang Papa yang menjadi dalang dari keremangan
tubuh ku.
"Nghhhh
ahhh Papahh ngapainnnn nghh" Aku mend3$4 ,, h lirih, takut membangunkan Mama
yang sudah tertidur pulas.
Tak
membalas pertanyaan ku, Papa justru mendekatkan wajahnya padaku, lalu menyatukan
bibir kami dengan cepat setelah menyingkap selimut yang ku pakai.
Papa
mencium ku. Lalu mengh1$,, 4p dan mengul ,, um bibir bawah ku rakus.
"Hmmmppt
Pahhh nghh" Aku berjengit, kaget karena gerakan Papa yang tiba-tiba.
Karena
aku belum siap dan nyawaku belum kumpul sepenuhnya, aku dengan spontan mendorong
tubuh Papa menjauh, mencoba melepaskan pagutan bibirnya pada bibirku.
Namun
apa daya, tenaga Papa lebih besar dari ku.
Kini,
bahkan Papa sudah mengukung tubuhku di bawah tubuhnya yang gagah itu.
"Nghhh
Pahhhh ahhh" Aku mend3$4 ,, h.
Mulai
terhanyut dalam c1 ,, u ,, m4n ganas Papa yang memabukkan.
"Nghhh
buka bibir kamu sayang" Pinta Papa yang dengan reflek ku turuti.
Setelahnya,
Papa menyeringai penuh n4f$ ,, u ketika sang anak membuka mulutnya.
Lalu,
Papa dengan segera menyesap kasar bibir bawah sang anak, lalu ia memasukan lidahnya
ke dalam rongga mulut Ira tuk mengabsen isi di dalam sana.
"Nghh...."
Aku mend3$4 ,, h tertahan.
Mer3m
,, 4$ pundak t3l4n ,, j4n9 Papa karena sensasi c1 ,, u ,, m4n yang baru pertama
kali ku rasakan.
Ini
pengalaman pertamaku berc1 ,, u ,, m4n seperti ini.
Baru
pertama kali ini Papa menciumku sambil memainkan lidahnya di dalam rongga mulut
ku.
Sehingga
membuat ku kewalahan karena sensasi nikmat yang Papa berikan.
"Ikutin
gerakan Papa" Ujar Papa di sela-sela sesapan bibirnya pada sang anak.
Setelahnya,
Papa menggunakan lidahnya untuk mencari lidah Ira, mengajak anaknya itu untuk berperang
lidah dan bertukar s4l ,, 1v4.
"Enghhhhhh..."
Aku melenguh nikmat.
Sensasi
c1 ,, u ,, m4n kali ini benar-benar memabukkan.
Aku
yang sudah terhanyut dengan belitan dan h1$,, 4pan kuat Papa pada seluruh isi rongga
mulut ku pun tanpa sadar kini sudah mengalungkan kedua tangan ku di leher Papa.
Masih
dengan lidah yang tengah mengobrak-abrik rongga mulut sang anak, Papa mulai menjelajahkan
tangannya ke paha t3l4n ,, j4n9 Ira untuk di elus.
Lalu
merambah semakin naik hingga ke perut dan p4 ,, yud4 ,, r4 anaknya yang menyembul.
Lalu,
Papa mulai menggerakan jari jemarinya di gundukan sekal sang anak. Mer3m ,, 4$nya
pelan, lalu menarik-narik p3 ,, nt ,, 1l sang anak yang sudah menegang dari luar
tanktop yang anaknya keenakan.
"Nghhh...
Papahh..." Aku menepuk pundak Papa kuat saat dirasa sudah tidak bisa bernafas.
Setelah
pagutan bibir Papa pada ku lepas, aku dengan cepat menarik nafas menghirup oksigen
yang beberapa detik lalu sempat tak kurasa.
Lalu
melirikan mata pada Papa yang juga sama-sama sedang terengah-engah.
Wajahku
memerah, c1 ,, u ,, m4n tadi benar-benar luar biasa. Sampai membuat ku lupa diri.
Kini,
aku bahkan bisa merasakan bahwa bibir ku membengkak dan membuat warnanya jadi lebih
memerah karena c1 ,, u ,, m4n tadi.
Cup.
Papa
mencium kembali bibirku, lalu memposisikan tubuhnya bersandar di kepala ranjang
dengan aku yang duduk di pangkuan Papa.
Karena
tubuhku lemas, aku biarkan saja Papa berbuat semuanya pada tubuh ku.
"Ahhh
Papah Ahhh aku masih lemes ahh" Lirih ku saat merasakan Papa sudah berulah
dengan menciumi leherku dan memberikan tanda disana.
Mengabaikan
ucapan sang anak, Papa justru mulai bermain di kedua p4 ,, yud4 ,, r4 montok Ira.
Karena
sudah bern4f$ ,, u, Papa dengan cepat menaikan tanktop yang dipakai anaknya itu
ke atas, sehingga menampilkan p4 ,, yud4 ,, r4 montok anaknya yang sukses membuat
Papa semakin tegang.
Tanpa
membuang waktu, Papa dengan segera mendekatkan wajahnya pada dua benda sekal di
depan matanya.
Merasakan
secara langsung p4 ,, yud4 ,, r4 anaknya yang begitu padat namun juga kenyal.
"Ahhh
Pahhh" Aku berjengit.
Sedikit
terkejut karena perlakukan Papa yang tiba-tiba. Aku merasakan sedikit geli saat
wajah Papa tenggelam di kedua dada sekal ku.
"Ouhhh
Papaahhh" Aku mend3$4 ,, h lirih saat Papa mulai mengecupi kedua p4 ,,
yud4 ,, r4 ku lalu mer3m ,, 4$nya secara langsung menggunakan tangan besar Papa.
"Ahhh
Papaahhh nghh Mama nantii hh bangunn" Aku dengan setengah hati menolak sentuhan
Papa, karena justru tubuh ku dengan senang hati menerima apa yang Papa lakukan.
"Ouhhhh
Ahhh Pahh" Aku mend3$4 ,, h nikmat.
Ini
pertama kalinya mulut Papa bermain di p4 ,, yud4 ,, r4ku secara langsung.
"Pahhhhh
ahhhhh...." Erangku lirih, sedikit merasa geli karena put ,, 1n ,, 9 sebelah
kanan ku sedang dij1l ,, 4ti oleh lidah basah Papa.
Sementara
put ,, 1n ,, 9 sebelah kiriku dimainkan oleh jari Papa. Di pilin-pilin, sebelum
ditarik dan dicubit pelan.
"Ahhh
Papahhhh engggg gelihhhh"
"Ouhhhh
jangannn digituinnn put ,, 1n ,, 9 kuu Paahhh ahhhh" Rengek ku pada Papa yang
tadi menyedot put ,, 1n ,, 9ku dengan cepat.
Aku
t3r4n9 ,, s4n9. Merasakan semua sendi dan otot tubuh ku meluruh menjadi jelly.
"Ahhh
ahhh Pahhh ouhhh jangan diemut gitu hhh gelihh ahhh" Aku mengerang dengan sedikit
kencang saat Papa memasukan p3 ,, nt ,, 1l ku ke dalam mulut seksinya.
"Ughhh
Papahh ahhh" Tubuh ku kelojotan karena gerakan mulut dan lidah Papa yang semakin
berani, lalu tanpa sadar aku mulai menggerakan tubuh ku di atas tubuh Papa karena
mulai t3r4n9 ,, s4n9.
"Enghhh
sayanghhh iyaa enghh goyanginn pantat kamuu gitu hhhh" Pinta Papa di sela-sela
ku ,, lu ,, man bibirnya pada p4 ,, yud4 ,, r4 montok sang anak.
Papa
sudah sangat t3r4n9 ,, s4n9,
Bern4f$
,, u ingin dengan cepat meny ,, 0 ,, d0k v4g1n4 sang anak yang sedang memanjakan
p3n ,, 1 ,, snya di bawah sana.
Namun,
dengan kuat Papa mengenyahkan pikiran bejat itu, karena ia merasa ini belum waktunya.
Oleh
karena itu, ia meminta Ira untuk menggoyangkan pantatnya di atas p3n ,, 1 ,, snya
yang sudah menegang.
"Ahhh
Papahhh ahhh punya Papa nnghhh ny ,, 0 ,, d0k punyakuhhhhh" Ujar ku frontal
ketika tubuhku bergerak naik turun di atas p3n ,, 1 ,, s Papa yang menegang.
Aku
bisa dengan jelas merasakan betapa kerasnya senjata Papa yang sudah menegang di
bawah sana.
Walaupun
kami sama-sama masih terbalut celana, tapi tetap saja sensasi sodokan p3n ,, 1
,, s Papa tetap bisa aku rasakan.
"Ahhh
ahhh Pahhh oouhhh."
"Ouhhhh
enakkk ahh enakkk bangettthh Pahh. "
Aku
mend3$4 ,, h nikmat, lalu semakin cepat ku gerakan pinggul tuk menggesek p3n ,,
1 ,, s Papa yang menempel di v4g1n4 ku.