"Nghhhh.... masukinn Mahhhh" Ucap Papa serak ketika istrinya itu hanya menjilat jilat rudal besarnya saja.
"Ouhhh...
Papahh... punya Papa gedee bangettt eunggg... mulut Ira nggak muat"
Papa merem melek.
Mendadak telinganya mendengar suara seksi putri kandungnya.
Setelah puas
dengan menjilat eskrim berukuran jumbo milik Papa, Mama langsung saja
menggerakkan kepalanya maju mundur ketika rudal Papa
sudah masuk ke dalam mulutnya.
Menjilat dan
menyesap penuh semangat p3n1s Papa yang semakin membesar.
"Ahhh...
gilaaa... mulut kamu enak banget Maah ahh"
Papa memejamkan
mata.
Merasakan p3n1snya
dimanjakan dan dipuaskan dengan lidah dan mulut binal sang istri.
Istrinya itu luar
biasa sekali. Tidak mulut, tidak lubang v4g1n4nya.
Keduanya
sama-sama bisa membuat Papa mendesah penuh nikmat.
"Ahhhhh Mahh uhh fasterhhhh.... arghh"
Khoookkkk...
uhukkk...
Mama tersedak,
saat Papa tiba-tiba menekan kepalanya semakin dalam.
Membuat p3n1s
besar Papa semakin masuk ke dalam tenggorokan.
"Ahhhhh..."
Mama mengambil nafas sejenak, lalu memasukan kembali p3n1s Papa ke dalam
mulutnya.
Sluruppp...
slurpppp eunghhhh
Masih dengan p3n1s
Papa di mulutnya, Mama mengangkat wajah, lalu menyeringai ketika melihat wajah
suaminya yang merem melek menikmati hisapannya.
"Eunghhh
sayanghhhh... ahhh terusss hhh Irahhhh"
Papa mendesah.
Mendesahkan nama Ira dikala Mama bermain dengan p3n1snya.
Rasanya nikmat
dan juga menggairahkan.
"Ughh... Irah
ahhh Iraa sayangghh eunnng anak Papaaa"
"Uhhhh...
jilathh jilathhh ahh k0nt0lll Papaaa pake lidah kamuuu" Papa semakin
meracau.
Semakin bejat
membayangkan jika sang anak benar-benar sedang menyepong p3n1snya.
Cup. Cup.
Slurppp.....
Mama semakin
rakus memainkan lidahnya di p3n1s Papaa.
Mendengar
suaminya menyebutkan nama anaknya suksess membuatnyaa semakin gerah dan t3r4ngs4ng.
Di sela sesapan
bibirnyaa, Mama menyeringai penuh nafsu.
Lalu semakin
cepat mengoral p3n1s Papa yang ada didalam mulutnya.
"Oughhhhh...."
Papa menggeram ketika lidah Mama sedang bermain-main di kepala p3n1snya.
Lalu tangannya
menggoda dua bola yang menggantung di p3n1snya.
"Ahhhh
sayanghhh... Iraa ahhhh mulut kamu enak banget. nghhh."
Nafsu sudah
memenuhi kepala, setelahnya Papa turut menggerakan kepala sang istri maju
mundur ketika merasakan p3n1snya semakin tegang.
Khokk...
khokkk... uhukkk...
Mama tersedak,
melepaskan kulumannya lalu kembali memasukan p3n1s Papa ke dalam mulutnya.
Menyesapnya
seakan itu adalah benda paling enak di dunia.
Slruppuppp...
nghhh...
Mama semakin
rakus mengemut dan menyesap p3n1s Papa ketika ia merasakan
benda di mulutnya itu berkedut dan semakin membesar.
Hhhh nghhhh
"Erghhh....
cepetin sayanghhh..." Papa menggeram, lalu tak lama...
Cr0t.
Cr0t.
Cr0t.
"Arggghhhh....
Iraaaa ahhhh..."
Papa keluar.
Menyemburkan sp3rm4nya di wajah Mama yang binal.
Hhh... Papa merem
melek, melirik wajah sang istri yang terlihat semakin binal.
Dengan muka penuh
sp3rm4, istrinya itu menjulurkan lidah dan menjilat cairannya yang menetes di
bibir seksinya itu.
"Binal. Mama
binal banget."
Mama menyeringai.
Lalu terkekeh
melihat wajah suaminya yang sedang menatap sayu ke arahnya.
"Lohh... kok
jadi Mama yang binal... emangnya Mama ngapain
Pa..." Ucap Mama dengan alis yang dinaik
turunkun.
Tersenyum
menggoda pada sang suami yang wajahnya memerah.
"Arghhh....
kamuu tuhh gila tapi bikin aku gemes bangett si sayanghhh"
Papa menciumi
seluruh wajah Mama.
Lalu membopong
sang istri dengan bridal style menuju kamar mandi.
"Habiss
kamuu Ma... Papa bakal sodok m3m3k binal Mama di kamar mandi."
"Ahhh...
Papahhhh... Iraa mauu di sodokk pake k0nt0l Papa dong ahhhh. " Balas Mama
dengan menggigit bibirnya. Sengaja menggoda suaminya itu dengan menyebutkan
dirinya sebagai anak gadisnya.
"Erghhh...
sayanghhhh"
"HAHAHAHAHA
Papaa lucu banget kalo lagi t3r4ngs4ng sama anaknya."
….
"Sayang....
Ra... Iraaa dengerin aku duluuu"
Aku terus
melangkah meninggalkan gerbang sekolah.
Menghiraukan
seruan dari pacar ku yang mendadak menunggunya di pintu gerbang.
"Ra... Iraaaa
sayangg..."
Aku berdecak,
menghempaskan tangan Kevin yang sedang memegang pergelangan tangan ku.
"Ngapain
kamu disini? Baru inget punya pacar?" Lirik ku sinis pada Kevin.
"Kemana kamu
tiga minggu ini hm? Ngilang nggak ada kabar? kamu beneran
cuma jadiin aku mainan ya, Vin?" Lontar ku saat melihat Kevin
yang hanya menatap sayu mata ku.
"I am so
soryyy babe, ak-aku sengaja nggak ngehubungin kamu belakangan ini.
Aku takut sama respon kamu setelah obrolan kira yang terakhir."
Kevin berucap
lirih, lalu memegang kedua pergelangan ku.
"Kita masuk
mobil yaah sayang, habis itu kita ngobrol berdua."
Aku mendengus, menghentakkan tangan Kevin lalu
tanpa kata berjalan menuju mobil hitam yang terparkir di depan sekolah.
Setelah 20 menit
berkendara dengan hening, mobil Kevin sampai di halaman rumah ku.
Aku sengaja
membawa Kevin pulang karena merasa obrolan kita nanti akan sama beratnya
seperti yang terakhir kali.
Mumpung di rumah
tidak ada orang karena Mama Papa yang katanya lagi ngedate lagi.
"Ayo cepet ngomong, kemana aja kamu
akhir-akhir ini hm? Aku telpon sama WA kenapa semuanya nggak nyambung? Kamu
beneran selingkuh ya?" Tanya ku beruntun pada Kevin setelah bokongku
menyentuh sofa ruang tamu.
"No, aku
beneran nggak cheating. Nggak main belakang atau apalah itu yang ada
di pikiran kamu. Aku cuma take a break aja sebentar." Ucap Kevin
dengan pandangan sayu.
Aku bisa melihat Kevin
sedang gelisah karena pancaran matanya tidak sejernih biasanya.
"Ak-aku...
aku..."
Kevin menelan
ludah kasar, mendadak gugup jika kembali membahas topik tabu ini.
"A-aku cuma
takut sama respon kamu setelah apa yang aku sampein tentang fantasi ku kemarin.
Aku nggak mau kamu ngejauh dan putusin aku"
"Kalo kamu
nggak mau aku putusin, terus kamu kenapa ngilang, Vin? Aku malah jadi mikir yang
enggak-enggak tentang kamu" Aku berdecak, pacar ku ini kenapa jadi
mendadak bodoh sekali.
Apa karena
fantasi cabul tentang ku dan Papa membuat otaknya mendadak konslet?
"Kamu nggak
mikir emang hm? Bisa aja selama kamu ngilang aku nyari cowok baru, terus aku
selingkuh di belakang kamu. Kepikiran nggak kamu aku kaya gitu?"
"No, aku tahu
kamu kaya gimana Ra. Kita udah pacaran lima tahun, jadi aku tau persis sifat
dan karakter kamu kaya gimana. Kamu bukan cewek tukang selingkuh." Kevin
berucap tegas walau sebenernya sedikit tertohok.
Ira mendecih lalu
mengangkat bahu acuh, "Siapa tahu kan aku tiba-tiba ketemu cowok lain.
Ketemu cowok yang mau aku ajak ciuman."
Kevin terpaku.
Hatinya mendadak gelisah ketika mendengar ucapan Ira.
"Nggak mikir
kan kamu sampe situ? Huhhh" Aku mengembuskan nafas kasar, lalu
menyenderkan tubuh ku di sandaran sofa.
"Kaya kamu
bilang tadi, kita udah pacaran lima tahun, Vin. Kamu juga harusnya paham, aku
tipe cewek yang nggak suka masalah berlarut-larut."
"Kamu kan
tahu, aku lebih suka masalah selesai sehari walaupun pake otot sama urat,
daripada harus berlarut-larut. Apalagi sampai tiga minggu kaya gini."
Tambah ku meluapkan emosi pada Kevin yang wajahnya semakin keruh.
Kevin diam. Tidak
bisa membalas Ira karena ini memang salahnya.
Goblok si lo Vin.
Udah tahu cewek lo tuh bukan yang tipe ribet. Kevin mengumpat dalam hati.
Ide menghilang
dan take a break ini benar-benar merupakan pilihan yang spontan ia buat.
Tadinya, Kevin
berpikir kalau Ira butuh banyak waktu untuk mencerna dan memikirkan
tentang fantasi gilanya itu.
Tapi melihat
respon pacarnya itu sekarang, sepertinya keputusannya untuk menjauh dari Ira
adalah keputusan paling bodoh yang ia ambil.
"Sorry babe.
Aku bener-bener minta maaf udah ngilang nggak ada kabar, aku janji ini terakhir
kali nya aku begini"
Aku berdecih,
"Basi kamu, Vin."
Kevin sontak
mendekat, menggamit kedua tangan ku lalu ia ciumi punggung tangan ku berkali
kali.
"Sorryy.... please maafin aku ya sayang"
"Dah ah
males aku, kamu pulang sana." Ucap ku sambil mengehentakan tangan Kevin
dan berlalu menuju dapur.
"Kamu mauu
apaa sayang? Akuu bakal turutin semua permintaan kamu, tapii kamuu maafin aku
yaaa"
Ira sontak
menghentikan kakinya, lalu menatap penuh minat pada pacarnya yang sedang
menampakkan raut sungguh-sungguh.
"Kamu
beneran mau nurutin semua permintaan aku? Sekalipun aku minta rumah hm?"
Kevin dengan
cepat menggangguk, "Aku punya tabungan. Uang nya bisa buat kita bikin
rumah nanti."
Aku berdeham,
menolak salting akibat ucapan Kevin yang membuat ku salah fokus.
Lalu, ku tatap
lamat-lamat wajah pacar ku yang terlihat lebih lesu dan kuyu ini.
Tidak seperti
biasanya yang selalu cerah sampai membuat matahari pun iri.
Kevin punya kulit
yang putih, rahang tajam, hidup mancung dengan bola mata berwarna abu-abu.
Sangat tampan
seperti artis luar negeri.
Pacar ku ini memang
mempunyai darah blasteran.
Sehingga
perawakannya tidak seperti orang indonesia asli.
"Ciuman. Aku
mau ciuman sama kamu." Aku berucap penuh
kesungguhan. Menatap mata Kevin yang terlihat sedih.
"Yangggg
please" Kevin menatap pacarnya dengan sayu.
Memohon pada Ira
untuk meminta hal-hal yang dirasa ia sanggup untuk berikan.
"Cihh
katanya mau ngasih semua yang aku mau." Ucap ku sambil memutar badan,
kembali melangkahkan kaki menuju dapur.
"Yangggg
jangan gitu dongg sama akuuu" Kevin mengusap wajahnya frustasi.
"Aku
bukannya nggak mau cium kamu Iraaa"
"Iya-iya aku
tahu. Kamu mau cium aku kalau aku udah ciuman sama Papa. Gitu kan?" Potong
ku.
Kevin membasahi
bibirnya yang mendadak kering, lalu menganggukan kepala dengan ragu.
"Kalo aku
bilang aku udah ciuman sama Papa, kamu percaya?" Tanya ku tiba-tiba.
Bisa ku lihat Kevin
mengelengkan kepala dengan ragu.
Namun matanya
terlihat jelas binar antisipasi.
"Percaya
atau enggak, aku beneran udah ciuman sama Papa, Vin."
"Enggg
cium-ciuman di bibir?" Tanya Kevin ragu yang langsung ku balas dengan
anggukan kepala.
"Kapan?"
Kevin bertanya dengan suara yang mendadak serak.
Pikirannya mulai
kacau karena ungkapan sang pacar.
Aku bergidik.
Sedikit merinding mendengar perubahan suara pacarnya itu.
"Kemarin. Terus kemarinnya lagi. Terus kemarinnya
lagi." Aku tersenyum.
Menggigit bibir
seksi ku dan menatap Kevin dengan pandangan menggoda.
"Kamu serius
sayang?" Tanya Kevin lagi.
Sekarang semakin
terlihat jelas gairah liar di mata pacarnya itu.
Ira senang,
sangat senang malah.
Karena ini
pertama kalinya Kevin menatap penuh nafsu pada dirinya sekalipun dulu ia sering
berpakaian seksi dan menggoda Kevin.
"Aku serius.
Terserah kamu mau percaya atau nggak."
Bertepatan dengan
ucapan ku, aku mendengar suara Mama dan Papa yang meneriakkan namaku.
Lalu seketika aku
menyeringai ketika sebuah rencana terlintas di benak ku.
"Kamu mau
bukti?"
Kevin mengangkat
kedua alisnya bingung. "Kamu punya foto pas kamu lagi ciuman sama
Papa?"
Aku menyeriang
penuh makna.
Sepertinya Kevin
tidak mendengar bahwa orang tuanya sudah pulang.
Hehehe Kevin
sayang. Selamat menikmati kejutan dari pacar nakalmu ini.
Aku terkekeh
dalam hati, lalu tanpa menjawab pertanyaan pacarnya itu, aku dengan segera
melangkahkan kaki ku keluar dari dapur.
Menghampiri Mama
dan Papa yang sudah pulang dari acara ngedate nya.
'"Mamaa...
Papa...."Aku m3m3kik senang, lalu mencium kedua pipi Mama yang sudah duduk
di atas sofa.
"Papa nggak
kamu cium?
Bertepatan dengan
permintaan sang Papa, ujung mata ku menangkap sosok Kevin yang sudah berdiri di
belakang sofa yang Papa dan Mama duduki.
Aku menyeringai.
Lalu, ku tundukan badan dan mendekatkan wajah ku pada wajah tampan Papa.
Dan, cup.
Aku langsung
mencium bibir Papa.
Mengabaikan Mama
yang memandang penuh minat pada sang anak.
Awaknya aku hanya
diam.
Namun, saat ku
lirik Kevin yang sedang menatap ku dengan pandangan berikilat, aku dengan
berani mulai menyesap dan mengulum bibir atas dan bawah Papa bergantian.
Menghiraukan
pandangan bertanya Papa yang terkejut mendapat serangan dadakan.
"Nghhh..."
Aku melenguh ketika tak lama Papa mengambil alih keadaan dengan cepat dan
panas.
Tapi, sebelum aku
terbuai dengan ciuman panas Papa yang ku yakini akan merembet kemana-mana
dan aku dengan segera menarik diri.
Lalu setelahnya
menyeringai dengan pandangan mennggoda pada Kevin yang wajahnya sudah memerah
menahan gairah.
Fuck.
Gila.
Kevin mengumpat dalam hati.
Menelan ludah kasar
saat melihat langsung bagaimana pacarnya itu menggerakan bibir di atas bibir
sang Papa kandung.
Hal yang membuat Kevin
menjadi gila lagi adalah ia bisa dengan jelas melihat bagaimana bibir Om
Kenzo yang membalas penuh nafsu lumatan sang putri kandung.
Anjing. Rasanya
lebih mantep pas ngeliat langsung. Ucap Kevin dalam hati.
Ughh... Kevin
menjilat bibirnya.
Menatap penuh
gairah pada sang pacar yang kini sedang menjilat telinga sang Papa.
Fuck.
Kevin mengepalkan
kedua tangannya keras.
Bisa ia
rasakan senjatanya di bawah sana lama-kelaman mulai
mengeras.
"Eh lohh Kevinn?
sejak kapan kamu disana sayang?"
Kevin mengerjap,
sedikit berjengit ketika mendengar namanya di panggil.
Lalu ia mendadak
gugup ketika tiga pasang mata sedang menatapnya dari balik sofa sana.
"Eh iyaaa
Maa... aku baru dateng kok. Hehe" Kevin menggaruk lehernya gugup.
Tidak mungkin kan
ia jawab jujur dan bilang kalau ia melihat semua yang dilakukan Ira?
Mama
mengganggukan kepala, lalu sedikit terkekeh karena tahu kalau pacar
anaknya itu berbohong.
"Sini duduk
sayang" Ajak Mama pada Kevin yang langsung
diangguki.
Menghampiri calon
kedua mertua, Kevin dengan segera menyalimi Mama Sari dan Papa Kenzo.
"Mama sama
Papa gimana kabarnya? Sehat kan? Maaf ya, Kevin akhir-akhir ini jarang mampir
kerumah." Ucap Kevin pada kedua calon mertuanya.
Mendadak sedikit canggung karena melihat adegan
tabu tadi.
Kevin lalu
memberanikan diri melirik Papa Kenzo yang sedang duduk diapit Ira dan Mama
Sari.
Ia sebenarnya
tidak menyangka bahwa calon Papa mertuanya itu bisa bertindak seperti tadi.
Mencium anak
kandungnya dengan penuh nafsu. Di Samping sang istri pula.
Karena selama
ini, Kevin selalu menganggap Papa mertuanya itu sebagai
sosok dingin dan penuh wibawa.
Tidak suka banyak
omong dan sedikit kaku.
Namun, melihat
bagaimana ganasnya Papa mertuanya itu mencium bibir sang anak, Kevin perlu
mengoreksi kembali penilaiannya tentang sang camer.
"Sehat."
Nah, kan. Baru
saja di bilang.
"Sehatt dong
sayanggg, adik bayi juga sehat nihh kakaa Kevin." Balas Mama sambil
mengelus perutnya yang membuncit.
"Oh ya,
kamu habis ini nggak ada acara lagi kan,
Dam? Makan malam disini aja yuk kalau gitu." Ajak Mama.
Aku yang sedari
diam memperhatikan bagaimana luwesnya Kevin berbicara pada Mama pun sontak
menganggukan kepala.
"Iya kamu
makan sini aja, Vin. Inget, kamu belum nurutin permintaan aku loh
tadi" Ucap ku dengan sengaja tuk menggoda Kevin.
Aku sebenarnya
sedikit penasaran dengan apa yang dipikirkan pacarnya itu saat ini.
Apakah Kevin
sedang t3r4ngs4ng karena melihat ciuman ku dengan Papa tadi?
Apakah Kevin
sudah bergairah melihat Papa menciumku dengan penuh nafsu?
Apakah pacarnya
itu tegang di bawah sana?
Aku terkekeh saat
melihat wajah Kevin yang mendadak merah karena ucapan ku.
"Ira minta
apa sama kamu, Vin? Nggak usah dikasih loh yaa kalau anaknya minta
aneh-aneh." Pinta Mama pada calon mantunya itu.
Iya mantu, Mama
sangat suka anaknya itu berpacaran dengan Kevin.
Selain karena
Mama sudah tahu bebet, bibit, bobot Kevin dengan baik, Mama jauh lebih suka
lagi dengan fantasi liar dari pacar anaknya itu.
Mama sadar bahwa
apa yang keluarganya lakukan itu sebenarnya sedikit gila.
Sehingga tidak
akan ada banyak orang yang akan mengerti dan menerima akan hal itu.
Oleh karena itu,
ketika mengetahui bahwa sang anak telah mendapatkan pendamping yang satu
frekuensi dan memiliki minat serta gairah yang sama, Mama menjadi semakin
bersemangat.
Selain itu, putri
kandungnya itu juga terlihat sangat mencintai sosok laki-laki yang sekarang
sedang luwes mengobrol dengan suaminya yang kaku itu.
Karena alasan itu
pula, ada harapan tinggi yang Mama gantungan pada Kevin.
Semoga saja anak
dari salah satu temannya itu juga selalu bisa memberi kebahagian tuk sang
putri.