"Ahhh...
ahhh... ahhh... Papahh... ouhhhh fasterrhhh..."
"Hohh... hhhhh sempit banget kamu sayang."
Clok..
Clok..
Clok..
Aku merem melek
menikmati perlakukan c4b ,, ul Papa pada v4 ,, g1 ,, n4 ku.
Berbeda dengan yang
dulu di meja makan, kini sensasi dis0d ,, 0k di bawah air ternyata lebih
nikmat luar biasa.
Cup.
Cup.
"Ngh... seksi
bangethh anak Papa .. hhh" Papa mend3s4 ,, h, mencium ganas leher jenjang
sang anak.
Tak lupa ia
daratkan sebelah tangannya tuk merapakatkan tubuh setengah telanjang keduanya.
Sesekali juga Papa
r3m ,, 4s-r3m ,, 4s dua buah dada anaknya yang tercetak jelas di baju basah
yang anaknya itu pakai.
Mendapat r4n9
,, s4n9an diseluruh bagian sensitifnya, aku semakin tak tahan.
Sensasi geli namun
juga nikmat sukses membuat ku lupa diri.
"Ahh... ahh...
Pahhh... nghhh... ouhhh aku mauu keluarr nghhh nggak kuatt"
Merasakan v4 ,, g1
,, n4 sang anak yang semakin berkedut dan mengetat, Papa
mengeluarkan jarinya dari lubang surga Ira.
Namun dengan segera
memasukkannya kembali dengan posisi Ira yang berbeda.
Kini, Papa
memasukan jarinya lewat s3l4ng ,, k4ng ,, 4n Ira.
Sehingga membuat
kaki kanan anaknya terangkat dengan posisi mengangkang.
Ugh... aku pusing.
Posisi ku saat ini
benar-benar memudahkan Papa menggerakan jarinya semakin dalam.
"Nghhh... ahhh...
ahhh..."
"Ahhh
Papahhh... hhh. "
Papa menj1l ,, 4t telingaku,
semakin cepat memaju mundurkan kedua jarinya di dalam tubuh ku.
Lalu sesekali Papa
gesekan p3n ,, 1snya yang sudah menegang pada bokong sang anak di bawah sana.
Tak lupa juga Papa
gunakan jempolnya yang menganggur memainkan kl1 ,, t0r1s ku.
Membuat seluruh
tubuh ku merinding tak karuan.
"Ouhh... Papahhh
ahhh enakkhh ahh"
"Kamu sukaaa
sayanghh? Kamu sukaaa Papa giniiinn hhh?"
Aku mengangguk,
lalu dengan berani ku goyangkan pantat ku yang menempel di p3n ,, 1s Papa
yang tegang.
"Nghhh...
sayanghhh"
Tubuh Papa
meremang merasakan goyangan sang putri di tubuh bagian depannya.
Walaupun sedikit
kaku, tapi tetap saja membuatnya pusing kepalang.
"Ahh....
ahhh... ouhhh Papaahhh jugaa tegangg yaaa..."
"Kamuu hh bisa
ngerasain sendiri kann sayang? Iyaa ahh
Papa tegang lait anak Papa hh yang seksi
ini." Papa berbisik lirih lalu menj1l ,, 4t telingaku dengan sensual.
"Oughhh Papaa
ahh jangannn put ,, 1n ,, g ku jangan dicubit eungg hhh"
"Ahhh Papaaa
ouhhhh pelannhhh kakii kuu lemesss hhhh ouhhh"
Tak menghiraukan
permintaan sang anak yang memintanya untuk pelan.
Papa justru
menggerakan jarinya semakin cepat keluar masuk di lubang senggama sang anak.
Fuck.
Kaki ku lemas
seperti jelly.
Jika saja Papa
melepaskan rangkulannya di perut ku, sudah bisa ku pastika tubuh ku meluruh.
"Ahhh....
ahhh... ahhh Papaa ahh ak akuuu hhh mauu keluarrr ahhhh"
"Keluarin sayang... hhhh keluarin yang banyak"
"Nghhh... hhh"
"AHHHHH"
Cr0 ,, t. Cr0 ,, t.
Cr0 ,, t.
Aku keluar.
Cairan cinta ku
tumpah bercampur dengan beratus-ratus liter air yang ada di kolam renang.
Akibat sangat
bernafsu, aku sampai lupa sedang berada dimana.
Mendadak ingat jika
Mama mungkin saja memperhatikan kami, aku dengan cepat melepaskan pelukan Papa
pada pinggangku.
"Pahh... ada
Mama" Aku berusaha menjauhkan tangan Papa yang ingin kembali memeluk ku.
Namun karena aku
melihat Mama yang sedang memperhatikan kami, aku
sebisa mungkin menolak sentuhan Papa.
Walaupun kejadian
yang tadi itu juga sebenarnya tak termaafkan.
Semoga saja Mama
tidak memperhatikan.
Papa mengangkat
alisnya bingung, ketika melihat sang anak yang tak mau dipeluknya.
Padahal, baru
saja anaknya itu ia puaskan menggunakan kedua jarinya.
Penasaran dengan
arah pandangan sang anak, Papa kemudian memusatkan perhatiannya pada apa yang
anaknya itu tatap.
Ternyata sang istri.
Papa terkekeh.
Sedikit lucu
melihat wajah canggung dan bersalah anaknya yang sedang dipandangi istrinya
dari jauh.
Padahal Papa yakin.
Mama yang duduk
jauh disana tidak akan pernah marah melihat anaknya dan suaminya sendiri
berbuat cabul seperti tadi.
Ya.
Papa menaruh curiga
pada Mama.
Setelah tadi
ia tidak sengaja memutarkan kepala melihat kondisi
sang istri, ia justru di berikan pemandangan istrinya
yang sedang mengangkang lebar dengan jari yang keluar masuk v4 ,, g1 ,, n4nya
sendiri.
Papa memergoki Mama
sedang m4s ,, tur ,, b4s1.
Lebih gilanya lagi,
Papa yakin di balik kacamata hitamnya, pandangan istrinya itu tak lepas dari
kegiatan yang sedang Papa dan Ira lakukan.
Oleh karena itu,
ketika Papa melihat sang istri sedang berm4s ,, tur ,, b4s1, ia tetap tak
mengalihkan pandangannya.
Dengan tujuan untuk
melihat bagaimana reaksi istrinya melihat kedua orang tersayangnya itu sedang
berbuat tak senonoh.
Dan gotcha.
Bukannya raut marah.
Papa justru
mendapatkan seringaian serta d3s4 ,, han 3r ,, 0t ,, 1s yang keluar
dari mulut istrinya itu ketika ia dengan sengaja memepercepat laju s0d ,, 0kan
jari pada lubang surga anaknya.
Walaupun tidak
terdengar, tapi Papa yakin bahwa istrinya itu mend3s4 ,, hkan namanya dan
anaknya saat m4s ,, tur ,, b4s1 tadi.
Jadi, Papa tiba-tiba memiliki sebuah kesimpulan liar
yang tak pernah ia pikirkan.
Tentang Mama atau
istrinya sendiri itu memliki sebuah fantasi liar dan gila tentang dirinya dan
juga sang putri kandung, Ira.
Lalu, semuanya
semakin jelas ketika Papa kembali mengingat ngidam-ngidam aneh Mama yang
tak wajar.
Mulai dari menyuruh
anaknya melihat persetubuhan mereka, menyuruh anaknya untuk menj1l ,, 4t
cairan cinta hasil bejat mereka, lalu menyuruh anaknya itu untuk selalu
berpakaian seksi di rumah.
Sampai yang terbaru
meminta Ira untuk bisa mengeluarkan asi.
Kepala Papa
seketika pening.
Memikirkan istri
tercintanya memiliki pemikiran aneh seperti itu.
Tapi, yang lebih
membuatnya pusing bukan main adalah dirinya sendiri.
Bukannya menegur dan memarahi sang istri karena
pikiran liarnya itu, Papa justru berbuat hal yang sesuai dengan apa yang
istrinya itu bayangkan.
Bukannya Papa
mencoba menjaga jarak dengan sang anak, Papa justru semakin menarik Ira tuk
mendekat sampai tak bersekat.
….
Setelah berenang di
tengah cuaca yang terik juga disisipi kegiatan panas yang menggairahkan, aku
langsung terlelap di atas kasur.
Entah karena merasa
capek atau karena cuaca yang mendadak mendung dan hujan, aku tertidur hampir 6
jam lamanya.
Aku bahkan
melewatkan makan siang bersama Mama dan Papa.
Kini, jam sudah
menunjukan pukul 7 malam dan tubuh ku sudah terlihat lebih segar karena aku baru
saja mandi.
Setelah menggunakan
pakaian yang ku ambil asal di lemari, aku segera turun ke bawah menghampiri
Mama yang sedang memasak makan malam di dapur.
Walaupun sedang
hamil begitu, Mama masih tetap rajin untuk mengurusi aku dan Papa.
Meskipun terkadang
aku sering melihat Mama yang diomeli Papa karena melakukan pekerjaan yang
katanya berat.
"Sini Mama
biar aku ajaa yang goreng-goreng. Mama duduk ajaa biar nggak capek."
Aku berucap setelah
menapakan kaki ku di lantai dapur.
Mama yang
mendengarnya pun hanya mengangguk dan mendudukan diri di meja bar.
"Ini di goreng
semua Ma?" Tanya ku tanpa menolehkan kepala.
"Iya sayang, kamu
sama Papa mu itu kan suka banget ayam goreng. Dikasih 10 potong
sendiri juga habis kamu." Mama terkekeh pelan
mengingat anak dan suaminya itu sama-sama maniak ayam goreng.
Karena itu, Mama
setiap harinya selalu menyetok ayam beku di rumah.
Bahkan, Mama
memiliki freezer khusus sebagai tempat untuk stok ayam kesukaan Ira dan Papa.
Ira tersenyum unjuk
gigi, "Hehehe abisnya ayam itu enak Ma. Lagian orang yang nggak suka makan
ayam tuh aneh banget."
"Kecuali emang
yang vegetarian." Tambah ku sambil membalikkan ayam yang sudah matang.
"Okeyyy sudah
jadi deh" Aku berseru, lalu membawa piring berisi tumpukan ayam goreng itu
ke meja makan.
Tidak melihat suami
mamanya itu, aku sontsk bertanya, "Papa kemana Ma? Kok belum turun?"
Mama yang sedang menatap ponselnya pun sontak
mengangkat kepalanya menatap Ira, "Lagi Mama jadiin babu."
Aku terkekeh
mendengar ucapan lucu Mama, "Ada-ada aja sih Mama masa Papa dibilang
babu."
"Males ah Mama
ngomongin Papa mu itu loh dari sore Mama nyuruh buat beli
gudeg asli jogja sama beberapa cemilan ajaa sampe jam segini belum
pulang-pulang lohh sayang"
"Ohhh"
Aku manggut-manggut lalu menjulurkan tangan mengambil sepotong ayam goreng yang
langsung ku gigit.
"Emwang nya
Mwama minta cewemilan apwaa"
"Ditelen dulu
dong sayanggg nanti kamu kesedak aja."
Aku cengengesan,
"Okay sorry Mommy."
"Itu loh kamu
tau kan jajanan sd mu dulu? Kaya sejenis cilok atau cilor gituuu"
"Ohhh ituuu sekarang
mah kayanya susah Mama
nyari jajan kaya gitu. Kebanyak sekarang tuh
cafe-cafe anak muda sama minuman boba." Celetuk ku setelah menghabiskan
potongan ayam kedua ku.
Mama mend3s4 ,, h,
menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi, "Iya si bener kamu sayang, cuma
Mama mendadak pengen ajaa tadi karena nggak sengaja liat di TokTok."
Aku terkekeh,
"Mama ini loh kayanya setiap hari bukanya aplikasi itu terus"
Mama mendengus malas,
"Salahin aja itu Papa mu, udah tahu istrinya tuh suka
banyak gerak, eh tapi malah disuruh berhenti buat kerja."
Ya Mama memang
sebelum hamil adalah seorang bussines woman.
Mama memiliki toko
kue yang cabangnya sudah tersebar di seluruh penjuru Indonesia.
Karena itu lah dulu
saat Mama dan Papa masih sibuk bekerja, hubungan ku dan mereka tidak sehangat
seperti sekarang.
"Aku justru
setuju sama Papa, Mama emang lebih baik di rumah aja biar nggak
kecapean"
Mama mencebik malas
mendengar jawaban sang anak.
"Kamu ini ya
sayang, uhhh gemes Mama."
"Hehehe i love
you Mama." Aku memberikan kiss bye pada Mama yang duduk di
sebrangku.
"Oh
ya sayang. ngomongin soal kehamilan Mama, kamu inget
kan waktu itu kata dokter gimana?" Tanya Mama menatap mata anaknya serius.
Mumpung tidak ada
Papa, Mama mau mencoba peruntungan untuk membujuk Ira supaya mau melakukan
induksi laktasi.
Semoga saja tanpa
Mama perlu mengeluarkan jurus rayuan 100 bayangan, anaknya itu mau dengan
sukarela.
Ugh
Mama jadi tidak sabar melihat anak seksinya
itu menyusui.
"Iya kenapa
Mama?" Segera aku mengelap tangan ku yang berminyak ketika melihat
Mama yang menatap ku serius.
Mama membasahi
bibirnya sekilas, lalu menatap Ira penuh kesungguhan. "Menurut mu
itu gimana?"
Aku mengerutkan
kening, sedikit bingung dengan pertanyaan Mama.
Apanya yang gimana?
Mama berdecak,
"Itu loh menurut mu gimana kalau perempuan bisa mengeluarkan asi
dan menyusui walau belum ngelahirin sayang?"
Aku membulatkan bibir, "Hmmm
nggak gimana-gimana aku si Ma. Lagian juga kan nanti perempuan juga bakal
menyusui dan melahirkan Ma. Kecuali kalau memang mereka nggak mau punya
anak."
Mama
manggut-manggut, pikirannya berputar secepat kilat.
Sepertinya ini akan
lebih mudah dari pada yang dibayangkan Mama.
"Terus kalo
kamu Mama suruh buat induksi laktasi mau nggak sayang?" Ucap Mama sambil
menampilkan puppy eyes yang selalu sulit untuk anaknya tolak.
Aku membulatkan
mata, "Hahhhh?"
"Iya sayang.
Kamu mau yaa bantu Mama buat nyusuin adik mu nanti. Kamu kan tahu sendiri Mama
udah nggak muda dan kemarin dokter juga bilang gitu. "
Aku ngeblank, otak
ku seketika kosong memikiran ucapan Mama.
Aku? Induksi laktasi? Menyusui adik
ku sendiri?
Kacau.
Aku semakin bingung
dengan jalan pikiran Mama.
"Kenapa Mama
minta aku?" Tanya ku setelah jeda keheningan cukup lama.
"Kan kamu anak
Mama sayang. Mama nggak mau adik kamu nanti semisal di susuin sama orang yang
nggak kita kenal. Walaupun misal rekomendasi dari orang
terpercaya, tapi tetep aja Mama nggak sudi."
Aku membasahi bibir
ku yang cukup kering.
Mendengar penjelasan Mama, aku juga setuju akan
hal itu.
Aku juga nggak mau
nantinya ada orang baru nggak dikenal yang bakal selalu ada di rumah
ini. Sebagai ibu susu lagi.
No. No. No.
"Emmm M-mama
udah bilang Papa?" Tanya ku sedikit gugup.
Karena percuma saja
kalau aku setuju tapi Papa tidak setuju.
Karena sekalinya Papa
bilang tidak pasti hasilnya akan tetap tidak.
Walaupun terkadang Mama masih
berhasil membujuknya dengan segala cara.
Mendengar
pertanyaan anaknya, Mama lamgsung mengangguk antusias.
"Kamu tenang
aja, Papa udah setuju kok sama ini. Jadi kamu mau yaaa induksi laktasi nanti?
Please. "
Mama berucap sambil
memegang telapak tangan ku erat.
Ditambah raut
memelas yang Mama tampilkan, sukses membuat ku tak bisa menolah perintah ibunda
ratu.
"Oke deh Ma. Ira
mau. Tapi bener loh ya Papa udah setuju."
Mama tersenyum
bahagia.
Matanya berbinar
cemerlang mendengar jawaban sang anak.
"Tenang aja.
Papa udah setuju kok. Kalau gitu, nanti Mama jadwalin yah tanggal buat terapi
dan konsultsainya." Ujar Mama cepat lalu langsung sibuk mengetikkan
seusatu di layar ponsel.
Tak lama kemudian,
Mama sudah sibuk bercengkrama dengan entah siapa itu.
Tapi sepertinya
dokter kandungan yang selalu mengecek kehamilan Mama.
Bertepatan dengan Mama yang asik menelpon, aku
mendengar suara mobil di teras. Sepertinya Papa sudah pulang.
Mama yang juga
mendengar suara mobil sang suami pun sontak mengibaskan tangan, mengode ku
untuk menyambut dan membukakan pintu.
Aku mengangguk lalu
beranjak dari duduk ku untuk menuju pintu rumah.
"Mama mana sayang?"
Tanya Papa setelah masuk rumah dan melihat anaknya lah yang membuka pintu.
Cup.
Cup.
Tanpa menunggu
jawaban dari ku, Papa dengan gerakan tiba-tiba mengecup kedua pipi ku lalu
mencium bibir ku rakus.
Aku yang tidak siap
pun hampir terjengkang ke belakang karena kehilangan keseimbangan.
Untung
saja ada tangan kekar Papa yang menahan tubuh ku.
"Ahhh... hmmmmppt."
Slurp.
Slurp.
Papa menyesap bibir
ku kencang sambil mer3m ,, 4s bokong ku sebelum melepaskan tautan bibir kami.
"Nghh...
Papahh kasih aba-aba duluu dong... hhhh"
"Aku kaget
tau."
Aku berucap dengan
nafas terengah-terengah, walau ciuman tadi hanya sebentar, namun sensasi nikmat
dan panasnya itu tetap sama seperti ciuman kami
tadi siang.
Papa terkekeh
melihat wajah anak gadisnya itu memerah dengan nafas tersenggal.
Cup. Plak.
"Awwws...
Papahhh" Aku berjengit ketika Papa mencium p4 ,, yud4 ,, r4
ku yang sedikit menyembul dari tangtop yang ku kenakan.
Belum lagi tangan
nakal Papa yang juga bersamaan menampar bokong sekal ku.
Walaupun memang
tamparan Papa tidak terasa karena aku yang
memakai joger panjang, tapi tetap saja aku kaget.
Cup. Cup
"Nghhhh"
"Papa gemes banget
sama kamu sayang" Ucap Papa setelah kembali mencium bibirku sekilas.
Aku berdecak,
memutar mata malas melihat Papa yang menatap ku dengan pandangan mesum.
"Papa
mesum!"
Papa terkekeh, lalu
mencolek dagu ku genit, "Tapi kamu suka kan sayang"
Malas mendengar
Papa yang mendadak alay, aku sontak membalikan tubuh dan melangkah kembali
menuju tempat dimana Mama berada.