A A

 Hari ini aku libur sekolah karena tanggal merah.

Membuat ku saat jam 10 pagi masih berleha-leha di atas kasur.

Setelah sarapan tadi pagi, aku izin kembali ke kamar dengan alasan ngantuk.

Namun, setelah tubuhku merebah di atas kasur, aku justru asik scroll sosial media.

Tok... tok... tok

Aku menolehkan kepala ku ketika mendengar ketukan pintu.

"Kenapa Papa?" Tanya ku melihat sang Papa yang berdiri di ambang pintu.

"Kamu dipanggil Mama disuruh ke bawah." Ucap Papa memperhatikan anak gadisnya.

"Gendongggggg" Ucapku manja pada Papa.

Papa berdecak, "Kamu ini loh udah mau punya adik tapi manjanya nggak ilang-ilang."

Walau begitu, Papa tetap menghampiri ku dan memposisikan tubuhnya di hadapanku yang masih telentang di kasur.

Aku menjulurkan kedua tangan ku, mengode Papa untuk segera menggendong ku.

"Manja banget si kamu sayang"

Aku terkekeh pelan lalu sedikit tersentak karena Papa menggendong ku di depan seperti koala.

"Kok Papa gendong depan?"

"Emangnya kenapa? Kalau kamu nggak mau Papa turunin lagi nih" Ancam Papa sambil pura-pura menurunkan tubuh ku.

Namun, entah karena apa tiba-tiba Papa kehilangan keseimbangan sehingga membuat kami berdua terjatuh di atas kasur dengan posisi sangat intim.

Bagaimana tidak, posisi aku dan Papa sedang saling tindih dengan aku di bawah dan Papa di atas.

"Awhhh... sakit Papa..." Aku merengut pelan karena dahi ku dan Papa saling bertabrakan. Sedikit membuat kepala ku nyeri.

"Hmm sorry baby" Ucap Papa serak sambil mengelus lembut dahi ku yang sedikit memerah.

Cup.

Aku berjengit karena tiba-tiba dahi ku di cium oleh Papa.

Lalu kami bertatapan dengan penuh damba.

Entah siapa yang mulai, kini tau-tau bibir kami sudah saling bertautan.

Awalnya Papa hanya diam.

Namun, tak berselang lama, Papa mulai menggerakan bibirnya.

Mengh1s4 ,, p bibir bawah dan atas ku bergantian.

"Mhhhh..." Aku melenguh tertahan saat Papa menyecap bibirku.

Ini pengalaman pertamaku berc1u ,, m4n, jadi aku hanya diam saja karena tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Walau aku dan Papa sudah pernah berc1u ,, m4n bibir, tapi itu hanya kecupan sekilas saja.

Tidak seperti kali ini, dimana Papa yang sudah mulai menyesap dan melum ,, 4t bibirku penuh n4f ,, su.

Papa terus saja melum ,, 4t bibir ku.

Menarik bibir atas dan bawah ku bergantian.

"Mhhhh.... Pahhh..." Aku mend3s4 ,, h lirih saat tangan Papa menahan tengkukku lalu memiringkan kepala dan dengan rakus menyesap bibirku habis.

Seakan bibir ku ini adalah candu yang tak bisa di lepaskan.

"Ikutin gerakan Papa sayanghh..." Ucap Papa di sela-sela sesapan bibirnya pada bibir ku.

Dengan ragu, aku mengikuti ucapan Papa. Menggerakan bibir persis seperti apa yang Papa lakukan.

Papa yang merasakan gerakan kaku sang anak menyeringai penuh n4f ,, su lalu semakin memperdalam c1u ,, m4nnya pada sang putri.

Slurrp... slurpp...

Suara decapan dan h1s4 ,, pan Papa pada bibirku terdengar memenuhi kamar.

Lalu aku melirik pintu kamar yang untungnya tertutup rapat.

Semoga saja Mama tidak menyusul Papa ke sini dan melihat perbuatan bejat anak dan suami dibelakangnya.

C1u ,, m4n ini adalah yang pertama bagi ku dan Papa setelah kegiatan panas di meja makan beberapa waktu lalu.

"Ahhhh... nghh..."

"Pahhh... "

Hhhh...

Aku mend3s4 ,, h lirih ketika tangan Papa dengan nakal naik merambat dari paha, lalu ke perut t3l4n ,, j4ng ku yang tidak tertutup crop top pendek yang kukenakan.

Lalu semakin naik menuju p4 ,, yud4 ,, r4 ku.

Setelah hanya mengusap-usap bagian dada ku, Papa kemudian mer3m ,, 4snya pelan.

Nghhh... Aku kembali terangsang, sensasi berc1u ,, m4n sambil p4 ,, yud4 ,, r4 ku dir3m ,, 4s tidak kalah nikmat seperti gesekan kelamin yang dulu pernah ku lakukan dengan Papa.

"Hmmmmpppt...mmhh..."

Merasakan nafasku habis, aku dengan segera menepuk punggung Papa sebagai kode supaya ia melepas tautan bibir kami.

Papa yang tersadar anaknya kehabisan nafas pun sontak menghentikan aksinya.

Nafasku terengah-engah, seperti habis lari maraton berkilo-kilo meter.

Aku tidak menyangka bibir sexy Papa yang pernah ku lihat mencium dan menc4b ,, ul1 seluruh tubuh Mama, kini baru saja menyesap dan melum ,, 4t bibirku tanpa ampun.

Masih dengan mulut ku yang sedikit terbuka, aku menatap Papa yang kini juga menatapku.

Aku tak tahu apa yang ada di dalam pikirannya, tapi satu hal yang ku yakini kalau papa kandung ku itu juga sama berg4 ,, 1r4 ,, hnya dengan aku.

Cup. Cup. Cup.

Papa mengecup kedua pipi ku, lalu diakhiri dengan kecupan di bibir sedikit lama.

Setelahnya Papa berdiri sambil menarik tubuh ku bangkit dari atas.

"Ayo sayang kita ke bawah. Mama udah nungguin." Ucap Papa sambil kembali menggendong ku ala koala.

Aku yang mendadak lemas karena c1u ,, m4n tadi pun hanya bisa terdiam pasrah dengan kepala terkulai di pundak lebar Papa.

Saat di tengah tangga, Papa tiba-tiba melontarkan sebuah pernyataan yang membuat ku sangat terkejut.

"Put ,, 1n ,, g kamu kayanya tegang sayang" Ucap Papa yang sukses membuat ku mengangkatkan kepala dari pundaknya.

Aku melirik croptop putih yang sedang ku kenakan dan benar saja Put ,, 1n ,, gku tercetak jelas disana.

Aku memerah malu lalu menelusupkan kembali wajahku di leher Papa.

Papa yang melihat wajah anaknya memerah pun sontak terkekeh pelan.

Lalu tanpa aba-aba Papa menundukan sedikit kepalanya. Dan

Cup. Cup. Plak.

Papa mencium kedua Put ,, 1n ,, g tegak ku lalu menampar dan mer3m ,, 4s bokongku yang tertutup dengan rok pendek.

Nghhh...

Aku mend3s4 ,, h lirih di telinga Papa. "Papa nakal... hhh..."

"Kaya kamu nggak nakal sama Papa aja sayang..."

Aku sontak memukul pundak Papa pelan, lalu kucium dan ku j1l ,, 4t lehernya sebagai pembalasan.

….

"Pantes ya kalian lama. Manja-manjaan dulu ternyata."

Mama terkekeh dengan tatapan menajam melihat Papa yang menggendong anak gadisnya seperti koala.

Melihat kedua tubuh orang tersayangnya itu menempel erat, Mama menyeringai dalam diam.

Lalu... dug... dug...

Shhhh... Mama merasakan tendangan di perutnya yang semakin membuncit.

Hehehe... kamu juga kayaknya seneng ya dek ngeliat papa sama kakak mu itu.

Mama tersenyum sambil mengelus perutnya yang t3l4n ,, j4ng.

Kini Mama sedang duduk di kursi pantai di pinggir kolam renang dengan bikini putih yang menutupi p4 ,, yud4 ,, r4 dan v4 ,, g1 ,, n4nya saja.

"Biasa Ma anak mu ini manjanya lagi kumat." Ucap Papa dengan kekehan kecil, lalu mendudukan dirinya di kursi pantai sebelah Mama.

Mama terkekeh pelan, lalu kembali mengingat pembicaraan sang anak dan salah satu sahabatnya itu kemarin sore.

Benar-benar jackpot.

Mama yang awalnya ingin menanyakan menu makan malam apa yang diinginkan oleh anak gadisnya itu, justru mendapatkan sebuah fakta yang mengejutkan. 

Fakta tentang pacar anaknya yang memiliki fantasi gila seperti dirinya.

Jika Mama sudah tahu dari awal, pasti fantasi berg4 ,, 1r4 ,, h Mama tentang Papa dan Ira sudah terealisasi sejak lama.

Namun, tak apa.

Cepat atau lambat, sepasang anak dan suami itu akan Mama buat takluk di depan masing-masing. 

Di lain sisi, aku yang masih duduk dan memeluk tubuh Papa sontak menolehkan kepala ke belakang melihat Mama yang tengah bersandar.

"Kenapa Mama? Kata Papa tadi, Mama manggil aku?"

"Kamu ngadep ke Mama dong sayang, masa kamu ngebelakangin Mama gini."

"Hehehe sorry Mama." Ucap ku lalu bangkit dari pelukan Papa.

Namun, ketika aku mau mendudukan diri di samping Mama, tangan Papa menarik pinggang ku sehingga membuat ku terjatuh kembali di pangkuannya.

Bedanya kali ini aku menghadap Mama yang sedang bersandar di kursi pantai.

Aku sedikit terpana melihat penampilan Mama saat ini.

Perut Mama yang sudah membesar lalu di padu dengan bikini two piece pink terlihat sangat seksi di mata ku.

Belum lagi kacamata hitam yang bertengger manis di hidung mancung Mama.

Dari balik kacamata hitam yang dipakai, Mama melirik penuh minat interaksi Papa dan anak gadisnya.

Melihat bagaimana tadi Papa menarik tangan Ira untuk duduk di pangkuannya, lalu anaknya itu yang kini tengah menyandarkan tubuhnya di dada bidang Papa.

Mama merasakan Put ,, 1n ,, gnya sendiri menegang kala melihat posisi anak dan suaminya itu terlihat sangat 3r ,, 0 ,, t1s di matanya.

Crop Top putih tanpa bra dipadu dengan rok mini yang anaknya itu kenakan sukses membuat penampilan anaknya itu terlihat mengg4 ,, 1r4 ,, hkan.

Belum lagi Put ,, 1n ,, g sang anak yang menonjol malu-malu.

Selain itu, tangan kekar Papa yang juga bertumpu di perut t3l4n ,, j4ng sang anak dan sesekali mengusapnya pelan.

Mama tersenyum senang.

Sepertinya fantasi gilanya sudah menular sedikit demi sedikit pada Papa dan Ira

Karena kalau dulu, boro-boro anak dan suaminya itu berpangku 3r ,, 0 ,, t1s seperti ini di depannya.

Untuk sekedar mencium pipi sebagai ucapan selamat malam saja mereka tidak pernah.

Mama mengusap perutnya dengan penuh sayang.

Merasa senang dan sedikit terharu akan fantasi gilanya yang semakin terealisasi.

"Mama tiba-tiba ngidam deh" Celetuk Mama membuat ku membuka mata di pelukan Papa.

"Mama mau apa?" Tanya ku masih dengan posisi bersandar di tubuh Papa.

Lalu tanpa canggung aku membuka lebar paha ku ketika tangan Papa bergerilya di sana.

Sepertinya urat malu ku sudah putus.

Karena berani bertindak tak senonoh di hadapan Mama.

Aku sendiri sebenarnya sadar kalau kini posisi ku mungkin terlihat sangat 3r ,, 0 ,, t1s di mata Mama.

Namun, melihat Mama yang diam saja tanpa mengeluarkan protes, aku jadi abai saja.

"Kamu berenang gih sana sayang sama Papa juga."

Aku menaikan alis ku, lalu beranjak dari posisi bersandar ku.

"Kok tiba-tiba pengen aku berenang?"

"Iya ini. Ngeliat matahari cerah begini, terus liat kolam renang di depan, Mama jadi kepengen liat kamu berenang."

"Sebenernya ini karena Mama yang nggak boleh berenang sama Papa mu itu sayang, jadi kamu aja ya yang gantiin Mama renang."

Aku menolehkan kepala ketika mendengar Papa mendengus.

"Lagian kamu aneh-aneh aja sayang. Nggak lihat itu perut mu udah gede gitu. Aku nggak mau ah biarin kamu ngelakuin hal-hal aneh."

Mama berdecak, lalu melirik sinis Papa setelah melepas kacamata hitamnya, "Aneh gimana si Papa. Orang cuma berenang doang."

"Iya Papa tahu. Cuma Mama tahu kan kalau kolam renang kita itu tinggi. Jadi, Papa nggak mau ambil resiko buat kamu."

"Ya ya ya terserah Papa deh"

Aku yang mendengar perdebatan kedua orang tua ku pun sontak terkekeh.

Lucu sekali mereka.

"Yaudah kalo gitu Ma. Biar aku yang berenang, Mama duduk disini aja ya sama adik kicik." Ucap ku sambil bangkit dari pangkuan Papa lalu mencium perut membuncit Mama.

"Timakaci kaka. Adek sayang kakak" Balas Mama dengan suara yang dibuat seperti anak kecil.

Cup.

Aku mencium pipi Mama, lalu beranjak untuk pergi ke kamar.

"Ehhhh kamu mau kemana sayang? Katanya mau berenang?" Mama bertanya ketika melihat anak gadisnya itu seakan mau pergi.

"Ke kamar Mama. Kan katanya pengen liat aku berenang. Jadi aku mau ganti baju renang dulu."

Mama memutar mata malas, "Ngapain ganti baju sayang. Kamu pake baju itu aja."

"Ih Mamaaa masa renang pake rok gini. Nggak enak nanti."

"Ya tinggal aja kamu lepas rok mu itu loh sayang." Mama berucap. "Udah cepet sana kamu berenang Ra."

"Ngga ah Ma. Malu aku kan ada Papa. Masa aku setengah t3l4n ,, j4ng renangnya."

Mama terkekeh melihat penolakan anak gadisnya itu.

"Kamu ini loh sayang. Udah sering pake baju seksi di rumah aja masa masih malu si. Orang Papa aja nggak keberatan. Ya kan Pa?"

"Iya Mama."

Mama semakin terkikis ketika mendengar jawaban cepat suaminya.

Gotcha...

Welcome Papa.

Selamat menikmati tubuh indah anak mu. 

Aku membulatkan Mata mendengar jawaban Papa.

Karena tidak ada sekutu untuk menolak, jadilah aku kembali duduk di samping Mama.

"Yaudah sana cepet berenang. Jangan lupa pemanasan dulu."

Aku mengangguk, lalu dengan canggung melepas rok mini ku.

Setelah tubuh bawah ku t3l4n ,, j4ng, aku memberanikan diri menatap mata Mama yang berbinar dan Papa yang menggelap.

"Oke deh Ma aku berenang dulu."

Setelahnya, aku pun melakukan pemanasan badan sedikit.

Menggerakan kepala ku ke kanan kiri, lalu tak lupa menggerakan tubuh ku ke kanan kiri dengan kedua tangan yang terangkat.

"Sana susul anakmu itu Pa, kamu kan juga tadi aku suruh berenang." Celetuk Mama tiba-tiba ketika melihat mata sang suami berkilat penuh nafau melihat Ira yang sedang melakukan peregangan.

Mama terkekeh, anaknya itu luar biasa sekali.

Dengan crop top putih dan celana dalam hitam, anaknya itu sedang mencondongkan tubuhnya ke depan lalu ke bawah dengan kedua tangan yang terangkat.

Sehingga, jika dilihat dari posisi Mama dan Papa saat ini, posisi Ira seperti terlihat sedang menungging.

Pantat montok sang anak terlihat mengkilat karena terpaan sinar matahari.

Membuat kesan 3r ,, 0 ,, t1s pada tubuh Ira semakin membuncah.

"Mama hati-hati ya, Papa susul Ira dulu." Ucap Papa.

"Hmmm kamu ini loh Pa. Orang Mama cuma duduk disini aja kok pake hati-hati segala."

Cup.

Cup.

Tanpa kata, Papa langsung mencium bibir Mama dan perut membuncitnya dengan sayang.

"Kalo ada apa-apa teriak aja." Ucap Papa lagi sebelum membuka kaos hitam yang dikenakannya.

Sehingga membuat Papa berenang dengan bert3l4n ,, j4ng dada.

"Hahhh... senangnya." Mama tersenyum senang saat melihat interaksi putri kandung dan suaminya itu.

Melihat bagaimana mereka yang sudah tak canggung lagi untuk saling menyentuh di depannya.

Jarak kursi pantai dan kolam renang tidak terlalu jauh.

Sehingga Mama masih dengan jelas melihat seluruh aktifitas yang dilakukan dua orang tersayangnya.

Walaupun Mama tidak bisa melihat apa yang mereka lakukan di bawah air sana.

Membiarkan kedua orang tersebut saling menyentuh, Mama kembali menggunakan kacamata hitamnya.

Supaya matanya yang dipenuhi n4f ,, su itu tidak terlihat oleh sang anak dan suami.

"Ahhh... ahhh... nghh..."

Beberapa menit setelah melihat suami dan anaknya itu berenang bolak-balik.

Mama mendadak mend3s4 ,, h lirih.

Mer3m ,, 4s-r3m ,, 4s p4 ,, yud4 ,, r4 sekalnya yang semakin membusung.

Nghhh...

Dari balik kacamata hitamnya, Mama bisa melihat anak dan suaminya itu sedang saling memuaskan di pinggir kolam.

Mama menggigit bibir saat sadar apa yang dua orang tersayangnya itu lakukan.

Walaupun dari tempatnya ini mereka hanya terlihat saling berdiri membelakangi, tapi melihat air kolam renang yang bergelombang deras Mama bisa mendapat jawaban apa yang tengah mereka lakukan.

"Shhh... becek... nghhh..." Mama mengusap v4 ,, g1 ,, n4nya yang masih terbalut celana dalam.

Lalu saat melihat pemandangan c4b ,, ul di depannya, ia masukan kedua jarinya ke dalam lubang sempit miliknya.

"Ahhh... ahhh... ahhh..."

"Nghhh.... ouhhh.... Iraa aaahh..."

"Ahhh... Pahhh... ughhhh dalemmhhh..."

"Ahhhh... ahhh... Irahh Paaapahh ng3 ,, nt ,, 0tt ahhh..."

Mama semakin cepat menyodok v4 ,, g1 ,, n4nya dengan jarinya sendiri.

Tubuhnya meremang ketika membayangkan persetubuhan panas sang suami dan anaknya di depannya.

"Nghhh... ahhh... Iraaah.... nnnn Papahhh..."

Cr0 ,, t. Cr0 ,, t.

Mama mend3s4 ,, h lega, merasakan cairannya keluar membasahi celana dalam tipis yang ia kenakan.

Lalu ia j1l ,, 4t cairan berlendir di tangannya.

Membayangkan bahwa itu adalah p3n ,, 1s berurat sang suami.

Bertepatan dengan Mama yang baru saja pelepasan, Ira di bawah sana juga baru saja mengeluarkan cairan cintanya.

Bedanya, cairan yang dikeluarkannya di bantu oleh jari jemari milik Papa.

"Ahhh.... ahh... nghhh... Pahh ahhh jangan kencengg kencenghhh...." Aku berjingit, menggelengkan kedua kepala ku ketika merasakan gerakan tangan Papa di bawah sana semakin cepat.

"Ahhh... ahhh... nooo... nghh jangan ditambahin Paaah... nggg nggak muatt... ahh" Aku mend3s4 ,, h terus menerus lalu menelungkupkan kepala di pinggir kolam ketika Papa menambah jarinya masuk ke dalam v4 ,, g1 ,, n4 ku.

Jadi, kini sudah ada 2 jari di dalam lubang sempit ku.

Nghhh... holy shit.

Aku benar-benar terangsang.

Baru dua jari saja aku sudah kelojotoan seperti ini.

Sensasi geli namun nikmat yang aku rasakan sukses membuat ku mabuk kepayang.

Sepertinya benar kata ketiga temannya itu. Bahwa bercinta adalah kegiatan paling nikmat namun juga penuh dosa.