"Wowwww. What happen with you Ira? Seksi
banget kayanya hari ini." Wita berdecak ketika aku dan Wulan telah sampai
ke kelas.
Wulan yang mendengar ucapan Wita pun sontak
menatap sahabtnya itu dari atas sampai bawah.
"Lah iya anjir, kok gue tadi nggak sadar seragam lo
beda. Asli lo seksi banget. Apalagi nih t3 ,, t3 lo Ra gemes."
Sambil berucap, Wulan meremas p4 ,, yud4 ,, r4
ku dari luar seragam yang ku gunakan.
"Anjir
tangan lo lonte." Aku menepis dengan segera
tangan kurang ajar Wulan yang telah menodai p4 ,, yud4 ,, r4 ku.
Wulan meringis, "Sorry, gemes banget gue
sama t3 ,, t3 lo soalnya. Kenyel-kenyel gitu."
Aku mendengus, "Lo kira apaan
kenyel-kenyel gila."
"Eh tapi asli deh, ini kayanya bukan
seragam yang biasa lo pake kan Ra? Soalnya seinget gue lo tuh pake seragam kek
orang tolol kedodoran."
"HAHAHAHA ANJIR. Si Indah kalo ngomong
suka bener." Wulan terkikik. Menepuk pundak ku berkali-kali
sambil tertawa.
Aku segera menjauhkan pundak ku.
Sudah kebiasaan sahabatku yang satu ini kalau
ketawa tangannya nggak bisa diem.
"Emang keliatan beda banget ya? Ini
seragam kelas 10 gue kalo kalian lupa."
"Oh pantes aja kecil banget di badan
montok lo." Wita mencetus dengan tatapan mata yang masih memindai tubuh
ku.
"Mata mu. Ini nggak kecil yaa guys. Cuma
emang lebih pas aja ukurannya sama badan gue."
Indah mengangguk, "Iya si bener nggak
kecil Ra. Cuma
karena badan lo montok, jadi keliatan banget
bentuk tubuh lo. Asli seksi banget."
"Bangsat nggak usah salting gitu anjir,
jijik." Wulan mendorong pundak ku ketika melihat wajah ku
yang sedikit merona.
Iya aku salting.
Walaupun sudah berkali-kali di bilang oleh
ketiga temanku ini.
Tapi tetap saja aku salting jika mereka memuji
bentuk tubuh ku.
Aku jadi merasa sangat bersyukur telah
diberikan body yang kata teman-teman ku bikin iri semua perempuan.
Tubuh ku tinggi hampir 175 cm.
Itu gen dari Mama Papa karena
mereka juga memiliki tinggi di atas rata-rata.
Lalu wajah ku cantik. Kata
Mama dan ketiga teman ku.
Dengan bibir penuh,
hidung mancung, dan bulu mata yang lentik.
Badan ku? Nggak perlu di tanya.
Kalau kata teman ku Indah, ketika
pembagian badan aku jadi orang pertama yang ngantri sehingga
dapat kualitas yang grade nya SSS.
Ada-ada saja memang temen ku yang lemot-lemot
tapi binal itu.
Selain itu proporsi tubuh ku juga pas.
Kaki ku jenjang dengan pinggang yang kecil,
namun bokong ku mengangkat tinggi alias montok.
Lalu untuk bagian dada, aku nggak perlu
jabarin lebih jauh.
Hanya melihat sekilas pun pasti tahu kalo aku
memiliki p4 ,, yud4 ,, r4 yang padat.
"Emang nya seragam lo kemana Ra? Kok pake
yang bekas lo kelas 10?" Tanya Wita.
Aku melengos, "Kata nyokap tadi, seragam
yang biasa gue pake itu bolong karena kena setrika kelamaan. Dan untung aja
nyokap gue masih simpen seragam lain. Ya walaupun sebenernya agak aneh pas gue
pake."
Wulan mengangguk-angguk, "Bagus itu.
Tante Sari harusnya dari dulu aja bolongin seragam lo."
Aku berdecak, "Lo yang nanti beliin gue
seragam baru ya."
"Ngapain
beli anjir. Lo mending pake seragam yang ini aja
buat sekolah. Punya body bagus kok di umpetin mulu." Celetuk Wulan yang
langsung di angguki dua sahabat ku yang lain.
"Nggak ah. Nggak pede gue."
"Gue gorok lo ya Ra. Gue setuju kata Wulan,
Lo cocok banget pake seragam yang ini. Aura lo tuh
makin cetar sampe bikin silau. Jadi awas aja lo make seragam kedodoran lo
lagi. Gue pites nanti." Ucap Wita.
"Setuju." Satu lagi sahabat ku
menyuarakan pendapat.
Karena malas berdebat aku langaung mengiyakan
saja omongan mereka.
"Ya ya ya terserah kalian
lah."
"Ck. Beneran lo ya. Awas aja besok lo
make seragam kedodoran lagi."
Aku berdecak. Padahal seragam lama ku itu
tidak benar-benar kedodoran seperti yang ketiga teman ku katakan.
Cuma memang ukurannya lebih besar saja
sehingga tubuh seksi ku tertutup oleh seragam.
Berbeda dari ketiga sahabat ku yang memang pede
jika menggunakan pakaian yang mengumbar aurat.
Bahkan, dari dulu mereka sudah menggunakan
seragam sekolah yang press body.
Aku sebenarnya bingung.
Kok bisa ya aku betah bersahabat dengan
mereka? Karena sejujurnya aku lah yang paling berbeda dari ketiga teman
ku.
Kehidupan tiga sahabat ku ini bisa terbilang liar
walau tetap sesuai aturan.
Mereka juga selalu tahu untuk bagaimana
bersikap di setiap kondisi dan keadaan.
Berbeda dengan ku yang polos dan manja ini.
Walaupun sekarang isi pikiran dan tubuh ku
sudah tak se suci dulu.
Kami berempat juga bukan lah geng-geng populer
atau most wanted girl sekolah seperti yang sering ku baca di novel.
Kami berempat hanyalah sekumpulan perempuan
SMA biasa.
Walau tidak di
pungkiri circle dan relasi pertemanan kami luas.
….
Kring... Kinggg... Kringgg
Setelah berjibaku selama 8 jam di
sekolah, akhirnya aku bisa pulang dan kembali berleha-leha di rumah.
"Eh guys mampir rumah gue yuk." Ajak
ku pada ketiga teman ku yang lain.
"Skuyyyyyy kita makan enak."
Aku menoyor kepala Wulan, "Makan aja di
pikiran lo."
"Oke ayok. Cabut kita ke rumah tuan
putri."
20 menit kemudian, aku dan tiga sekawan ku
yang lain telah duduk bersantai di kamar ku.
"Eh guys, gue mau cerita deh."
"Kenapa lo? Udah di jebol ama Kevin?"
"Bukan anjir. Cuma ini juga ada sangkut
pautnya sama laki
gue." Balas ku sambil mendudukan diri di
sofa kamar.
"Kenapa tuch beb?" Timpal Wita
kepo.
"Tapi lo semua jangan nge judge laki gue ya." Ucap
ku terlebih dahulu.
"Iye-iye. Santai aja si elah." Balas
Wulan.
"Oke. Lo semua tahu kan kalo gue sama Kevin
belum pernah ciuman?"
Aku menatap ketiga teman ku yang kompak
menganggukan kepala.
"Jadi gini, ternyata bener yang lo semua
bilang. "
Belum sempat aku menyelesaikan
kalimat ku, Wulan sudah memotongnya dengan kalimat ngawur.
"KEVIN BENERAN HOMO?"
Wita menggeplak kepala Wulan, "Bacot
jamet. Itu temen lo belom kelar ngomongnya."
"Hehehe. lanjut-lanjut Ra."
Aku memutar bola mata malas.
"Kevin bener kata lo pada. Dia punya
kelainan seksual. Cuma dia nggak HOMO!"
Dengan sengaja aku mengucapkan kata homo
dengan melirik sinis pada Wulan yang hanya cengangas cengenges saja.
"Nah kan bener, Nggak mungkin laki lo tuh
nggak tertarik sama body semok lo Ra. Cuma karena ada alesannya aja lo belom
disodok sampe lima tahun."
"Ya yaudah lah. Lo pada doain gue
aja."
"Emangnya laki lo kenapa Ra? Kita boleh
tahu?" Tanya Wita menatap ku.
Aku terdiam. Perlu kah aku beritahu ketiga temanku
tentang fantasi gila Kevin?
"Kalo lo nggak mau ngasih tahu, nggak
papa kok. Santai aja, kita paham. Yang penting lo udah tahu alesan laki lo
begitu." Timpal Wita pengertian ketika melihat aku yang terdiam.
Aku mengangguk saja.
Karena sebenarnya aku juga belum siap untuk
membagikan hal ini pada tiga teman ku.
Ini menyangkut reputasi Kevin soalnya.
"Eh guys, gue kayanya balik duluan yah.
Nyokap gue minta anter kondangan soalnya."
Indah yang dari tadi hanya diam
menyimak pun bersuara.
"Yah, padahal gue mau ngajak lo pada
nginep. Mumpung besok tanggal merah." Ucap ku dengan wajah memelas.
"Hehe sorry ya sayang ku ini nyokap
mendadak banget soalnya."
Aku pun hanya mengangguk saja. "Kok lo
juga beberes Wit? Lo mau pulang jugaa?"
"Kan gue tadi nebeng mobil Indah. Jadi
dia balik gue juga cabut deh. Mas pacar juga ngajak ngedate soalnya."
"Gaya lo mas pacar." Wulan berdecih
sinis yang hanya di balas peletan lidah oleh Wita.
Setelah mengantar kan kedua teman ku
ke bawah.
Kini hanya tinggal Wulan yang masih menemani
ku.
"Lo nggak mau cerita?"
Aku menolehkan kepala ku dari ponsel yang
sedang ku mainkan.
Menatap Wulan dengan alis terangkat.
"Apa?"
"Itu lo sama Kevin."
Aku menimbang-nimbang.
Haruskah aku ngasih tahu Wulan tentang fantasi
Kevin terhadap ku?
Karena bagaimanapun, aku sudah kenal Wulan
dari jaman kami masih bayi.
Bahkan saat dalam kandungan.
Sehingga, kami berdua
sudah saling tau semua hal jelek yang masing-masing punya.
Aku membasahi bibir, "T-tapi lo jangan nge
judge laki gue ya. Jangan ngumbar juga. Ini privasi banget soalnya."
Wulan mengangguk antusias.
"Iya-iya santai aja. Kita
kan dah bespren dari orok."
"Emmm jadi gini, Kevin tuh bukannya kaga
nafsu sama gue. Cuma..."
"Cuma apa anjir? Jangan ngegantung dong
tai."
Aku memainkan lidah ku dalam mulut, mencoba
mencari padanan kata supaya kalimat ku lebih bagus.
"Emmm Laki gue bilang kalo dia tuh mau
nyium gue asal..."
Aku menjeda ucapan ku sekilas, "Asal gue
udah ciuman sama Papa."
"Anjir lo. Kalo gitu yaudah lo cium aja
bokap lo Ra. Kan gampang"
"Masalahnya, Kevin tuh pengen gue ciuman
bibir sama Papa Wulan! Kevin juga bilang kalo dia sering ngebayangin gue di3 ,,
nt ,, 0tin Papa kalo lagi ng0c ,, 0k."
"HOLY SHIT!"
Aku berjengit, mendengar teriakan super Wulan yang
tiba-tiba.
"Fuck. Lo serius gila? Gue nggak nyangka
laki lo punya fantasi liar kaya gitu Ra. Anjing."
Aku meringis, reaksi Wulan sebenarnya
sudah sesuai dengan harapan ku.
"Jadi intinya, laki lo tuh mau ngegr3 ,,
p3 lo kalo lo udah di gr3 ,, p3 sama Om Kenzo gitu?"
Aku mengangguk. Karena apa yang dikatakan Wulan
adalah sebuah kebenaran.
"Anjing. Itu mah rungkad lo Ra."
"Makanya kan..."
"Tapi tunggu, kok lo nggak sedih? Kayanya
dari kemarin lo hepi-hepi aja. Mata lo juga nggak bengkak."
Wulan memicingkan mata menatap ku penuh
curiga.
Aku seketika menjadi gugup.
"Jangan bilang? HOLY SHIT! GILA!" Wulan berteriak
ketika aku mengganggukan kepala mengiyakan segala pemikiran yang ada di
benaknya.
"Emmm s—sebenernya
itu nggak di sengaja. Karena ada accident aja gue sama Papa
bisa ciuman."
Setelahnya, ku ceritakan semua hal tentang apa
yang sudah aku lakukan dengan Papa.
Termasuk dengan ngidam-ngidam Mama yang aneh.
Wulan menghempaskan badannya ke kasur ku.
Lalu menganggukan kepala.
"Lo nggak jijik sama gue?"
Wulan terkekeh miris, "Nggak. Karena gue
tahu ada orang yang lebih parah dari itu."
Aku mengerutkan kening bingung, "Maksud
lo apa Wulan?"
Wulan melirik ku dari posisi telentangnya,
"Lo mau denger cerita gue?"
Aku mengangguk, sedikit resah karena ini
sepertinya menyangkut sahabat ku.
Ada apa ini? Wulan sedang dalam masalah?
Lalu setelahnya Wulan menumpahkan segala
ceritanya.
Cerita yang benar-benar membuat ku terkejut
setengah mati.
"Lo gila! Kenapa lo nggak cerita ini dari
dulu?" Sentak ku sedikit marah pada Wulan.
"Ya gue takut aja lo jijik sama gue dan
nggak mau temenan lagi."
Aku terkekeh sinis, "Lo lupa kita udah
sahabatan dari kecil? Mana mungkin gue ngejauhin lo cuma karena itu."
Wulan terkekeh, "Sekarang gue tanya balik.
Lo nggak jijik sama gue Ra?"
Aku sontak menggelengkan kepala. "Nggak Wulan.
Lo tenang aja. Gue bakal support lo apapun keputusan lo."
Setelahnya aku pun merebahkan diri di samping Wulan.
Memeluk sahabat kecil ku yang kini tumbuh jadi
perempuan yang mempesona.
Tanpa tahu bahwa sejak tadi, ada sang Mama yang
sedang menguping di balik pintu.
Mendengar segala ungkapan yang anak gadisnya
itu ceritakan pada sahabatnya.