"Morning Ma, Pa" Ucap ku setelah menuruni tangga dan duduk di meja makan.
"Morning sayang"
"Kok kamu belum pake seragam? Udah jam segini loh" Tanya Mama menatap anak gadisnya dengan bingung.
Pasalnya jam sudah menunjukan pukul setengah tujuh lewat, namun anaknya itu belum pakai seragam sekolah.
"Iya ini Ma, aku nyari-nyari seragam ku kok ngga ada ya?" Tanya ku sambil menatap Mama bingung.
"Kamu udah coba cari di ruang laundry belum sayang?" Tanya Papa pada anak gadisnya.
Ya semenjak kejadian c4b ,, ul yang aku dan Papa lakukan beberapa waktu lalu, kini hubungan ku dan Papa sedikit mencair.
Papa sudah tidak terlalu kaku dan cuek kepada ku.
Sehingga suasana rumah setiap hari selalu penuh canda tawa.
Setelah kejadian tak senonoh itu, aku dan Papa sepakat dalam diam untuk tak pernah membahasnya.
Walau memang pada awalnya canggung, namun karena keceriaan dan kecerewatan sang Mama, membuat hubungan ku dan Papa justru kian menghangat.
Aku juga kini sudah tak canggung dan malu lagi jika menggunakan pakaian sexy di rumah.
Bahkan, aku pernah dengan sengaja berniat menggoda Papa dengan pakaian tidur kurang bahan.
Namun, entah karena Papa sudah tidak tertarik pada tubuh ku lagi atau bagaimana, Papa tidak terpancing dengan godaan ku.
Aku cukup sedih sebenarnya.
Karena bagaimanapun juga Papa adalah suami Mama.
Dan aku adalah putri kandung Papa.
Mungkin sama seperti ku, Papa takut jika kejadian c4b ,, ul hari itu terjadi lagi, aku dan Papa bisa kebablasan melakukan hal yang lebih bejat lagi.
Susah memang menahan hasrat dari tubuh mengg4 ,, 1r4 ,, hkan Papa.
Apalagi aku sudah pernah sekali merasakannya.
Ditambah ngidam Mama yang semakin hari membuat ku dan Papa pusing.
Seperti contohnya saja, Mama selalu memintaku untuk selalu duduk di pangkuan Papa jika makan malam tiba.
Pada saat itu aku dan Papa hanya duduk saja.
Benar-benar tidak melakukan apa-apa.
Walau setiap aku duduk di pangkuan Papa, junior Papa selalu tegak berdiri.
Pernah suatu kali, ketika aku menggunakan lingerie pilihan Mama yang sangat seksi, Papa dengan sadar memaju mundurkan pinggang ku supaya k3l4 ,, m1n kami saling bergesekan.
Padahal saat itu ada Mama yang duduk di samping kami.
Hanya menggesek saja itu pun cuma sebentar.
Setelahnya kami sudah tidak pernah melakukan hal c4b ,, ul lagi.
Kecuali ketika aku dan Papa harus menuruti permintaan Mama yang katanya ngidam.
"Ya ampun sayanggg, Mama lupa ngasih tahu kamu dari kemarin."
Mama menepuk jidat, lalu menatap anaknya dengan pandangan bersalah.
"Kenapa Ma?"
"Itu Mama lupa ngasih tahu kamu kalau seragam mu kemarin bolong karena Mama lupa matiin setrikaan."
Aku membulatkan Mama kaget, "Mah yang benerr dongg, terus aku sekolah pake baju apa?"
Aku cemberut, lalu duduk di meja makan dengan raut merengut.
"Aku hari ini ada kuis harian."
Merasa bersalah, Mama menatap Papa yang kini mengangkat kedua bahuanya acuh.
"Oh ya! Kamu kan bukannya punya seragam lain Ra?" Mama berseru dengan tangan yang menepuk pundak anaknya.
"Kan kalo nggak salah, seragam mu yang ini itu baru kamu beli. Jadi seragam mu dulu kayaknya masih ada. Masih bagus juga."
Aku menatap Mama dengan kening mengerut, "Hah emang ada? Mama masih simpan?"
Mama menggangguk, "Kamu tunggu disini ya, Mama coba cari di lemari Mama."
Tak lama kemudian, Mama kembali menghampiri sang anak dan suaminya di meja makan.
"Nah ini Ra, dah kamu pake sekarang biar nggak keburu telat."
Aku mengernyit melihat ukuran seragam yang di pegang Mama.
Kalau tidak salah ingat, ini adalah seragam ku saat baru masuk SMA.
"Mahhh, ini kayanya kecil banget loh di aku."
Mama menggeleng, "Ini nggak kecil sayang. Malah kayanya pas sama tubuh kamu."
"Udah sekarang kamu pake dulu. Biar sarapannya nanti Mama taruh di bekal aja biar bisa kamu makan di jalan."
Menimbang-nimbang sebentar, lalu memikirkan hari ini aku ada kuis guru killer, aku menggangguk saja pasrah.
"Yaudah Ma aku ke atas dulu siap-siap. Nanti kalau Wulan sampai disuruh tunggu aja ya Ma."
"Kamu bareng Wulan, nggak bareng Papa?"
"Iyaa Ma, hari ini Wulan katanya mau bawa mobil."
Setelah itu, aku segera melangkah kaki ku menuju kamar, lalu mengganti cepat pakaian ku saat ini dengan seragam.
Tak lama, aku menatap dirimu di cermin yang menampilkan tubuhku terbalut seragam sekolah.
Seksi.
Benar kata Mama, seragam sekolah ini sangat pas di tubuh ku.
Tidak terlalu besar dan tidak juga kekecilan.
Walaupun karena dada dan pantat montok ku, penampilanku jadi sangat terlihat seksi saat memakai seragam lama ini.
Aku menyampingkan tubuh, melihat pantulan diri ku dari samping.
Dengan seragam lama ku ini, p4 ,, yud4 ,, r4 ku yang membusung bisa terlihat sangat jelas.
Juga rok pendek ku yang memang ukurannya lebih pendek dari rok sekolah yang biasa aku pakai.
"Nggak papa lah. Cuma hari ini aja. Besok minta beli seragam baru."
Aku lalu merapikan dasi, dan menyambar almamater yang melengkapi pakaian sekolah ku.
Lalu turun ke bawah setelah menyemprotkan tubuhku menggunakan parfum berwangi lemon kesukaanku.
"Mah Wulan udah sampai?" Tanya ku pada Mama yang sedang memasukan bekal ku untuk sarapan nanti.
"Udah sayang, lagi nunggu di depan."
Mama meneliti penampilan anak gadisnya.
Seperti yang tadi ia katakan, seragam lama anak gadisnya itu ukurannya lebih pas di badan sang anak.
Mama terkekeh, kenapa dari dulu tidak kepikiran ya untuk memaksa anaknya itu mengganti seragam kedodorannya dengan seragam yang ukurannya lebih pas.
Walaupun tidak mengetat, tapi karena body anaknya yang molek itu, lekukan tubuh Ira tetap saja tercetak dalam bayang-bayang seragam yang dikenakan.
Papa yang juga meneliti penampilan anak gadisnya pun sontak menelan ludah.
Pikirannya menjadi liar ketika membayangkan penisnya menyodok v4 ,, g1 ,, n4 anaknya yang masih pake seragam, lalu ia yang juga masih pakai pakaian kantor.
Pasti akan benar-benar hot.
Mama yang memiliki pemikiran liar seperti Papa pun sontak menyeringai penuh nafsu.
Akan Mama buat Ira selalu memakai seragam itu setiap harinya.
Tanpa tahu apa yang dipikirkan kedua orang tuanya, Ira dengan cepat berpamitan pada Mama dan Papa.
Cup. Cup
Ku kecup kedua pipi Mama, lalu berucap, "Yaudah Ma aku berangkat ya"
Cup.
"Pa, aku berangkat ya." Ucap ku pada Papa setelah mencium ujung bibirnya singkat.
"Hati-hati ya, Nak."
Ira yang mendengar teriakan sang Mama pun sontak mengangkat jempolnya tanpa menolehkan badan.
Setelah melihat anaknya yang sudah berangkat, Mama mendesah lirih.
"Ira udah gede banget ya Pa."
Papa yang melihat wajah murung Mama seketika bangkit dari duduknya.
"Iya sayang, makanya kamu yang sehat ya biar nanti rumah kita bisa ada suara bayi lagi."
Mama mengangguk, lalu memeluk sang suami yang berdiri di sampingnya.
"Oh ya Pa, menurut Papa gimana kata dokter yang ibu susu itu? Papa mau kita pake ibu susu buat anak kita nanti?
Mama mendongak, menatap wajah tampan Papa dari bawah.
"No. Papa nggak mau pake ibu susu-ibu susu segala. Biar kamu aja yang menyusui anak kita nanti."
Mendadak gugup, Mama membasahi bibirnya yang kering sebelum berucap, "Tapi Papa inget kan kata dokter waktu itu gimana? Kemungkinan besar asi Mama keluarnya hanya sedikit. Mama nggak mau kebutuhan gizi anak kita nanti nggak tercukupi, Pa."
Mendengar ucapan sang istri, Papa sontak mengelus pelan rambut Mama, "Nanti kita bisa cari jalan keluarnya ya Ma, kalo perlu kita bisa konsultasi sama dokter-dokter terbaik."
"Emmm Pa, inget kan kata dokter tentang induksi laktasi?" Tanya Mama menatap Papa.
Dalam hati Mama menyeringai.
Saatnya kita mulai beraksi.
Papa mengerutkan kening, "Kenapa memangnya Ma?"
"Mama sebenarnya punya rencana Pa. T-tapi Mama mau minta persetujuan Papa dulu." Mama berucap lirih.
Papa yang merasa pembicaraan ini akan panjang, menarik kursi yang tadi di duduki dan ia letakan di samping Mama.
"Rencana apa Ma? Papa nggak akan setuju kalau Mama ngerencanain hal aneh-aneh." Papa berucap tegas pada sang istri yang sedang menundukan kepala di hadapannya.
"Tapi Papa janji ya jangan marah, dengerin penjelasan Mama dulu nanti." Cicit Mama pelan.
Papa menghelas nafas, lalu menganggukan kepala, "Iya. Papa janji nggak akan langsung marah."
Mendengar jawaban sang suami, Mama lantas mendongakan kepalanya lagi.
Menabrakan netra nya dengan sepasang netra indah milik Papa.
"Mama pengen kalau Ira ngelakuin induksi laktasi. Biar nanti Ira aja yang bisa bantu nyusui anak kita nanti."
"Kamu gila!" Sentak Papa dengan suara keras dengan mata membulat sempurna.
"Nggak. Papa nggak akan setuju." Ucap Papa tegas tak terbantah.
Mendengar bentakan keras sang suami, Mama langsung berkaca-kaca.
"Papa jahat. Katanya mau dengerin penjelasan Mama dulu tadi. Tapi hiks Papa belum denger udah bentak Mama hiks."
Mendengar isakan kecil istrinya, Papa sontak mengusap wajahnya kasar, lalu berdiri dari duduknya.
Merasa sesak, Papa membuka kedua kancing kemeja yang sedang di pakainya.
Biarlah berantakan, nanti juga bisa ia rapihkan lagi.
"Sekarang, coba Mama kasih alasan yang masuk akal sama Papa. Apa yang ada dipikiran Mama nyuruh Ira buat induksi laktasi?"
Masih dengan posisi berdiri, Papa meminta penjelasan pada istrinya yang baru saja melontarkan kalimat paling tak masuk akal.
Apa-apaan itu? Konyol.
Mana mungkin ia setuju jika anak gadisnya menyusui buah cintanya bersama sang istri.
Bahkan itu adik kandungnya sendiri.
Walaupun beberapa waktu lalu ia dan anaknya itu berbuat bejat dan tak senonoh, tapi tetap saja untuk hal seperti ini Papa tidak akan setuju.
"Papa duduk dulu makanya." Mama menarik tangan Papa untuk kembali duduk di kursi.
Lalu menyodorkan gelas berisi air minum untuk sang Papa.
Setelah air putih di gelas tandas diminum Papa, Mama mulai menjelaskan pelan-pelan alasan rencananya tadi.
"Papa dengar sendiri kan kemarin apa kata dokter? Walau misal nanti Papa mengajak Mama untuk berkonsultasi ke dokter lainnya. Mama yakin, kalau jawaban yang mereka kasih kurang lebih sama."
"Kita ini udah tua loh Pa. Nggak lagi muda. Jadi, walaupun nanti dokter ngasih solusi, itu juga pasti nggak akan maksimal buat kita, buat anak kita. Karena itu, Mama tadi bilang kalau pengen Ira ngelakuin induksi laktasi."
"Ira masih muda Pa. Badanya juga sehat jasmani dan rohani. Jadi, dari pada kita cari ibu susu dari orang yang nggak kita kenal, kenapa kita nggak minta Ira saja yang bantu Mama nanti?"
Mendengar penjelasan masuk akal sang istri, Papa lagi-lagi mengusap wajahnya kasar.
"Kaya kamu bilang Ma. Ira itu masih muda. Apa yang bakal orang-orang pikir tentang Ira nanti setelah ia bisa mengeluarkan asi dan menyusui?"
Mama berdecak, "Kamu ini loh Pa sukanya dengerin kata orang. Kita nggak perlu dengerin yang orang bilang. Cukup kita nanti tanya pendapat Ira. Kalau Ira saja mau, itu pasti akan lebih bagus."
"Lagian coba Papa bayangin. Kalau misal kita cari ibu susu buat anak kita nanti, dimana Papa akan nyari nya hm? Papa emang mau anak kita nanti disusuin sama orang yang nggak kita kenal?"
"Mama nggak akan sudi kalo anak kita disusuin orang lain. Selain itu, keluarga kita juga nggak ada yang punya bayi lagi selain kita Pa. Jadi nggak ada yang bisa kita minta tolong." Jelas Mama panjang lebar mencoba mencuci otak Papa supaya menyetujui rencananya untuk membuat Ira bisa menyusui.
Anaknya itu pasti akan sangat seksi jika p4 ,, yud4 ,, r4 montoknya bisa mengeluarkan asi.
"Selain itu Pa, Ira juga perempuan. Kelak dia juga akan mengandung dan melahirkan. Jadi apa salahnya bukan kalau Ira bisa lebih dulu mengeluarkan asi? Lagi pula, Mama yakin diluaran sana juga banyak perempuan yang bisa menyusui walaupun belum melahirkan."
"Toh juga orang lain nggak akan tahu p4 ,, yud4 ,, r4 Ira bisa mengeluarkan asi kalau kita nggak pernah ngumbar hal itu di luar."
Papa mengehembuskan nafas kasar.
Menyenderkan tubuhnya ke sandaran kursi.
Apa yang dikatakan istrinya semuanya terdengar masuk akal.
Dan Papa sudah tidak punya kalimat lagi untuk membantah ucapan sang istri.
Sebenarnya, menolak mentah-mentah rencana sang istri itu pun karena Papa punya alasan pribadi.
Papa tidak yakin pada dirinya sendiri.
Papa tidak yakin jika imannya akan kuat jika melihat sang anak akan menyusui adiknya nanti.
Ngghh membayangkan p4 ,, yud4 ,, r4 montok putri kandungnya mengeluarkan asi sukses membuat kepala Papa semakin pening.
Bahkan dengan membayangkan saja, Papa bisa merasakan bahwa senjatanya sudah bereaksi.
"Yah Pa? Papa setuju kan sama rencana Mama?"
Mama menggoyang-goyang lengan sang suami, ketika suaminya itu sedang berpikir keras.
"Oke. Papa setuju."
"Yeayyy terima kasih Papa." Mama berteriak senang lalu tanpa aba-aba mencium bibir Papa cepat.
"Namun dengan syarat, Ira harus mau. Kalo Ira nggak mau, Mama nggak boleh maksa." Timpal Papa dengan tegas.
Mama mengangguk.
Akan ia pastikan anaknya itu mau melakukan induksi laktasi.
"Yaudah kalo gitu, gih Papa berangkat kerja. Udah jam segini nanti Papa telat."
Papa mendengus, "Kantor kan punya Papa. Jadi kalau telat sedikit aja siapa yang mau negur emang."
Mama terkekeh mendengar ucapan narsis sang suami, "Kan ngasih contoh yang baik Papa."
"Yaudah Papa berangkat ya Ma. Mama hati-hati di rumah, kalau ada apa-apa bisa telfon aku atau nggak anakmu."
Cup.
Papa mengecup dahi Mama. Lalu meninggalkan sang istri untuk berangkat ke kantor.
"Bye Papa."