A A

Setelah posisi ku diubah dan baju ku diangkat sampai pinggang oleh Papa, kini aku dengan jelas bisa merasakan p3n ,, 1s Papa yang tegak sempurna di belahan v4 ,, g1 ,, n4ku.

Ughhh... sensasi alat kelamin yang saling bergesekan sukses membuat ku semakin ter4ng ,, s4ng.

Lalu tanpa sadar aku semakin mengangkangkan kedua kaki ku ketika tangan Papa kembali bergerak liar di paha dan pinggang ku.

Fuck.

Papa mengumpat dalam hati ketika k3j4n ,, t4n4nnya menempel dengan v4 ,, g1 ,, n4 sang anak.

Kepalanya sangat pening, karena itu Papa menumpukan kepalanya di pundak telanjang sang anak.

"Bergerakhhh"

"Bergerakk sayangghhh" Ucap Papa lirih di telinga Ira.

Kepalang n4fs ,, u, dengan perlahan Papa mulai menggerakan pinggang sang anak maju mundur.

Shit. Gila.

Papa menggeram lirih, lalu dengan sengaja ia mengecup pundak Ira yang telanjang.

Aku menggigit bibir, menahan sensasi geli tapi juga nikmat atas perlakukan cab ,, ul Papa pada ku.

Melihat wajah anak gadisnya yang sedang menggigit bibir, Papa dengan cab ,, ul berucap, "Jangan ditahan sayang, Papa mau denger d3s4 ,, han kamu"

Bak iblis penggoda, mendengar suara berat Papa sontak aku langsung meloloskan d3s4 ,, han yang sedari tadi ku tahan.

"Ahhhh geliii ouhhh Pahh"

"Ahhh ahhh nghh"

"Terus sayang, terus keluarin d3s4 ,, han kamu yang seksi. Nghh shitt"

Papa menggeram tertahan ketika anak gadisnya semakin cepat menggerakan bokongnya maju mundur, lalu sesekali memutar.

"Ahhh Pahhh nanti Mamaaa liattt"

"Ahh ahhh"

Oughh... nafasku tersenggal, lalu dengan cepat memutar kepala ku melihat sang Mama yang masih berdiri membelakangi ku dan Papa.

Lalu aku semakin cepat menggerakan bokong ku maju mundur ketika merasakan tangan Papa yang semakin berani menyentuh area pribadi ku.

"Nghhh jangannn Pahhh ahhh ahhhh geliihh."

Mulut ku memang melarang Papa untuk bergerak semakin jauh, namun reaksi tubuh ku berbanding terbalik.

Bukannya langsung melepaskan diri dari pangkuan papa kandung ku sendiri, aku justru semakin melebarkan kedua kaki ku dengan tubuh yang menyender pada dada bidang Papa.

"Ouhhh nghhhh kamuu sukaa Ira? Nghhh kamu suka kaya gini sama Papa mhh?

Papa berucap semakin cab ,, ul, lalu dengan berani mulai memasukan jari telunjuknya ke dalam lipatan v4 ,, g1 ,, n4 ku.

"Ahhhhh  Papaahh uhhhh geliiihh nghh"

"Mmmmhh Pahhh uhhh tangannyaa jangann masukkkkhh"

Aku menggerakan badan semakin cepat. 

Sensasi geli yang diberikan telunjuk Papa pada v4 ,, g1 ,, n4 ku sukses membuat ku semakin becek.

Dan Papa mengetahui itu. Oleh karena itu, Papa dengan berani memasukan jari telunjuknya ke lubang v4 ,, g1 ,, n4 Ira yang masih rapat tak bercela.

"Oughhh ahhh Papahh ngapainnnn"

Aku mend3s4 ,, h, mengapit kedua paha ku ketika merasakan jari Papa yang mencoba masuk ke dalam lubang v4 ,, g1 ,, n4 ku. 

Melihat anaknya yang semakin kelojotan, Papa semakin cepat menggesekan jari jemarinya di lubang sempit Ira.

Lalu perlahan mulai memasuki lubang surga milik sang anak. 

"Oughhh ngghh sayangg punya mu rapet banget"

Papa berbisik lirih di telinga anak gadisnya. Kepalanya semakin pening saat merasakan betapa hangat dan sempitnya lubang surgawi sang putri kandung.

Walaupun Papa mengocok jarinya tak terlalu dalam dan hanya di ujung, tapi tetap saja Papa bisa merasakan isapan-isapan kuat dari dinding v4 ,, g1 ,, n4 Ira. 

"Nghh ahhh ahh"

Aku menggelinjang ketika merasakan sensasi ingin buang air kecil, "Ouhhh Papaahhh nghhh Akuuu hhh pengen pipiss. "

"Ouhhhh gelihhh nghhh"

Tanpa sadar aku turut menggerakan tangan Papa yang sedang keluar masuk di dalam v4 ,, g1 ,, n4 ku.

Aku menunduk melihat pemandangan erotis dimana jari Papa yang keluar masuk v4 ,, g1 ,, n4 ku.

"Ahhh ahhh Pahhh akuuhh mauu pipisss. "

"Nghh shhh. " 

Cr0 ,, tt Cr0 ,, tt

Aku bergidik ketika merasakan ada cairan berlendir yang keluar dari lubang surga ku.

Papa menyeringai ketika anak gadisnya pelepasan untuk pertama kalinya.

Lalu ia dengan perlahan mengeluarkan jari telunjuknya yang basah akan cairan berlendir yang telah Ira lakukan.

Papa memajukan kepalanya sampai bersisian dengan kepala ku, lalu mengulurkan telunjuk nya yang penuh cairan berlendir itu ke dalam mulutku.

"Jilat"

Aku mengangguk lalu langsung melahap habis jari Papa.

Rasanya hampir sama seperti dulu ketika aku yang mengemut jari Mama.

"Isep terus di jilat, bayangin kamu lagi makan es krim" Ucap Papa berbisik lirih di telinga ku.

Bukannya membayangkan es krim, aku justru membayangkan p3n ,, 1s berurat Papa yang sedang ku jilat.

Slurppp Slurppp

aku mengemut jari Papa penuh n4fs ,, u.

Membayangkan bahwa yang sedang di dalam mulut ku ini senjata Papa yang sedang ku duduki.

Dengan mulut yang masih menjilat jari Papa, aku dengan sengaja mengusap selangkangan Papa.

Mengelus k3j4n ,, t4n4n Papa dari luar boxer yang papa kandungnya itu pakai.

"Nghhm nakal"

Papa mendesis lirih ketika jari lentik anaknya mulai berani membelai rudal besarnya. 

"Gedheee ngggg punya Papa gedeehhh bangett"

Papa mengeluarkan jarinya dari mulut sang anak, lalu meletakan kedua tangannya tuk mengangkat pinggang Ira.

"Mauu masukk? Hmmm?"

Tanpa aba-aba, Papa langsung menuntun tangan anak gadisnya masuk ke dalam boxer yang ia gunakan.

Lalu ia tuntun tangan anaknya itu untuk membuat gerakan naik turun. 

"Shhh iya gitu sayang hhh gerakinnn pelan-pelan"

Aku menolehkan kepala ke belakang, melirik Mama yang masih sibuk di dapur.

Lalu ku labuhkan pandangan pada sosok pertama yang berani menyentuh ku dengan liar.

"Ahhh ahhh"

"Oughhh"

Papa menggeram nikmat ketika aku dengan sengaja membelai pucuk k3j4n ,, t4n4n Papa.

"Nghhh sayanghhh"

Dengan kondisi yang sudah sama-sama dipenuhi n4fs ,, u, Papa kemudian melabuhkan kedua tangannya menangkup buah dada ku yang membusung.

Papa meremas, memijat, memainkan buah dada ku yang sekal dan besar.

Melepaskan tangan ku dari k3j4n ,, t4n4n Papa, aku kembali memajukan tubuhku maju mundur.

Menggesek brutal kelamin ku pada p3n ,, 1s Papa yang semakin membesar.

Lalu sesekali aku gerakan pantat ku maju mundur juga ke atas ke bawah.

Sehingga p3n ,, 1s Papa menyodok v4 ,, g1 ,, n4 ku yang terbalut celana dalam.

Aku semakin binal, semakin cepat memaju mundurkan tubuh ku ketika Papa sedang asik bermain dengan p4 ,, yud4 ,, r4 ku.

"Ahhh ahhhh ahhhh"

"Oughhhh sayanghhh. "

"Ahhhh dada mu kenyell bangettt Papa nhhh sukaa"

"Hoshh hhhh besaran punya ku kan Pahh nghh dari Mama?"

Papa semakin meremas p4 ,, yud4 ,, r4 ku.

Lalu menurunkan tali lingerie sebelah kanan yang ku pakai.

Sehingga p3 ,, nt ,, 1l p4 ,, yud4 ,, r4 ku bisa Papa mainkan menggunakan tangannya.

"Ahhh Pahhhh nghhh geliii jangan di mainihinn Ouhh pipisss akuu pipiss lag nghhh. "

"Ahhh ahhh nghhh"

"Keluarinn sayanghh"

Cr0 ,, tt Cr0 ,, tt Cr0 ,, ttt

Aku keluar lagi.

Muncrat sebanyak tiga kali sehingga celana dalamku benar-benar basah.

Bersamaan dengan Papa yang juga memuncratkan s ,, p3r ,, m4nya membasahi boxer yang dikenakan.

Aku menunduk, melihat selangkangan Papa yang sedikit basah.

Aku tahu Papa tadi sudah keluar, tapi kenapa punyanya masih tegak berdiri?

Aku menyandarkan diri pada dada bidang Papa, mengatur nafas yang terengah-engah.

Suara nafas ku dan Papa sahut-sahutan.

Saling berirama seakan tahu bahwa keduanya baru saja saling memuaskan.

"Benerin baju mu sayang."

Papa berucap sambil membenarkan lingerie yang ku pakai seperti semula.

Lalu bertepatan dengan Mama yang kembali ke meja makan, Papa juga telah selesai mengelap celananya yang luarnya terlihat basah. 

"Kok makannya belum habis sayang?" Tanya Mama dengan wajah bingung.

Berlagak seolah-olah ia tidak tahu apa yang baru saja terjadi di antara anak dan suaminya.

Dengan senyum tertahan, Mama melihat wajah sang anak gadis dan suaminya yang penuh keringat  dengan  nafas  yang  masih tersenggal-senggal.

Mama menahan senyum, membayangkan se mengg4 ,, 1r4 ,, hkan apa kegiatan cab ,, ul keduanya.

Karena hanya dari belakang, Mama tidak sepenuhnya dengan jelas melihat apa yang dilakukan Ira dan Papa. 

Tapi, menilai dari keringat yang keluar dari tubuh keduanya, Mama yakin Papa dan Ira saling memuaskan hingga saling keluar.

"Emmm ak-aku udah kenyang Ma."

Mendengar jawaban bohong sang anak, Mama hanya manggut-manggut saja.

Lalu beralih pada Papa yang sedang memejamkan mata.

"Papa kenapa? Kok merem gitu? Papa sakit?" Tanya Mama beruntun.

Papa mengumpat.

Bisa-bisanya anak gadisnya itu menggodanya di depan sang Mama. 

"Nghh nggak Ma, Papa cuma kecapean aja."

Nafas Papa tersenggal merasakan tangan nakal sang anak yang sedang bermain dengan p3n ,, 1snya.

"Yaudah kalo gitu. Ira kamu istirahat ya habis ini, kamu keliatan capek banget. Ini nanti biar Mama aja yang bereskan." Mama berucap yang kemudian aku angguki saja.

Karena jujur, aku sudah tidak ada tenaga.

Untuk berdiri saja kaki ku seperti tidak ada tenaga. 

"Kalo gitu aku ke kamar ya Ma. Mau ngerjain PR juga."

Cup.

Aku mencium pipi Mama selepas berdiri dari pangkuan sang Papa.

Sebelum itu, aku memberanikan diri meremas kencang p3n ,, 1s Papa yang masih tegak berdiri.

"Kamu nggak mau cium Papa?" 

Aku berjengit mendengar ucapan Papa.

Sedikit terkejut karena Papa berucap frontal di depan Mama. 

"Tuh sayang ada yang minta di cium. Gih cium Papa biar nggak ngambek."

Mama terkekeh melihat kelakukan sang suami. 

Lalu tanpa aba-aba aku membalikan tubuh dan mencium bibir Papa.

Iya bibir.

Karena saat aku mengarahkan bibir ku ke memuju pipi, Papa menggerakan dagu ku sedikit hingga bibir ku mencium Papa. 

Aku melotot, buru-buru menjauhkan kepala karena takut Mama melihat aku yang menckum bibir Papa.

Melihat tingkah ku, Papa terkekeh.

Lalu dengan sengaja Papa menjilat bibirnya sambil menatapku.

Tanpa menatap Papa kembali, aku segera melangkahkan kaki ku naik tangga.

Sedikit berlari supaya cepat sampai ke kamar ku sendiri. 

Brak.

Aku menutup pintu kamar sedikit kasar.

Lalu menyender di belakang pintu dengan wajah memerah. 

Kembali mengingat perbuatan cab ,, ul yang beberapa menit lalu aku lakukan bersama Papa.

Aku sedikit tidak menyangka, kalau aku bisa melakukan hal tak senonoh seperti tadi bersama Papa.

Ughhhh

Aku mencolek celana dalamku yang basah.

Lalu memutar memori tentang bagaimana aku pelepasan untuk pertama kalinya. 

Pake satu jari aja enak banget tadi.

Gimana kalo gue disodok pake k0 ,, nt ,, 0l Papa yang gede itu.

Aku membasahi bibir lalu segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari cairan lengket di kedua pahaku.

Semoga saja setelah kejadian ini aku dan Papa tidak akan berubah menjadi canggung.

Ucapku dalam hati sebelum terlelap dalam mimpi.